Rabu, 26 Maret 2014

Kissing Me-Kisah Singkat Me (Saya)



Di siang itu, terlihat langit begitu berawan. Sepulang sekolah saya segera pergi kerumah kos teman saya. Dengan uang yang pas-pasan saya memberanikan diri pergi kerumah kosnya yang cukup jauh itu, dengan harapan saya akan membawa uang pinjaman dari tempat itu.
“Pinggir ya pak” saya segera turun dari angkot yang berwarna putih dengan garis-garis merah itu.
Dengan langkah yang harap-harap cemas saya menapaki sebuah gang menuju rumah kos teman saya itu.“guk....guk...guk” terdengar suara anjing yang menggongong ketika saya tiba di depan rumah kos itu. Saya pun ketakutan masuk ke dalam, saya hanya berdiam di depan gerbang rumah yang cukup mewah itu. Sejenak saya hanya terdiam. Saya bingung harus berbuat apa, hp tidak punya, dan tak ada seorang pun yang nampak keluar dari rumah itu. Rumah-rumah di sekitarnya pun tampak tak berpenghuni.
“Yana....” teriak saya memanggil nama teman saya.
“Yana....” saya mengulangi teriakan saya. Saya juga tak ingin berputus asa, saya mengulangi teriakan saya untuk kesekian kalinya, akan tetapi untuk kesekian kalinya juga tak ada balasan dari rumah tersebut. Saya menarik nafas sejenak. Saya kembali memanggil-manggil nama yang sama, bahkan dengan suara yang lebih keras dan lebih keras lagi untuk beberapa kali panggilan. Namun tetap saja tak ada jawaban dari rumah itu. Saya kembali terdiam. Tiba-tiba titik-titik air mulai membasahi wajah saya. Hujan mengguyur kota pendidikan ini, begitu mereka menyebut kota ini. Saya segera berlindung kebawah sebuah pohon mangga yang tumbuh di depan rumah tersebut. Hujan itu mulai lebat, saya hanya berdiam di bawah pohon tersebut, saya memutuskan untuk menunggu teman saya itu, karena jika ingin pulang saya juga tidak punya uang lagi. Saya hanya diam di bawah pohon itu, wajah saya yang sudah diguyur hujan lebat juga kembali diguyur airmata yang cukup deras. Perlahan-lahan hujan itu pun berhenti, saya merasa kedinginan, baju saya sudah basah  kuyup membuat tubuh saya semakin dingin. Saya tidak berputus asa, saya kembali memanggil teman saya itu, dengan panggilan yang cukup lama saya juga masih belum mendapatkan jawaban dari dalam rumah tersebut. Rambut saya kini  sudah mulai mengering, tapi masih dengan posisi yang sama dan keadaan yang sama, belum ada jawaban dari rumah tersebut. Saya kembali diam. Saya mengangkat kaki saya dan beranjak menapaki gang menuju jalan raya. Dengan langkah-langkah yang begitu kecewa dan lemah saya terduduk di bawah pohon pinggir jalan raya. Saya sudah kehabisan semangat dan akal, saya sudah tidak tahu berbuat apa-apa lagi. Saya membuka tas saya, tak ada sepeser pun uang di dalam tas saya. Perut saya juga terasa lapar karena saya memang belum makan. Air mata saya juga sepertinya telah habis menangisi situasi yang bodoh ini. Mata saya pun melirik seorang ibu dengan gerobaknya yang ada di depan sebuah kedai. Gerobak itu berisi mie, tahu isi, bakwan, dan beberapa gorengan yang membuat perut saya semakin lapar dan sangat lapar. Saya melihat beberapa orang membeli mie dan gorengan. Kepala saya pun dipenuhi fantasi-fantasi khayalan, saya berkhayal pergi ke depan gerobak dan sang penjual memberi saya makanan dengan gratis karena kasihan pada saya. Fantasi kedua pun kembali datang, saya ketempat tukang kedai, dan tukang kedai kasihan pada saya dan memberi saya uang. Dan  fantasi ke tiga, seseorang yang saya kenal tiba-tiba  lewat dan melihat saya, kemudian memberikan saya uang. Fantasi-fantasi itu hanya berputar-putar dan  bersarang di kepala saya. Sementara hari sudah semakin gelap, saya hanya terdiam di tempat duduk di bawah pohon itu. Angkot-angkot berlewatan dan saling berpapasan satu sama lain, ada yang menuju pusat kota, ada juga yang menuju ke pinggiran kota. Banyak juga mobil pribadi yang lewat dan sepeda motor dengan berbagai merk dan warna-warna yang berbeda-beda. Tiba-tiba fantasi-fantasi di kepala saya buyar melihat seorang laki-laki memakai baju kaus rilis-rilis hitam putih dengan sebuah helm hitam yang menutup kepalanya berhenti di depan saya dengan sepeda motor revonya berwarna hitam merah. Laki-laki itu mengangkat hpnya dan berbicara dengan begitu leluasa di depan saya.
“Bang..” saya memanggil abang itu segera setelah dia mematikan hpnya.
“Iya....” abang itu menjawab dengan sedikit agak bingung.
“Bang, abang mau ke kota?”
“Iya dek”
“Bang, saya bisa numpang sama abang ke kota, saya tidak punya uang untuk ongkos bang”
Ia terdiam sejenak. Pastinya ia bingung, mungkin sambil bergumam dalam hati “malang nian ni cewek” namun akhirnya ia berikan jawaban.
“Bisa dek, tapi sampai megaland aja ya dek, kau tidak bisa ke kota karena tidak punya helm” jawab abang itu. Jawaban itu melegakan hati saya. Saya segera naik ke kereta revo warna hitam merah itu.
Sepanjang perjalanan, abang itu hanya bertanya dimana tempat tinggal dan sekolah saya. Lalu terdiam. Saya pun hanya diam, saya tidak berani bertanya abang itu siapa dan tinggal dimana. Hanya bisa diam. Hingga kami tiba di Megaland, saya pun turun.
“Terimakasih banyak ya bang”
“Bremm..” suara sepeda motor itu seakan-akan menjadi perwakilan atas jawaban abang itu, yang mungkin bingung dan hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, siapakah gerangan cewek malang ini?. Sepeda motor itu melaju dengan begitu cepat dan menghilang dari pandangan saya. Turun di Megaland, sebuah perumahan mewah di kota ini masih cukup jauh dari pusat kota, membuat saya harus kembali menempuh perjalanan panjang hingga saya tiba di kos saya, mungkin sekitar 2-3 km lagi. Gemerlapan lampu-lampu sudah menyala di sepanjang jalan, hal ini menunjukkan hari mulai gelap. Saya pun semakin mempercepat langkah-langkah kaki saya. Rasa lapar saya yang berat tadi juga tidak lagi cukup untuk menghalangi langkah kaki saya. Saya hanya ingin segera sampai. Perjalanan itu akhirnya berakhir dengan sebuah malam yang sudah ramai di perkotaan. Setibanya di kos, saya segera mengganti baju dan duduk di teras rumah dengan sebuah buku dan pulen di tangan saya. Saya hanya bisa terdiam duduk di sudut teras rumah kos. Saya menatap hari yang gelap dengan lampu-lampu kota yang menyala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar