Di
siang itu, terlihat langit begitu berawan. Sepulang sekolah saya segera pergi
kerumah kos teman saya. Dengan uang yang pas-pasan saya memberanikan diri pergi
kerumah kosnya yang cukup jauh itu, dengan harapan saya akan membawa uang
pinjaman dari tempat itu.
“Pinggir
ya pak” saya segera turun dari angkot yang berwarna putih dengan garis-garis
merah itu.
Dengan
langkah yang harap-harap cemas saya menapaki sebuah gang menuju rumah kos teman
saya itu.“guk....guk...guk” terdengar suara anjing yang menggongong ketika saya
tiba di depan rumah kos itu. Saya pun ketakutan masuk ke dalam, saya hanya
berdiam di depan gerbang rumah yang cukup mewah itu. Sejenak saya hanya
terdiam. Saya bingung harus berbuat apa, hp tidak punya, dan tak ada seorang
pun yang nampak keluar dari rumah itu. Rumah-rumah di sekitarnya pun tampak tak
berpenghuni.
“Yana....”
teriak saya memanggil nama teman saya.
“Yana....”
saya mengulangi teriakan saya. Saya juga tak ingin berputus asa, saya
mengulangi teriakan saya untuk kesekian kalinya, akan tetapi untuk kesekian
kalinya juga tak ada balasan dari rumah tersebut. Saya menarik nafas sejenak.
Saya kembali memanggil-manggil nama yang sama, bahkan dengan suara yang lebih
keras dan lebih keras lagi untuk beberapa kali panggilan. Namun tetap saja tak
ada jawaban dari rumah itu. Saya kembali terdiam. Tiba-tiba titik-titik air
mulai membasahi wajah saya. Hujan mengguyur kota pendidikan ini, begitu mereka
menyebut kota ini. Saya segera berlindung kebawah sebuah pohon mangga yang
tumbuh di depan rumah tersebut. Hujan itu mulai lebat, saya hanya berdiam di
bawah pohon tersebut, saya memutuskan untuk menunggu teman saya itu, karena
jika ingin pulang saya juga tidak punya uang lagi. Saya hanya diam di bawah
pohon itu, wajah saya yang sudah diguyur hujan lebat juga kembali diguyur
airmata yang cukup deras. Perlahan-lahan hujan itu pun berhenti, saya merasa
kedinginan, baju saya sudah basah kuyup
membuat tubuh saya semakin dingin. Saya tidak berputus asa, saya kembali
memanggil teman saya itu, dengan panggilan yang cukup lama saya juga masih
belum mendapatkan jawaban dari dalam rumah tersebut. Rambut saya kini sudah mulai mengering, tapi masih dengan
posisi yang sama dan keadaan yang sama, belum ada jawaban dari rumah tersebut.
Saya kembali diam. Saya mengangkat kaki saya dan beranjak menapaki gang menuju
jalan raya. Dengan langkah-langkah yang begitu kecewa dan lemah saya terduduk
di bawah pohon pinggir jalan raya. Saya sudah kehabisan semangat dan akal, saya
sudah tidak tahu berbuat apa-apa lagi. Saya membuka tas saya, tak ada sepeser
pun uang di dalam tas saya. Perut saya juga terasa lapar karena saya memang
belum makan. Air mata saya juga sepertinya telah habis menangisi situasi yang
bodoh ini. Mata saya pun melirik seorang ibu dengan gerobaknya yang ada di
depan sebuah kedai. Gerobak itu berisi mie, tahu isi, bakwan, dan beberapa
gorengan yang membuat perut saya semakin lapar dan sangat lapar. Saya melihat
beberapa orang membeli mie dan gorengan. Kepala saya pun dipenuhi
fantasi-fantasi khayalan, saya berkhayal pergi ke depan gerobak dan sang
penjual memberi saya makanan dengan gratis karena kasihan pada saya. Fantasi
kedua pun kembali datang, saya ketempat tukang kedai, dan tukang kedai kasihan
pada saya dan memberi saya uang. Dan
fantasi ke tiga, seseorang yang saya kenal tiba-tiba lewat dan melihat saya, kemudian memberikan
saya uang. Fantasi-fantasi itu hanya berputar-putar dan bersarang di kepala saya. Sementara hari
sudah semakin gelap, saya hanya terdiam di tempat duduk di bawah pohon itu.
Angkot-angkot berlewatan dan saling berpapasan satu sama lain, ada yang menuju
pusat kota, ada juga yang menuju ke pinggiran kota. Banyak juga mobil pribadi
yang lewat dan sepeda motor dengan berbagai merk dan warna-warna yang
berbeda-beda. Tiba-tiba fantasi-fantasi di kepala saya buyar melihat seorang
laki-laki memakai baju kaus rilis-rilis hitam putih dengan sebuah helm hitam
yang menutup kepalanya berhenti di depan saya dengan sepeda motor revonya
berwarna hitam merah. Laki-laki itu mengangkat hpnya dan berbicara dengan
begitu leluasa di depan saya.
“Bang..”
saya memanggil abang itu segera setelah dia mematikan hpnya.
“Iya....”
abang itu menjawab dengan sedikit agak bingung.
“Bang,
abang mau ke kota?”
“Iya
dek”
“Bang,
saya bisa numpang sama abang ke kota, saya tidak punya uang untuk ongkos bang”
Ia
terdiam sejenak. Pastinya ia bingung, mungkin sambil bergumam dalam hati
“malang nian ni cewek” namun akhirnya ia berikan jawaban.
“Bisa
dek, tapi sampai megaland aja ya dek, kau tidak bisa ke kota karena tidak punya
helm” jawab abang itu. Jawaban itu melegakan hati saya. Saya segera naik ke
kereta revo warna hitam merah itu.
Sepanjang
perjalanan, abang itu hanya bertanya dimana tempat tinggal dan sekolah saya.
Lalu terdiam. Saya pun hanya diam, saya tidak berani bertanya abang itu siapa dan
tinggal dimana. Hanya bisa diam. Hingga kami tiba di Megaland, saya pun turun.
“Terimakasih
banyak ya bang”
“Bremm..” suara sepeda motor itu seakan-akan menjadi
perwakilan atas jawaban abang itu, yang mungkin bingung dan hanya bisa
bertanya-tanya dalam hati, siapakah gerangan cewek malang ini?. Sepeda motor
itu melaju dengan begitu cepat dan menghilang dari pandangan saya. Turun di
Megaland, sebuah perumahan mewah di kota ini masih cukup jauh dari pusat kota,
membuat saya harus kembali menempuh perjalanan panjang hingga saya tiba di kos
saya, mungkin sekitar 2-3 km lagi. Gemerlapan lampu-lampu sudah menyala di
sepanjang jalan, hal ini menunjukkan hari mulai gelap. Saya pun semakin
mempercepat langkah-langkah kaki saya. Rasa lapar saya yang berat tadi juga
tidak lagi cukup untuk menghalangi langkah kaki saya. Saya hanya ingin segera
sampai. Perjalanan itu akhirnya berakhir dengan sebuah malam yang sudah ramai
di perkotaan. Setibanya di kos, saya segera mengganti baju dan duduk di teras
rumah dengan sebuah buku dan pulen di tangan saya. Saya hanya bisa terdiam
duduk di sudut teras rumah kos. Saya menatap hari yang gelap dengan lampu-lampu
kota yang menyala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar