Rabu, 26 Maret 2014

Cerpen-Langkah Tanpa Persetujuan



Seperti biasa, hari sabtu itu, hari dimana ibu berangkat ke pasar untuk berjualan. Sedikit bebas untuk bermain karena tidak akan berangkat dan melakukan pekerjaan di ladang. Duduk diteras rumah disiang itu melayangkan pandangan saya ke jalan, dengan jarak sekitar 30 meter dari rumah. Melihat mereka-mereka yang lewat begitu saja. Pandangan itu  pun sedikit merusak suasana hati ketika melihat ketiga anak berpakaian cukup rapi lewat dari jalanan itu. Terdiam dan teringat akan sebuah keinginan. “Bahasa Inggris”. Ketiga anak itu adalah teman. Mereka berangkat menuju tempat les bahasa Inggris. Saya masih terdiam memperhatikan langkah-langkah mereka begitu saja. Hati saya sedikit terusik, ingin sekali ikut dengan mereka, seandainya bisa. Saya tahu ibu tidak akan mengijinkan. Kegelisahan itu cukup membuat saya terganggu. Dengan segera saya melangkahkan kaki saya ke dalam rumah. Saya duduk terdiam. Tidak begitu lama saya bangkit kembali menuju teras. Pandangan saya tertuju kembali kejalanan panjang itu. Tanpa pikir panjang saya meraih sebuah sepeda yang terletak di samping rumah. Rasa gelisah itu ternyata berhasil menyalakan rasa penasaran dan nekat, saya pergi mengikuti teman-teman yang ikut les dengan mengayuh sebuah sepeda tanpa lelah. Kini kaki saya berhenti mengayuh, saya berhenti di depan sebuah gereja. Saya melihat teman-teman saya masuk ke dalam sebuah rumah yang ada di samping gereja. Saya terdiam sejenak, kemudian dengan sangat hati-hati sepeda saya dorong hingga sampai di samping rumah tersebut.
 “Apa yang harus kulakukan disini” pikirku dalam hati.
Pandangan saya kian kesana-kemari, sedikit bingung harus berbuat apa. Dengan langkah yang sedemikian pelan, melangkahkan kaki layaknya seorang pencuri, saya berjalan menuju sebuah jendela rumah itu. Ternyata tubuh saya yang cukup pendek tidak cukup menggapai jendela untuk melihat mereka. Mata saya kembali kesana-kemari mencari sebuah batu atau sesuatu yang dapat saya gunakan sebagai pijakan.
 “Hmm, ini tidak sulit” pikirku kembali sambil mengangkat sebuah batu kearah jendela.  
Akhirnya saya bisa mengintip mereka dari jendela, saya melihat mereka ketika belajar.
 “Ayo, anak-anak sekarang kita baca” ucap bapak guru saat itu sambil menunjuk ke arah papan tulis.
 “Prei” (cara baca untuk pray) murid-murid mengucapkan dengan penuh semangat.
Bapak guru mengulanginya lagi demikian murid-murid. Saya hanya diam dan perlahan menurunkan kaki saya dari atas batu pijakan.
“Tuhan, aku ingin belajar seperti mereka”, bisik saya dalam hati.
Masih terdengar suara yang begitu semangat mengucapkan bahasa Inggris yang masih terasa asing ditelinga. Saya pun kembali menaiki batu pijakan tersebut.
“Sini masuk” tiba-tiba bapak guru sepertinya berbicara kepada saya dan ternyata memang ia berbicara kepada saya sebab semua mata muridnya kini berbalik kearah jendela tepat dimana saya berdiri.
Saya terhentak.
“Sini masuk” kata bapak yang mengajar bahasa inggris itu untuk kedua kalinya sambil tersenyum.
 “Ah, saya ketahuan sedang mengintip” pikirku sambil melompat dari batu pijakan dan segera lari.
Saya merasa malu. Akhirnya saya langsung pulang dengan perasaan yang sedikit sedih dan kecewa.
“Kapan ya, saya bisa les bahasa inggris seperti mereka?” Saya bertanya-tanya di dalam hati hingga sepeda saya berhenti di rumah.
Tepat pada hari sabtu berikutnya teman-teman kembali les, dan mereka membujuk-bujuk saya untuk ikut les, godaan itu membuat saya luluh dan akhirnya saya pergi les dengan mereka. Kini saya sudah berada di ruangan mereka, belajar bersama dengan mereka tidak lagi mengintip dari jendela. Saya senang sekali.
“Siapa nama kamu?” tanya bapak yang mengajar les tersebut.
“ Okta pak” jawab saya.
“Orpa” balas bapak itu.
“Bukan pak, Okta pak, Ok, pak, Ok..., Okta” jawab saya kembali dengan suara yang lebih kuat dan tegas.
“Oh...Beriyanti” ucap bapak itu sambil menulis namaku di sebuah buku.
Bapak itu sangat baik, ia seorang pendeta. Tak terasa saya sudah les hampir 2 bulan, pembayaran uang les pun akan segera tiba namun saya bingung karena orangtua saya tidak tahu bahwa saya sudah mengikuti les itu, saya juga takut memberitahukannya pada mereka, karena mereka juga tidak setuju, saya tidak tahu betul apa alasan orangtua saya untuk tidak mengijinkan saya mengikuti les itu namun satu hal yang saya pikirkan ketika orangtua saya tidak mengijinkan saya les, yaitu masalah uang. Saya selalu berpikir bahwa orangtua saya tidak mengijinkan saya les hanya gara-gara masalah uang. Hal ini membuat saya semakin takut untuk jujur kepada orangtua saya. Akan tetapi saya juga merasa berat untuk meninggalkan les itu, saya semakin bingung dan bimbang. Akhirnya saya memutuskan untuk jujur kepada orangtua saya bahwa saya sudah mengikuti les tersebut. Ibu saya marah-marah dan terus mengomel tanpa berhenti, kuping saya terasa semakin panas mendengar omelan ibu dan mata saya juga menjadi berkaca-kaca. Saya segera berlari menuju kamar mandi dan meneteskan air mata di tempat itu. Setelah puas dengan tangisan itu, saya segera mencuci wajah saya dan segera keluar dari kamar mandi. Sabtu kali ini, kami libur sekolah. Pagi itu saya sendiri bermain sepak bola di lapangan samping rumah seperti biasa ada kebebasan untuk bermain hari ini karena ibu ke pasar dan kami tidak keladang, perlahan-lahan keringat saya mengalir di sekitar leher saya, muka saya mulai merah karena terik matahari pagi. Tiba-tiba saya berhenti dan langkah kaki saya semakin mengecil dan lambat, saya melihat teman-teman satu les saya berangkat menuju tempat les, saya ingin sekali berteriak memanggil nama mereka satu per satu namun saya tak kuasa karena mengingat ibu. Saya terdiam dan terpaku hanya membiarkan mereka lewat seperti angin lalu. Saya terduduk hanya termenung. Hampir satu jam sudah saya hanya terdiam dan termenung perlahan saya beranjak dari tempat saya dan segera menuju rumah, saya mengambil tas dan buku-buku les. Saya berlari dan mengambil sepeda. Dengan sekuat tenaga saya mengayuh sepeda hingga tiba di depan rumah tempat les.
“Edukeisen (cara baca untuk education)” ucap bapak guru, suaranya terdengar dari luar.
“Edukeisen” murid-murid mengucapkan kata yang sama.
Hal ini menunjukkan bahwa pelajaran telah berlangsung. Saya kembali terdiam dan tanpa saya sadari mata saya mulai berkaca-kaca. Saya segera memutar sepeda saya dan segera beranjak dari tempat itu, sepanjang perjalanan menuju rumah air mata saya mengalir tak henti-hentinya. Saya bingung, apa yang harus saya lakukan. Mulai saat itu saya tidak pernah lagi mengikuti les bahasa inggris itu. Teman-teman satu les bertanya kepada saya, kenapa saya tidak pernah datang les, saya hanya terdiam dan membisu. Teman-teman juga memberikan kabar bahwa bapak guru merasa kehilangan seorang muridnya yang terbaik. Mereka mengatakan bahwa bapak guru selalu mengatakan kalau saya adalah murid terbaiknya dan bapak guru selalu bertanya-tanya kenapa saya tidak pernah lagi mengikuti les. Hal ini membuat saya semakin sedih dan kadang-kadang meneteskan air mata karena sesungguhnya saya rindu kelas bahasa inggris saya itu, saya juga rindu kepada bapak guru, saya rindu menjadi murid terbaiknya. Saya tidak pernah bertemu dengan beliau, bapak guru bahasa inggrisku saya merindukanmu dan didikanmu.
Sekarang “saya bisa teori tapi tidak bisa ngomong pak”. Itulah bahasa Inggrisku.         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar