Seperti
biasa, hari sabtu itu, hari dimana ibu berangkat ke pasar untuk berjualan.
Sedikit bebas untuk bermain karena tidak akan berangkat dan melakukan pekerjaan
di ladang. Duduk diteras rumah disiang itu melayangkan pandangan saya ke jalan,
dengan jarak sekitar 30 meter dari rumah. Melihat mereka-mereka yang lewat
begitu saja. Pandangan itu pun sedikit
merusak suasana hati ketika melihat ketiga anak berpakaian cukup rapi lewat
dari jalanan itu. Terdiam dan teringat akan sebuah keinginan. “Bahasa Inggris”.
Ketiga anak itu adalah teman. Mereka berangkat menuju tempat les bahasa Inggris.
Saya masih terdiam memperhatikan langkah-langkah mereka begitu saja. Hati saya
sedikit terusik, ingin sekali ikut dengan mereka, seandainya bisa. Saya tahu
ibu tidak akan mengijinkan. Kegelisahan itu cukup membuat saya terganggu.
Dengan segera saya melangkahkan kaki saya ke dalam rumah. Saya duduk terdiam.
Tidak begitu lama saya bangkit kembali menuju teras. Pandangan saya tertuju
kembali kejalanan panjang itu. Tanpa pikir panjang saya meraih sebuah sepeda
yang terletak di samping rumah. Rasa gelisah itu ternyata berhasil menyalakan
rasa penasaran dan nekat, saya pergi mengikuti teman-teman yang ikut les dengan
mengayuh sebuah sepeda tanpa lelah. Kini kaki saya berhenti mengayuh, saya
berhenti di depan sebuah gereja. Saya melihat teman-teman saya masuk ke dalam
sebuah rumah yang ada di samping gereja. Saya terdiam sejenak, kemudian dengan
sangat hati-hati sepeda saya dorong hingga sampai di samping rumah tersebut.
“Apa yang harus kulakukan disini” pikirku
dalam hati.
Pandangan
saya kian kesana-kemari, sedikit bingung harus berbuat apa. Dengan langkah yang
sedemikian pelan, melangkahkan kaki layaknya seorang pencuri, saya berjalan
menuju sebuah jendela rumah itu. Ternyata tubuh saya yang cukup pendek tidak
cukup menggapai jendela untuk melihat mereka. Mata saya kembali kesana-kemari
mencari sebuah batu atau sesuatu yang dapat saya gunakan sebagai pijakan.
“Hmm, ini tidak sulit” pikirku kembali sambil
mengangkat sebuah batu kearah jendela.
Akhirnya
saya bisa mengintip mereka dari jendela, saya melihat mereka ketika belajar.
“Ayo, anak-anak sekarang kita baca” ucap bapak
guru saat itu sambil menunjuk ke arah papan tulis.
“Prei” (cara baca untuk pray) murid-murid
mengucapkan dengan penuh semangat.
Bapak
guru mengulanginya lagi demikian murid-murid. Saya hanya diam dan perlahan
menurunkan kaki saya dari atas batu pijakan.
“Tuhan,
aku ingin belajar seperti mereka”, bisik saya dalam hati.
Masih
terdengar suara yang begitu semangat mengucapkan bahasa Inggris yang masih
terasa asing ditelinga. Saya pun kembali menaiki batu pijakan tersebut.
“Sini
masuk” tiba-tiba bapak guru sepertinya berbicara kepada saya dan ternyata
memang ia berbicara kepada saya sebab semua mata muridnya kini berbalik kearah
jendela tepat dimana saya berdiri.
Saya
terhentak.
“Sini
masuk” kata bapak yang mengajar bahasa inggris itu untuk kedua kalinya sambil
tersenyum.
“Ah, saya ketahuan sedang mengintip” pikirku
sambil melompat dari batu pijakan dan segera lari.
Saya
merasa malu. Akhirnya saya langsung pulang dengan perasaan yang sedikit sedih
dan kecewa.
“Kapan
ya, saya bisa les bahasa inggris seperti mereka?” Saya bertanya-tanya di dalam
hati hingga sepeda saya berhenti di rumah.
Tepat
pada hari sabtu berikutnya teman-teman kembali les, dan mereka membujuk-bujuk
saya untuk ikut les, godaan itu membuat saya luluh dan akhirnya saya pergi les
dengan mereka. Kini saya sudah berada di ruangan mereka, belajar bersama dengan
mereka tidak lagi mengintip dari jendela. Saya senang sekali.
