Rabu, 26 Maret 2014

Tunas Teologi: Kissing Me-Kisah Singkat Me (Saya)

Tunas Teologi: Kissing Me-Kisah Singkat Me (Saya): Di siang itu, terlihat langit begitu berawan. Sepulang sekolah saya segera pergi kerumah kos teman saya. Dengan uang yang pas-pasan say...

Kissing Me-Kisah Singkat Me (Saya)



Di siang itu, terlihat langit begitu berawan. Sepulang sekolah saya segera pergi kerumah kos teman saya. Dengan uang yang pas-pasan saya memberanikan diri pergi kerumah kosnya yang cukup jauh itu, dengan harapan saya akan membawa uang pinjaman dari tempat itu.
“Pinggir ya pak” saya segera turun dari angkot yang berwarna putih dengan garis-garis merah itu.
Dengan langkah yang harap-harap cemas saya menapaki sebuah gang menuju rumah kos teman saya itu.“guk....guk...guk” terdengar suara anjing yang menggongong ketika saya tiba di depan rumah kos itu. Saya pun ketakutan masuk ke dalam, saya hanya berdiam di depan gerbang rumah yang cukup mewah itu. Sejenak saya hanya terdiam. Saya bingung harus berbuat apa, hp tidak punya, dan tak ada seorang pun yang nampak keluar dari rumah itu. Rumah-rumah di sekitarnya pun tampak tak berpenghuni.
“Yana....” teriak saya memanggil nama teman saya.
“Yana....” saya mengulangi teriakan saya. Saya juga tak ingin berputus asa, saya mengulangi teriakan saya untuk kesekian kalinya, akan tetapi untuk kesekian kalinya juga tak ada balasan dari rumah tersebut. Saya menarik nafas sejenak. Saya kembali memanggil-manggil nama yang sama, bahkan dengan suara yang lebih keras dan lebih keras lagi untuk beberapa kali panggilan. Namun tetap saja tak ada jawaban dari rumah itu. Saya kembali terdiam. Tiba-tiba titik-titik air mulai membasahi wajah saya. Hujan mengguyur kota pendidikan ini, begitu mereka menyebut kota ini. Saya segera berlindung kebawah sebuah pohon mangga yang tumbuh di depan rumah tersebut. Hujan itu mulai lebat, saya hanya berdiam di bawah pohon tersebut, saya memutuskan untuk menunggu teman saya itu, karena jika ingin pulang saya juga tidak punya uang lagi. Saya hanya diam di bawah pohon itu, wajah saya yang sudah diguyur hujan lebat juga kembali diguyur airmata yang cukup deras. Perlahan-lahan hujan itu pun berhenti, saya merasa kedinginan, baju saya sudah basah  kuyup membuat tubuh saya semakin dingin. Saya tidak berputus asa, saya kembali memanggil teman saya itu, dengan panggilan yang cukup lama saya juga masih belum mendapatkan jawaban dari dalam rumah tersebut. Rambut saya kini  sudah mulai mengering, tapi masih dengan posisi yang sama dan keadaan yang sama, belum ada jawaban dari rumah tersebut. Saya kembali diam. Saya mengangkat kaki saya dan beranjak menapaki gang menuju jalan raya. Dengan langkah-langkah yang begitu kecewa dan lemah saya terduduk di bawah pohon pinggir jalan raya. Saya sudah kehabisan semangat dan akal, saya sudah tidak tahu berbuat apa-apa lagi. Saya membuka tas saya, tak ada sepeser pun uang di dalam tas saya. Perut saya juga terasa lapar karena saya memang belum makan. Air mata saya juga sepertinya telah habis menangisi situasi yang bodoh ini. Mata saya pun melirik seorang ibu dengan gerobaknya yang ada di depan sebuah kedai. Gerobak itu berisi mie, tahu isi, bakwan, dan beberapa gorengan yang membuat perut saya semakin lapar dan sangat lapar. Saya melihat beberapa orang membeli mie dan gorengan. Kepala saya pun dipenuhi fantasi-fantasi khayalan, saya berkhayal pergi ke depan gerobak dan sang penjual memberi saya makanan dengan gratis karena kasihan pada saya. Fantasi kedua pun kembali datang, saya ketempat tukang kedai, dan tukang kedai kasihan pada saya dan memberi saya uang. Dan  fantasi ke tiga, seseorang yang saya kenal tiba-tiba  lewat dan melihat saya, kemudian memberikan saya uang. Fantasi-fantasi itu hanya berputar-putar dan  bersarang di kepala saya. Sementara hari sudah semakin gelap, saya hanya terdiam di tempat duduk di bawah pohon itu. Angkot-angkot berlewatan dan saling berpapasan satu sama lain, ada yang menuju pusat kota, ada juga yang menuju ke pinggiran kota. Banyak juga mobil pribadi yang lewat dan sepeda motor dengan berbagai merk dan warna-warna yang berbeda-beda. Tiba-tiba fantasi-fantasi di kepala saya buyar melihat seorang laki-laki memakai baju kaus rilis-rilis hitam putih dengan sebuah helm hitam yang menutup kepalanya berhenti di depan saya dengan sepeda motor revonya berwarna hitam merah. Laki-laki itu mengangkat hpnya dan berbicara dengan begitu leluasa di depan saya.
“Bang..” saya memanggil abang itu segera setelah dia mematikan hpnya.
“Iya....” abang itu menjawab dengan sedikit agak bingung.
“Bang, abang mau ke kota?”
“Iya dek”
“Bang, saya bisa numpang sama abang ke kota, saya tidak punya uang untuk ongkos bang”
Ia terdiam sejenak. Pastinya ia bingung, mungkin sambil bergumam dalam hati “malang nian ni cewek” namun akhirnya ia berikan jawaban.
“Bisa dek, tapi sampai megaland aja ya dek, kau tidak bisa ke kota karena tidak punya helm” jawab abang itu. Jawaban itu melegakan hati saya. Saya segera naik ke kereta revo warna hitam merah itu.
Sepanjang perjalanan, abang itu hanya bertanya dimana tempat tinggal dan sekolah saya. Lalu terdiam. Saya pun hanya diam, saya tidak berani bertanya abang itu siapa dan tinggal dimana. Hanya bisa diam. Hingga kami tiba di Megaland, saya pun turun.
“Terimakasih banyak ya bang”
“Bremm..” suara sepeda motor itu seakan-akan menjadi perwakilan atas jawaban abang itu, yang mungkin bingung dan hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, siapakah gerangan cewek malang ini?. Sepeda motor itu melaju dengan begitu cepat dan menghilang dari pandangan saya. Turun di Megaland, sebuah perumahan mewah di kota ini masih cukup jauh dari pusat kota, membuat saya harus kembali menempuh perjalanan panjang hingga saya tiba di kos saya, mungkin sekitar 2-3 km lagi. Gemerlapan lampu-lampu sudah menyala di sepanjang jalan, hal ini menunjukkan hari mulai gelap. Saya pun semakin mempercepat langkah-langkah kaki saya. Rasa lapar saya yang berat tadi juga tidak lagi cukup untuk menghalangi langkah kaki saya. Saya hanya ingin segera sampai. Perjalanan itu akhirnya berakhir dengan sebuah malam yang sudah ramai di perkotaan. Setibanya di kos, saya segera mengganti baju dan duduk di teras rumah dengan sebuah buku dan pulen di tangan saya. Saya hanya bisa terdiam duduk di sudut teras rumah kos. Saya menatap hari yang gelap dengan lampu-lampu kota yang menyala.

Manusia-Dalam Dogma Kristen



MANUSIA

(Siapakah manusia itu?, Manusia dan Kebudayaan, Kesetaraan Gender; Relasi manusia)
I.                                 Pendahuluan
Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang paling mulia, hal ini terlihat dari nafas yang dihembuskan Allah ke dalam hidung manusia pada saat penciptaannya. Dan Allah memberikan kepercayaan kepada manusia untuk berkuasa atas bumi serta menaklukkannya, Namun ternyata setelah manusia jatuh ke dalam dosa manusia tidak lagi hidup sesuai dengan kehendak Allah. Manusia tidak lagi memiliki relasi yang baik dengan Allah, sesamanya, dan lingkungannya. Pada kesempatan ini, penyaji akan mencoba memaparkan siapakah sebenarnya manusia yang diciptakan Allah dan bagaimana sebenarnya manusia yang berbudaya, kesetaraan gender, serta hubungannya dengan sesamanya maupun lingkungannya. 

II.                              Pembahasan
2.1  Siapakah manusia itu?
Siapakah manusia itu? pertanyaan ini hanya bisa di jawab oleh Allah sendiri. Sebab manusia adalah ciptaan Allah. Sebagai ciptaan Allah ia tidak sama dengan Allah.[1] Namun dasar untuk memahami siapa manusia adalah firman Allah itu sendiri, sebab manusia ada bukan dari dirinya sendiri, tetapi ada karena dijadikan oleh Allah karena itu Allahlah yang mengetahui siapa manusia.[2] Di dalam penciptaan, tindakan Allah yang kreatif mencapai puncaknya pada hari keenam dengan penciptaan manusia. Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Kej 1:26). Ungkapan “gambar Allah” muncul tiga kali di dalam perjanjian lama (Kej 1:26-27; Kej 5:1-3; Kej 9:5-6).[3]
Dalam ayat 26 Allah menyatakan tahap perencanaan, dan realisasinya pada ayat 27 (Kej 1:27: “maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka). Erickson mengelompokkan berbagai pendapat soal itu kepada tiga pandangan, yakni substatif, relatif, dan fungsional. Kelompok substatif memakai gambar Allah sebagai sesuatu yang jasmaniah. Pandangan ini memahami bahwa sebagai sesuatu yang ada yang bersifat jasmaniah atau batiniah yang terdapat dalam diri Allah, jadi gambar Allah adalah sesuatu yang terdapat dalam diri manusia. Kelompok fungsional memaknai gambar Allah sebagai suatu fungsi yang harus dilaksanakan manusia. Dan kelompok relatif memaknai gambar Allah sebagai keterikatan manusia dengan asal-usulnya (Allah/sorga) dalam suatu hubungan atau relasi.[4]

2.1.1                Pandangan mengenai Gambar dan Rupa Allah
Ada beberapa pandangan mengenai gambar dan rupa Allah, yaitu:
·         Athanasius  mencari gambar Allah itu dalam keadaan manusia sebagai orang yang berakal budi
·         Augustinus mengatakan dalam tiga kesanggupan batin yang menurut dia mencerminkan hakekat daripada Allah yang tritunggal, yakni ingatan, akal budi, dan kasih.[5]
·         Origenes mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar Allah dalam arti bahwa ia memiliki tabiat yang berakal, dengan maksud supaya manusia, dengan melalui ketaatan, menjadi serupa dengan Allah.
·         Irenaeus mengajarkan bahwa ia adalah makhluk yang berakal, yang serupa dengan Allah.
·         GKR mengatakan bahwa gambar Allah menjadikan manusia memiliki religi (Agama) dan memiliki kebajikan yang adikodrati serta menjadikan dia dicadangkan bagi sorga.
·         Luther berpendapat bahwa yang menjadi gambar Allah yang hakiki dan yang substansial adalah Tuhan Yesus Kristus. Manusia memilki gambar Allah bukan secara hakiki.
·         Calvinis mengatakan yang dimaksud dengan gambar (tselem) adalah hakekat manusia yang tidak dapat dirubah, dan rupa (demuth) adalah sifat manusia yang dapat berubah. [6]

2.1.2        Kerusakan gambar Allah setelah manusia jatuh ke dalam dosa
·                   Pandangan GKR
GKR mengatakan bahwa manusia, setelah jatuh ke dalam dosa memang kehilangan gambar Allah, akan tetapi manusia tetap manusia yang memiliki akal dan kehendak yang baik, yang masih memiliki perikemanusiaan.[7] Itu artinya pada manusia masih terdapat niat dan sifat baik atau sesuatu yang baik, yakni suatu syarat yang memungkinkannya  untuk mengupayakan keselamatannya setelah mendapat rahmat Allah.   
·                   Pandangan Protestan
Luther menjelaskan bahwa Kejadian 1:26, gambar dan rupa Allah memiliki arti yang sama, oleh karena itu gambar Allah hilang sama sekali dan hanya dapat dipulihkan melalui kelahiran kembali oleh Roh Kudus.[8] Hal ini berarti bahwa manusia telah ada dalam kuasa dosa sehingga tidak ada sesuatu apapun yang baik di dalam manusia yang memungkinnya untuk bangkit mengupayakan keselamatannya. Manusia selamat hanya karena diselamatkan dan manusia tidak punya kuasa atas hal itu namun hanya karena karya keselamatan yang diberikan oleh Allah semata-mata.

2.1.3        Unsur-unsur penciptaan manusia
Kejadian 2:7 :” Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”.  Dari ayat ini jelas dikatakan bahwa manusia diciptakan dari debu tanah, yang ke dalamnya dihembuskan nafas hidup.
Manusia dijadikan dari debu tanah (sebagai adam dan adamah, kata Ibrani untuk tanah; Kej 2:7; Pkh 3: 20; mzm 89:48), pada hari keenam, sama dengan binatang sehingga ia bertubuh. Tulang dan daging yang berselimutkan kulit (Ayub 10:11; Yeh 37:8), inilah manusia sebagai tubuh.[9] Di tempat lain dipakai kata “daging” atau basar untuk  menyebut tubuh manusia itu. kata basar ini di dalam bahasa Yunani adalah sarx. Dapat dikatakan, bahwa yang dimaksud dengan debu tanah atau daging pertama-tama adalah tubuh atau badan manusia, bentuk atau penampakan manusia yang lahiriah, segi yang keduniawian atau segi kodrati manusia yang menjadikan manusia berbeda sekali dengan Allah. Debu tanah  atau daging terbataslah hidupnya, dapat rusak ( Yes 31:3) dan oleh karenanya juga lemah (mzm 56:5; 78:31). Demikianlah debu tanah dan daging tidak memiliki hidup di dalam dirinya sendiri. Debu tanah dan daging hanya dapat hidup selama Tuhan Allah memberikan hidup kepadanya (Kej 6: 1,3).[10] Secara rohaniah daging atau kedagingan atau hawa nafsu, keinginan daging (Rm 8:6-7;Gal 5:16-17). Oleh sebab itu berdasarkan kapasitas ini (unsur tanah) tidak ada perbedaan antara manusia dengan binatang. Maka yang menjadi pertanyaan, hal apa yang menjadi perbedaan antara manusia dengan binatang ? perbedaannya ialah unsur “Nafas Hidup “ yang dihembuskan Allah ke dalam hidung manusia (Kej 2:7). Nafas hidup ini menyatakan kehidupan roh Allah di dalam manusia, dalam kejadian 6:3 di katakan: “Berfirmanlah Tuhan rohKu tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging…” secara rohaniah dipahami bahwa roh memiliki kehendak (Yoh 14:26; bnd Rm 8:6-7; Gal 5:16-17), (Yoh 16:8,13) secara sederhana dapat dipahami bahwa rohlah yang memampukan manusia untuk “hidup sadar” dan “sadar” akan hidupnya. kesadarannya sebagi manusia terletak pada kehadiran roh Allah di dalam dirinya.[11]
Ada tiga peristiwa yang dapat diangkat pada proses peristiwa penciptaan manusia yaitu:
1. Bahan dasar  : Debu tanah (Material)
Segala makhluk hidup berasal atau diciptakan dari debu tanah. Manusia, binatang, dan tumbuhan diciptakan dari tanah. Namun apa yang menjadi perbedaan ketiganya, manusia diciptakan dengan cara dibentuk dan manusia dihembuskan nafas Allah (Kej 2:7) demikian juga halnya dengan binatang, dibentuk dari tanah (Kej 2 :19), akan tetapi berbeda dengan tumbuhan, tumbuhan tidak dibentuk namun tetap berasal dari tanah atau tanah yang menumbuhkan (Kej 1:11-13). Tanah merupakan asal mula semua yang hidup. Tanah juga merupakan tempat tinggal semua yang hidup, dan tanah merupakan sumber kehidupan (makanan) untuk semua makhluk yang hidup. Oleh karena itu manusia harus memiliki relasi yang baik dengan Allah, sesamanya dan lingkungannya.
2. Penugasan atau mandat yang diserahkan Allah (Fungsional)
Kej 2 :15 “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” dari ayat Allah memberikan manusia tugas untuk mengusahai dan memelihara taman tersebut (tanah yang merupakan asal mula yang hidup). Dari hal ini kita dapat bertolak, dan menyadari bahwa manusia seperti apakah sebenarnya dikehendaki Allah.
3. Alat kerja: Nafas (Substansial)
Dalam Kej 2:7, Allah memberi manusia alat yaitu nafas hidup/Allah (Roh Allah). Apa yang terkandung dalam nafas Allah? Allah sumbe segala sesuatu, penyebab segala sesuatu, nafas yang dihembuskan pada manusia adalah nafas pencipta yaitu daya cipta, dengan demikian alat kerja yang diberikan pada kita adalah kreasi, atau budaya. Kenapa Allah memberikan kita kemampuan untuk mencipta? Allah memberikan kebudayaan kepada kita untuk mengusahai dan memelihara lingkungan yang sudah ditugaskan kepada kita.        
Maka saya sebagi penyaji menyimpulkan jawaban atas pertanyaan siapakah manusia itu? Jawabannya adalah yang diciptakan oleh Allah menurut gambar dan rupaNya , dimana di dalam diri manusia tersebut terdapat unsur daging dan nafas Allah. Dan manusia tersebut akan disebut manusia jika roh Allah hadir di dalam dirinya sehingga ia sadar akan hidupnya hanya bergantung pada Allah.   
               
2.2  Manusia dan Kebudayaan
 Manusia adalah makhluk yang berbudaya. Hampir semua hal yang menyangkut tingkah laku manusia ditentukan oleh budaya seperti cara makan, cara berkomunikasi, cara bekerja, cara tertawa, cara bersalaman, semua ini ditentukan oleh budaya. Melalui kebudayaan manusia secara aktif mengerjakan dan mengelola dunia ini. Dalam Kejadian 2: 15, manusia ditempatkan dan ditugaskan oleh Allah untuk mengusahai dan mengelola taman Eden, dari ayat ini jelas bahwa manusia telah berbudaya, selain itu manusia juga diberi alat kerja untuk melakukan semua itu. Selain itu, dalam Kej 1:28, manusia disuruh untuk mengelola dunia.[12] Dimana dalam ayat tersebut juga diberi hak untuk berkuasa dan menaklukkan bumi oleh Allah. Itu artinya Allah menciptakan manusia yang berbudaya, manusia yang berolah pikir yang mampu berkarya cipta.
Firman Tuhan juga datang kepada manusia melalui bahasa, budaya dan pola pikir manusia setempat, kepada siapa firman itu ditujukan oleh Allah. Hal ini sesuai dengan tindakan keselamatan yang diperbuat Allah kepada manusia, yang berpuncak pada inkarnasi Allah. Allah menjadi manusia, ketika firman menjadi daging di dalam diri Yesus Kristus. Inkarnasi itu (in-karnos : masuk ke dalam daging) terjadi ketika Allah benar-benar menjadi Immanuel berada dan bersama-sama dengan manusia. Artinya Allah masuk ke dalam totalitas kemanusiaan, eksistensi kehidupan manusia. Itulah arti dan makna inkarnasi Allah yang seutuhnya, (bnd Fil 2:7).[13]
Manusia dan kebudayaan dalam terang anugerah rahmat Allah, dimana budaya sebagai sarana yang mendukung pembentukan kepribadian manusia, budaya sebagai ekspresi kreativitas manusia, budaya sebagai cara kemanusiaan, budaya sebagai bentuk dan struktur yang menciptakan keamanan, budaya sebagai pendukung nilai kebenaran, keindahan dan kebaikan yang relatif, budaya sebagai pengikat persekutuan masyarakat dan seterusnya, semua unsur budaya itu mencerminkan budaya Allah.[14]     
     
2.3  Kesetaraan gender
Manusia biasanya dibedakan secara sexual, sesuai dengan jenis kelamin dan dipahami sesuai dengan gender. Secara biologis, sex adalah alat kelamin manusia yang membedakan laki-laki dan perempuan. Gender adalah laki-laki dan perempuan dalam hubungannya dengan peranan dan fungsi sosial dalam kehidupan sehari-hari. Namun berabad-abad lamanya, gender dipahami sebagai klasifikasi status sosial dan identifikasi kelayakan atau kemampuan berdasarkan jenis kelamin. Pembedaan gender itu telah membudaya, maka akhirnya menumbuhkan sifat superior dan inferior. Oleh sebab itu pembedaan harkat dan martabat manusia berdasarkan gender laki-laki dan perempuan bukanlah isi dari firman Tuhan, melainkan datang dari paham patriachal yang dianut para penulisnya.[15]
Kesetaran gender secara Alkitabiah-teologis bertitik tolak dari penciptaan manusia. Gagasan penciptaan manusia adalah bagian yang tak terpisahkan dari rencana Allah. Saat rencana itu menurut Allah sudah baik, maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka (Kej 1: 27).[16] 
Tuhan Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kej 2:18). Manusia yang lain telah dijadikan selaku penolong oleh Tuhan untuk saling membantu, tolong-menolong dan bekerja sama, hormat-menghormati, manusia perempuan yang berasal dari manusia laki-laki (Kej 2:21; I kor 11:8-12) dengan maksud agar diantara keduanya tidak ada perbedaan derajat, bahwa yang satu lebih tinggi atau lebih rendah daripada yang lain. Dengan cara itu Tuhan membuat manusia menuju persekutuan, yang dimulai dari manusia pertama, laki-laki adam dan manusia perempuan hawa kemudian diteruskan kepada seluruh umat manusia.[17]
Bukan itu saja, manusia pada asalinya adalah satu, yang oleh Allah terbelah menjadi dua person: laki-laki dan perempuan. Manusia sebenarnya adalah kesatuan dari keduanya. Adam sendiri mengakukannya dalam Kej 2:22-24. Pengakuan adam ini pun berakar kuat pada firman Allah yang menyatakan, “maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka” (Kej 1:27).[18] Dalam Kejadian 2 juga dikatakan, bahwa perempuan itu dijadikan dari rusuk, yang Tuhan ambil dari adam, dengan kiasan ini Alkitab mau katakan, bahwa perempuan secara hakiki sama dengan laki-laki. Adam yang dahulu tidak komplit baru sekarang bersama-sama dengan perempuan ia komplit. Hal itu nyata dari reaksinya, waktu ia melihat perempuan ia berkata: “ inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.[19]   
   
2.4  Relasi Manusia
2.4.1        Relasi manusia dengan Allah
Hidup sebagai manusia adalah perbuatan, tindakan perbuatan kita yang menentukan rasa percaya kita kepada Allah, mengaku akan Allah. Kita sungguh menjadi manusia dalam kita berjumpa dengan Alllah. Menjadi manusia adalah hidup di dalam hadirat Allah, hidup dengan berjumpa dengan Allah. Menjadi manusia juga berarti mendengarkan firman Allah serta memberi jawabnya. Demikian manusia itu sungguh-sungguh manusia sebagai “subyek”, sebagai pribadi yang hidup di dalam Allah. Oleh sebab itulah yang dikatakan dengan sungguh-sungguh menjadi manusia mengandung arti: menjadi manusia yang hidup dalam hubungan pribadi dengan Allah.[20]
2.4.2        Relasi manusia dengan sesamanya
Sungguh –sungguh menjadi manusia adalah hidup dalam hubungan dengan sesama manusia, dalam berjumpa dengan sesama manusia. Perjumpaan ini adalah perjumpaan antara dua orang yang masing-masing menjadi subjek. Terjadinya perjumpaan yang sesungguhnya antara manusia dengan manusia dicirikan dalam empat hal yaitu:
·         Benar-benar saling berjumpa adalah dua manusia saling bertemu “mata dengan mata”. Dengan sungguh melihat kepada orang lain, menusia itu menemukan sesamanya sambil memperhatikan nasib sesamanya.
·         Benar-benar saling berjumpa adalah dua manusia saling berbicara dan saling mendengar satu sama lain.
·         Benar-benar saling berjumpa adalah bahwa  orang saling memberi pertolongan dengan perbuatan. Menjadi manusia adalah bersedia untuk menolong orang lain dan bersedia untuk ditolong orang lain.
·         Benar-benar saling berjumpa adalah bahwa kedua belah pihak dengan segenap hatinya suka berbuat apa yang sudah diterangkan dalam ketiga hal diatas yaitu: melihat, mendengar, saling memberi pertolongan.
Maka dengan kata lain, hal diatas menunjukkan kepada kita bahwa demikianlah manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah.[21]     
2.4.3        Relasi manusia dengan lingkungan
Dalam Kej 1:28, manusia disuruh untuk mengelola dunia.  Dimana dalam ayat tersebut juga diberi hak untuk berkuasa dan menaklukkan bumi oleh Allah. Itu artinya manusia harus menjaga serta merawat lingkungan (alam) yang sudah dipercayakan oleh Allah kepada manusia.
Dan hal-hal yang mencakup dalam tugas pemeliharaan itu bukan saja soal bagaimana bersosialisasi dengan sesamanya manusia atau bagaimana memperlakukan binatang atau bagaimana mengkomsumsi buah dan tumbuhan atau bagaimana menggali tambang emas, damar, batubara, dan intan melainkan bagaimana menjaga keutuhan dan keharmonisan lingkungan.   

III.                      Kesimpulan
Dari pemaparan diatas maka dapat disimpulakan bahwa  manusia adalah yang diciptakan oleh Allah menurut gambar dan rupaNya , dimana di dalam diri manusia tersebut terdapat unsur daging dan nafas Allah. Dan manusia tersebut akan disebut manusia jika roh Allah hadir di dalam dirinya sehingga ia sadar akan hidupnya hanya bergantung pada Allah. Dan manusia dikatakan sungguh-sungguh manusia jika ia memiliki relasi yang erat dengan Allah, sesamanya, serta menjaga keharmonisan lingkungannya. Manusia yang diciptakan oleh Allah adalah manusia yang berbudaya, dimana budaya tersebut merupakan anugerah dari allah sendiri.
Manusia biasanya dibedakan secara sexual, sesuai dengan jenis kelamin dan dipahami sesuai dengan gender. Kesetaran gender secara Alkitabiah-teologis bertitik tolak dari penciptaan manusia. Gagasan penciptaan manusia adalah bagian yang tak terpisahkan dari rencana Allah. Manusia yang lain (perempuan) telah dijadikan selaku penolong oleh Tuhan untuk saling membantu, tolong-menolong dan bekerja sama, dan hormat-menghormati. Dan dengan maksud agar diantara keduanya tidak ada perbedaan derajat, bahwa yang satu lebih tinggi atau lebih rendah daripada yang lain.



[1] I.L.Ch.Abineno, Manusia Dan Sesamanya Di Dalam Dunia, Jakarta: BPK-GM, 1990,  hlm. 34
[2] Pardomuan Munthe, Jadilah Kehendakmu Di Bumi seperti Di Sorga dalam Jurnal Teologi Tabernakel edisi XX Juli-Desember, Medan: STT ABDI SABDA, 2008, hlm. 42
[3] Robert Davidson, Alkitab Berbicara, Jakarta: BPK-GM, 2001, hlm. 13
[4] Jurnal Teologi Tabernakel, OP.Cit., hlm. 44
[5] G.C. Van Niftrik dan B. J. Boland, Dogmatika Masa Kini, Jakarta: BPK-GM, 2008, hlm. 140
[6] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2009, hlm. 189-190
[7] Ibid, hlm. 204
[8] Bruce Milne, Mengenali Kebenaran (Paduan iman Kristen), Jakarta: BPK-GM, 1993, hlm. 136
[9] Christop Barth. Dkk, Teologi Perjanjian Lama 1, Jakarta: BPK-GM, 2008, hlm. 32
[10] Harun hadiwijono, Op.Cit., hlm. 173-174
[11] Jurnal Teologi Tabernakel, Op.Cit., hlm. 45
[12] Arie Jan Plaisier, Manusia, Gambar Allah, Jakarta: BPK-GM, 2000, hlm. 163-164
[13] Darwin Lumbantobing, Teologi di Pasar Bebas, Pematangsiantar: L-SAPA, 2007, hlm. 328
[14] Arie Jan Plaisier, Op.Cit., hlm. 176-177
[15] Darwin Lumbantobing, Op.Cit., hlm. 307
[16] Pardomuan Munthe, Isu Gender dalam Jurnal Teologi Tabernakel edisi XXI Januari-Juni, Medan: STT ABDI SABDA, 2009, hlm. 80
[17] J.S.Siwallette, Manusia menurut Jurgen Moltmann, Jakarta: BPK-GM, 1991, hlm. 44
[18] Pardomuan Munthe, Pria Dan Wanita; Fungsi Dan Peranannya Dalam Kehidupan Bergereja Dan Bermasyarakat Dalam Jurnal Teologi Dan Tabernakel Edisi XXIII Januari-Juni, Medan: STT ABDI SABDA, 2010, hlm. 34
[19] I.L.Ch.Abineno, Op.Cit., hlm. 38
[20] G. C. Van Niftrik dan B.J. Boland, Op.Cit., hlm. 133-135
[21] Ibid, hlm. 135-139