“Siapa
nama kamu?” tanya bapak yang mengajar les tersebut.
“
Okta pak” jawab saya.
“Orpa”
balas bapak itu.
“Bukan
pak, Okta pak, Ok, pak, Ok..., Okta” jawab saya kembali dengan suara yang lebih
kuat dan tegas.
“Oh...Beriyanti”
ucap bapak itu sambil menulis namaku di sebuah buku.
Bapak
itu sangat baik, ia seorang pendeta. Tak terasa saya sudah les hampir 2 bulan,
pembayaran uang les pun akan segera tiba namun saya bingung karena orangtua
saya tidak tahu bahwa saya sudah mengikuti les itu, saya juga takut
memberitahukannya pada mereka, karena mereka juga tidak setuju, saya tidak tahu
betul apa alasan orangtua saya untuk tidak mengijinkan saya mengikuti les itu
namun satu hal yang saya pikirkan ketika orangtua saya tidak mengijinkan saya
les, yaitu masalah uang. Saya selalu berpikir bahwa orangtua saya tidak
mengijinkan saya les hanya gara-gara masalah uang. Hal ini membuat saya semakin
takut untuk jujur kepada orangtua saya. Akan tetapi saya juga merasa berat
untuk meninggalkan les itu, saya semakin bingung dan bimbang. Akhirnya saya
memutuskan untuk jujur kepada orangtua saya bahwa saya sudah mengikuti les
tersebut. Ibu saya marah-marah dan terus mengomel tanpa berhenti, kuping saya
terasa semakin panas mendengar omelan ibu dan mata saya juga menjadi
berkaca-kaca. Saya segera berlari menuju kamar mandi dan meneteskan air mata di
tempat itu. Setelah puas dengan tangisan itu, saya segera mencuci wajah saya
dan segera keluar dari kamar mandi. Sabtu kali ini, kami libur sekolah. Pagi
itu saya sendiri bermain sepak bola di lapangan samping rumah seperti biasa ada
kebebasan untuk bermain hari ini karena ibu ke pasar dan kami tidak keladang,
perlahan-lahan keringat saya mengalir di sekitar leher saya, muka saya mulai
merah karena terik matahari pagi. Tiba-tiba saya berhenti dan langkah kaki saya
semakin mengecil dan lambat, saya melihat teman-teman satu les saya berangkat
menuju tempat les, saya ingin sekali berteriak memanggil nama mereka satu per
satu namun saya tak kuasa karena mengingat ibu. Saya terdiam dan terpaku hanya
membiarkan mereka lewat seperti angin lalu. Saya terduduk hanya termenung.
Hampir satu jam sudah saya hanya terdiam dan termenung perlahan saya beranjak
dari tempat saya dan segera menuju rumah, saya mengambil tas dan buku-buku les.
Saya berlari dan mengambil sepeda. Dengan sekuat tenaga saya mengayuh sepeda
hingga tiba di depan rumah tempat les.
“Edukeisen
(cara baca untuk education)” ucap bapak guru, suaranya terdengar dari luar.
“Edukeisen”
murid-murid mengucapkan kata yang sama.
Hal
ini menunjukkan bahwa pelajaran telah berlangsung. Saya kembali terdiam dan
tanpa saya sadari mata saya mulai berkaca-kaca. Saya segera memutar sepeda saya
dan segera beranjak dari tempat itu, sepanjang perjalanan menuju rumah air mata
saya mengalir tak henti-hentinya. Saya bingung, apa yang harus saya lakukan.
Mulai saat itu saya tidak pernah lagi mengikuti les bahasa inggris itu.
Teman-teman satu les bertanya kepada saya, kenapa saya tidak pernah datang les,
saya hanya terdiam dan membisu. Teman-teman juga memberikan kabar bahwa bapak
guru merasa kehilangan seorang muridnya yang terbaik. Mereka mengatakan bahwa
bapak guru selalu mengatakan kalau saya adalah murid terbaiknya dan bapak guru
selalu bertanya-tanya kenapa saya tidak pernah lagi mengikuti les. Hal ini
membuat saya semakin sedih dan kadang-kadang meneteskan air mata karena
sesungguhnya saya rindu kelas bahasa inggris saya itu, saya juga rindu kepada
bapak guru, saya rindu menjadi murid terbaiknya. Saya tidak pernah bertemu
dengan beliau, bapak guru bahasa inggrisku saya merindukanmu dan didikanmu.
Sekarang
“saya bisa teori tapi tidak bisa ngomong pak”. Itulah bahasa Inggrisku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar