Rabu, 26 Maret 2014

Sejarah Gereja-Kekristenan di Kalimantan



KEKRISTENAN DI KALIMANTAN

I.                   PENDAHULUAN
Borneo, inilah julukan untuk pulau Kalimantan pada masa Hindia-Belanda. Bangsa Eropa memulai penginjilannya di tempat ini sekitar abad ke-17 yaitu penginjilan oleh misi Katolik, akan tetapi misi ini berakhir karena terbunuhnya para penginjil yang mencoba masuk ke daerah pedalaman. Akhirnya penginjilan dimulai kembali pada abad ke-19 yaitu pada masa Hindia-Belanda. Penginjilan ini juga mengalami tantangan yang cukup berat di daerah ini. Namun dibalik tantangan tersebut Allah bekerja hingga tuaiannya sungguh banyak.
Dalam sajian ini akan dibahas kekristenan di Kalimantan dimulai dari kehadiran Portugis hingga pada masa sekarang.  

II.                PEMBAHASAN
2.1  Konteks di Kalimantan
Pulau Kalimantan terletak di sebelah utara pulau Jawa, sebelah timur Selat Malaka, sebelah barat pulau Sulawesi dan sebelah selatan Filipina. Luas pulau Kalimantan adalah 743.330 km². Pulau Kalimantan dikelilingi oleh Laut Cina Selatan di bagian barat dan utara-barat, Laut Sulu di utara-timur, Laut Sulawesi dan Selat Makassar di timur serta Laut Jawa dan Selat Karimata di bagian selatan. Sungai-sungai terpanjang di Kalimantan adalah Sungai Kapuas (1143 km) di Kalimantan Barat, Indonesia, Sungai Barito (880 km) di Kalimantan Tengah, Indonesia, Sungai Mahakam (980 km) di Kalimantan Timur, Indonesia, Sungai Rajang (562,5 km) di Serawak, Malaysia.[1]
Secara politik wilayah Kalimantan Selatan dibagi atas dua golongan penduduk. Di daerah pesisir tinggal orang – orang yang disebut orang Melayu dan menganut agama Islam. Daerah pedalaman ditempati oleh orang –orang Dayak yang beragama suku (agama Kaharingan).[2]
Secara ekonomi, orang – orang Dayak bergantung pada pedagang –pedagang dari pantai, karena itu  mereka sedapat mungkin dicegah mengadakan hubungan  langsung dengan dunia luar. Orang-orang Islamlah yang membeli hasil bumi dari orang-orang Dayak, mereka pulalah yang menjual kepada orang-orang Dayak itu segala kebutuhan sehari-hari sehingga orang-orang Dayak hidupnya sering tergantung kepada orang-orang Islam. Para penduduk ini bukan mengusahakan pertanian yang tetap melainkan mereka mengumpulkan bahan-bahan mentah atau rotan dari dalam hutan, atau mencari ladang yang letaknya jauh dari kampungnya sehingga tidak tetaplah kediaman mereka. Lagi pula suku Dayak itu terbagi-bagi atas berbagai anak suku, yang satu sama lain tidak mempunyai hubungan apa pun. Juga bahasa mereka berlainan, sehingga sering mereka tidak dapat saling mengerti. Selain itu keadaan sosial sangat buruk oleh sebab banyak orang diperbudak oleh orang-orang kaya.[3]
Masyarakat di daerah ini terbagi dua bagian, yaitu golongan yang memerintah, dan golongan budak. Kelas yang memerintah terdiri atas sultan dan keluarganya, kemudian menyusul para biokrat. Menurut adat kebiasaan Banjar, pengganti raja adalah putra mahkota yang diangkat dari putra sulung raja yang meninggal dengan permaisuri dari golongan bangsawan. Golongan bangsawan kerajaan merupakan golongan yang dihormati dalam masyarakat. Selain golongan bangsawan, golongan pedagang mempunyai kedudukan yang cukup dihargai masyarakat. Pedagang-pedagang kaya mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakat, bahkan juga pada pemerintahan kerajaan.[4]
Sebenarnya Kalimantan tak pernah mendapat perhatian yang sama seperti yang diberikan kepada pulau-pulau dan daerah-daerah yang lain di Indonesia. Daerah pedalamannya tak pernah dikunjungi hanya pantai-pantai saja yang dikenal. Dan disinilah pedagang-pedagang Islam banyak mendarat, sehingga pelabuhan-pelabuhan Kalimantan berangsur-angsur diIslamkan, sedangkan daerah pedalaman yang diduduki oleh suku-suku Dayak tetap tinggal dalam kekafirannya.[5]   

2.2. Sejarah Kekristenan di Kalimantan
2.2.1. Permulaan Kekristenan Hingga Pemberontakan Hidayat (1859)
Pekabaran injil di Kalimantan untuk pertama kalinya baru diusahakan dalam abad ke-19. Sebelum itu pada abad ke-17 misi Katolik Roma mencoba memasuki daerah Kalimantan Selatan yakni pada waktu Portugis berusaha memperoleh pangkalan-pangkalan bagi perdagangannya di daerah itu. Tetapi usaha itu gagal, tambahan pula seorang padri yang bernama Ventimiglia akhirnya dibunuh (1691), sesudah itu sejumlah penduduk kampung Dayak yang telah dikristenkannya murtad.[6] Pada tahun 1706/1707 seorang misionaris Terekat Teatin[7] tiba di Banjarmasin, dan bermaksud berkunjung ke pedalaman untuk bertemu dengan umat rekannya, Ventimiglia, tetapi beliau di bunuh di tengah jalan. Pada tahun 1712 benteng kompeni Inggris di Banjarmasin, yang pada awal abad ke-18 direbut dari orang Portugis, diserbu dan dimusnahkan oleh penduduk setempat. Pada tahun 1723 tiga misionaris diutus ke Banjarmasin untuk mencari kesempatan pergi ke pedalaman. Akan tetapi sultan melarang mereka masuk ke pedalaman, bahkan mengancam penduduk yang berani mengantar misionaris itu dengan hukuman mati.[8]
Pada tahun 1829 pendeta Medhurts yang bekerja di kalangan orang-orang Tionghoa di Batavia, mengunjungi Kalimantan Barat dan Selatan dan ia mengirim laporan tentang keadaan disana ke Eropa.[9] Pada tahun 1830, tersiarlah berita – berita mengenai pulau Kalimantan di Jerman, dengan cerita mengenai ratusan ribu suku Dayak yang masih jauh tertinggal dalam peradaban dan yang tak pernah mendengar tentang terang Injil itu. Empat tahun kemudian dalam sidang umum RMG pada tanggal 4 juni 1834, diputuskanlah untuk menjadikan pulau Kalimantan sebagai suatu daerah Pekabaran Injil yang baru. Sehingga pada tanggal 15 juli 1834, ditahbiskanlah dua orang penginjil dan kemudian diutus ke pulau Kalimantan untuk pertama kalinya yaitu Barstein dan Heyer. Pada tahun itu juga tanggal 13 Desember 1834 tibalah mereka berdua di ibukota Jakarta. Namun setibanya mereka disana mereka terpaksa harus tertahan agak lama karena menunggu ijin dari pemerintah kolonial ketika itu. Pada bulan april 1835 penginjil Heyer terpaksa kembali ke tanah airnya karena kesehatan tubuhnya tak mengijinkan dan tidak sesuai dengan iklim tropis di Indonesia. Setelah kurang lebih 6 bulan menanti, berunding dan berkonsultasi dengan pemerintah kolonial, akhirnya Barstein diijinkan juga melanjutkan perjalanannya menuju Kalimantan.[10] Ia mengadakan perjalanan yang jauh di sepanjang pantai pulau itu, dan akhirnya memilih Banjarmasin sebagai pangkalan untuk PI. Barstein sendiri menetap di kota itu melayani orang-orang Kristen setempat, yakni orang-orang Eropa dan orang-orang Indonesia dari daerah lain. Disamping itu dia bekerja ditengah-tengah orang bukan Kristen di Banjarmasin, yaitu orang-orang Tionghoa, Dayak dan Melayu hasilnya sedikit sekali. Sebagaimana biasa, orang-orang menolak terhadap pemberitaan Firman. Pernah Barstein dilarang menggunakan ruang kebaktian di gedung-gedung pemerintah karena berani mengecam kehidupan para pegawai yang kurang senonoh.[11] Dari Banjarmasin ini diadakanlah perkunjungan dan perjalanan ke pedalaman, sepanjang Sei Barito, Kahayan, Kapuas. Demikian pula kunjungan-kunjungan ke daerah lain seperti Sei Katiangan, Antaya, dan daerah Kotawaringin. Dalam perjalanannya ini, disebuah kampung bernama Gohong (Kahayan) Barstein angkat saudara dengan darah (Hangkat hampahari hatunding daha dalam bahasa Dayak) dengan kepala suku disitu. Sejak itulah Barstein dianggap sebagai saudara orang Dayak karena ia telah bertukar darah dengan kepala suku mereka.[12]
Administrasi kolonial tidak merasa senang dengan misionaris asing, tetapi pada tahun 1836 mereka memberikan izin untuk memulai pekerjaan para misionaris di Banjarmasin. Antara tahun 1834 – 1859 RMG mengutus 20 misionaris ke Kalimantan. Tetapi, banyak diantara mereka yang meninggal dunia atau harus meninggalkan pekerjaan karena alasan kesehatan, sampai awal pemberontakan Hidayat tidak pernah lebih dari 7 misionaris yang bekerja di Kalimantan.[13] Di samping itu pada tahun 1839, American Board Of Commissioners For Foreign Missions (Pekabaran Injil Methodis), memulai usaha PI di Pontianak dan sekitarnya. Tetapi berhubung dengan kesulitan bahasa dan lain-lain maka usaha itu dihentikan pada tahun 1850. Usaha yang mula-mula yang dilakukan oleh RMG untuk mendekati suku Dayak terjadilah di daerah hilir sungai Murong, Kapuas, Kahayan, dan Barito. Di tepi sungai Murong didirikan suatu stasi yaitu Bethabara, yang merupakan usaha terakhir dari pada pekabaran injil yang pertama di India ialah Danish Halische Mission. Usaha tersebut kemudian diambil alih oleh RMG pada tahun 1845. Di dekatnya itu, yakni di Palingkau pada tahun 1840 didirikanlah stasi yang kedua. Juga di hilir sungai Kahayan para Pekabar Injil mencoba mendirikan stasi-stasi. Untuk sementara waktu Gohong menjadi pusat Pekabaran Injil (1841-1845). Sejak tahun 1851 maka daerah-daerah di tepi sungai Barito juga mendapat perhatian Pekabaran Injil. Mereka juga mencoba beberapa cara lain untuk menarik perhatian penduduk Dayak itu. Salah satu jalan yang ditempuh ialah menebus budak-budak orang-orang kaya. Memang kira-kira 1100 orang Dayak dapat ditebus dan dikumpulkan dalam kampung-kampung yang baru di sekitar stasi (kampung-kampung Pandeling).[14]
Para zendeling menetap di sebuah kampung dan mereka langsung mendirikan sebuah sekolah dan mulai mengadakan kebaktian-kebaktian. Dalam segala kegiatan mereka, mereka menggunakan bahasa Dayak. Hubungan dengan anggota-anggota masyarakat kampung dipupuk juga dengan jalan kunjungan kerumah, dengan pengobatan dan dengan usaha untuk meningkatkan tarap ekonomis mereka. Secara khusus mereka berusaha untuk memasukkan cara-cara bercocok tanam yang baru. Mereka diharuskan pula mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah zending. Pemerintah bahkan melarang diadakannya upacara-upacara agama suku pada hari minggu, supaya kebaktian Kristen tidak terganggu. Memang sejumlah orang Dayak, termasuk beberapa orang kepala, berhasil dibaptis setelah waktu yang relatif singkat. Baptisan pertama berlangsung di Palingkau pada tanggal 10 April 1839 oleh Hupperts, yang kedua di bulan Oktober 1842, tetapi setelah peristiwa kedua ini, masyarakat Dayak menyatakan perang kepada orang-orang Kristen dan mereka ini murtad lagi kecuali satu orang saja, yaitu kepala Ambo (Nikodemus yang sangat disegani orang). Di kalangan suku Maanyan orang pertama yang dibaptis dibunuh dengan racun (1852), dan orang malah mencoba meracuni zendeling dan isterinya. Rakyat tidak mengakui lagi kepala mereka kalau ia masuk Kristen malah sebaliknya mereka memilih seorang kapala baru.[15]
Ketika wafatnya sultan Adam pada tahun 1857, terjadilah suatu kekecewaan besar di pihak putra mahkota pangeran Hidayat karena merasa tertipu oleh pemerintah kolonial Belanda. Karena yang diangkat menjadi sultan pengganti almarhum sultan Adam bukanlah pangeran hidayat, melainkan putra lainnya yakni pangeran  Tamjidulah, saudara tiri dari putra mahkota tersebut. Dengan kejadian ini mulai direncanakan suatu revolusi untuk mengusir kekuasan pemerintah belanda dari bumi kalimantan. Maka pada tanggal 1 mei 1859 pecahlah pemberontakan di kalangan yang menyebabkan 20 orang kulit putih mati terbunuh. Pada bulan Desember 1859, sebuah kapal Belanda di sungai Barito dapat dihancurkan dengan catatan korban kira-kira 30 orang kulit putih. Di tengah-tengah arus revolusi berdarah inilah empat orang penginjil dengan tiga orang isteri dan dua orang anak mereka ikut menjadi korban, mati dibunuh oleh tangan orang Dayak sendiri. Mereka ini adalah penginjil Roth, penginjil Weiegan dan isterinya, penginjil Kind dengan isteri beserta dua orang anak, penginjil Hofmeister dan istrinya, penginjil Klammer. mereka ini mati terbunuh di pangkalan Tanggolan, Penda Alai, dan Tamiang layang. Kejadian ini merupakan suatu cobaan yang berat bagi zendin. Sejak kejadian itu, maka pemerintah kolonial melarang semua orang kulit putih masuk kedaerah pedalaman, demikian juga untuk Pekabaran Injil. Semua para penginjil ditarik ke Banjarmasin dan dikirim kembali ke tanah airnya dan sebagian lagi memulai penginjilan di Sumatera diantara suku Batak.[16]    

2.2.2. Masa Pembangunan Kembali Hingga Berdirinya Gereja Dayak Evangelis (1866-1941)
Tujuh tahun sesudah perang Hidayat, barulah pemerintah mengijinkan para Pekabar Injil RMG bekerja kembali diluar kota Banjarmasin. Untuk sementara waktu mereka masih diharuskan menetap dekat dengan benteng-benteng Belanda. Maka mulai tahun 1866 berangsur-angsur didirikan sejumlah pos Pekabaran Injil. Yang pertama ialah Kuala Kapuas, yang letaknya strategis sebagai pintu masuk ke daerah sungai Kapuas. Begitu pula zending mendirikan pos-pos di daerah Barito di sebelah timur dan di sepanjang sungai Kahayan, Katingan dan Mentaya di sebelah barat. Pada tahun 1889 diperoleh tempat berpijak di Kuala Kuron jauh di pedalaman. Dengan demikian injil dapat dikabarkan di kalangan suku Dayak yakni: Ngaju, Maanyan, Ot Danum, dan lain-lain.[17] Tidak seberapa jauh dari Kuala Kapuas, ke sebelah hulu sungai Kapuas, oleh penginjil Hendrich pada tahun 1870, di Mandomai di buka pangkalan baru. Dengan mendirikan sebuah sekolah. Enam tahun kemudian (1872), di kuala didirikan sebuah sekolah guru oleh penginjil Hennemann dan di Mandomai sebuah gedung gereja yang besar. Selama 20 tahun Hendrich bekerja, ia membaptis lebih kurang 350 orang dari agama Kaharingan. Pada suatu konfrensi pendeta-pendeta zending tahun 1877, disetujuilah untuk membuka suatu pangkalan baru di daerah sungai Mentaya dan Katingan. Tahun 1880 Hendrich dan Branches mendirikan pangkalan di kota Sampit. Sepuluh tahun kemudian 1890, ketika perkunjungan Trom dan Alt, di bukalah daerah Kasongan yang bekerja sama dengan Klasis Amsterdam. Trom juga membuka sebuah pangkalan baru di tanah Maanyan. Trom yang begitu mengenal suku Maanyan baik sifat maupun bahasanya, kemudian menulis sebuah buku tata bahasa dan kamus Maanyan. Dalam hal ini, kemajuan dalam pekerjaan pekabaran injil di derah-daerah Dayak ini sudah mulai terlihat dengan jelas namun pada tahun 1914 Perang Dunia I mulai berlangsung, perang ini berlangsung hingga tahun 1918. Walaupun Indonesia tidak merasakan kengerian dari perang ini akan tetapi perang ini menimbulkan efek bagi Indonesia.[18]
Pada tahun 1920, akibat kekalahan Jerman di Perang Dunia I, RMG terpaksa menyerahkan lapangan kerja di Kalimantan kepada lembaga Basler Mission di Swiss.[19] Keputusan ini diambil bukan karena keputusasaan dalam hasil pekerjaan, tetapi akibat kesulitan-kesulitan keuangan yang ditimpakan oleh Perang Dunia I bagi seluruh tanah Jerman, sedangkan tuntutan pelayanan di Kalimantan juga memerlukan biaya dan tenaga yang tidak kecil. Dengan keputusan itu maka langkah-langkah pertama yang diambil adalah pengiriman penginjil-penginjil dari zending Basel yaitu: Henking, Weiler, Kuhnle, dan Huber. Tahun 1925 berangkatlah rombongan terakhir dari pekerja-pekerja Barmen untuk kembali ke tanah airnya. Zending basel juga meneruskan sekolah-sekolah yang diusahakan oleh Zending Barmen, disamping itu zending ini juga mendirikan sebuah sekolah yakni Christelijke Hollandsch-Inlandsche School di Banjarmasin. Pada tanggal 4-8 November 1930 diadakanlah sinode di Mandomai. Disinilah diletakkan dasar-dasar organisatoris bagi pertumbuhan gereja Kristen di Kalimantan. Sinode ini akhirnya menghasilkan suatu kesepakatan pendapat dan ikrar keyakinan tentang pentingnya jemaat-jemaat semuanya disatukan dalam satu ikatan gereja. Setelah itu pada tanggal 2-6 April 1935 diadakanlah sinode umum yang kedua di kuala Kapuas, dengan mengambil tempat di gedung gereja Barimba. Dalam sinode inilah dengan penuh percaya dan pengharapan, diambil keputusan untuk membulatkan diri dalam satu ikatan gereja. Sehingga tepat pada tanggal 4 April 1935 pukul 12 siang telah menerima peraturan gereja yang direncanakan itu, berdirilah secara resmi Gereja Dayak Evangelis, yang kemudian pada tanggal 24 April 1935 diakui sebagai badan hukum, menurut keputusan No. 33, Stbl. No 217 dan berkedudukan di Banjarmasin. Pada tahun ini juga, tepat pada tanggal 5 April 1935 bersamaan dengan genapnya 100 tahun penginjilan di Kalimantan, maka lulusan Sekolah Theologia Banjarmasin ditahbiskan di gedung Gereja Hampatung sebagai pendeta-pendeta pertama dari GDE yaitu: Rudolf Kiting, Eduard Dohong, Gerson Akar, Hernald Dinggang, dan Mardoius Blantan.[20]
Selain penginjilan dari RMG, sejak tahun 1930 di Kalimantan Tenggara dan Timur penginjilan juga sudah dikerjakan oleh CMA (Christian Missionary Alliance), yang memakai nama Kemah Injil Gereja Masehi. Dan pada tahun 1906 Pekabaran injil Methodis yang sempat berhenti pada tahun 1850, dimulai kembali di Pontianak. Sayang sekali bahwa usaha orang-orang Amerika itu mengalami rintangan sebab dicegah oleh pemerintah Belanda. Dan akhirnya tahun 1928 Methodis mundur dari daerah itu dan menyerahkan pekerjaan itu kepada Gereja Protestan.[21]
Sewaktu pecahnya Perang Dunia II (1940), Jerman menyerang negeri Belanda, terjadi pula perubahan hebat di Indonesia. Pihak Belanda segera menahan semua orang asing warga negara Jerman yang ada di Indonesia tidak terkecuali juga para misionaris yang berasal dari Jerman.[22]
                 
2.2.3. Kekristenan Pada Masa Jepang (1942-1945)
            11 Februari 1942, tentara matahari terbit (Jepang) menguasai dan meduduki Banjarmasin. Saat itulah GDE terputus hubungannya dengan  para pekerja zending. Para pekerja zending yang tetap setiap melayani GDE, kini tak diijinkan lagi melanjutkan pekerjaannya.[23] Sebelumnya missionaris yang berasal dari negara netral seperti Swiss, dan negara sekutu seperti Jerman sempat dijinkan bekerja, tetapi kemudian mereka semuanya dipulangkan ke negerinya. Banyak juga diantara mereka yang dibunuh oleh pihak Jepang dengan tuduhan bersekutu dengan Belanda. Gereja-gereja yang diasuh oleh zending ini pun mengalami pukulan yang berat. Pada waktu itu gereja-gereja harus berdiri sendiri baik dari segi tenaga maupun keuangan. Di satu pihak keadaan ini sangat menyedihkan namun di pihak lain peristiwa ini membantu gereja untuk bertumbuh secara dewasa. Selain itu Jepang juga melakukan penyitaan terhadap harta milik gereja dan dijadikan milik kerajaan, seperti gedung-gedung sekolah, rumah sakit, dan bahkan gereja di Banjarmasin digunakan sebagai markas besar tentara.[24]
Pada masa itu juga pemerintah Jepang mengeluarkan suatu siaran agar GDE, untuk sementara dapat melanjutkan segala pekerjaannya, dan tiap-tiap orang dapat tetap dalam jabatannya namun, tiap-tiap pekerjaan harus melalui pengawasan pemerintah Jepang. Kemudian  tuan W.A. Samat yang ketika itu wedana pensiun dan anggota majelis sinode, diangkat jadi ketua gereja oleh pemerintah Jepang di Banjarmasin. Sejak saat itu juga organisasi gereja ditiadakan dan diberikanlah peraturan-peraturan baru oleh pemerintah totaliter Jepang. Pada bulan Januari 1944, Borneo Minseibu (Kantor pusat pemerintahan), yakni kepala pemerintah Jepang di Banjarmasin secara resmi mengakui berdirinya atau adanya Gereja Dayak di Kalimantan. Sejak itu nama gereja diubah ke dalam bahasa Jepang yaitu Minami Borneo Dayak Kristo Kyo Kyokai (Gereja Dayak Kristen Borneo Selatan) dalam hal ini juga cara peribadatan diubah demikian pula bentuk-bentuk khotbah, dengan alasan bahwa semuanya itu berbentuk dan berbau Eropa. Sebelumnya pada akhir tahun 1943, tanggal 15 Desember, tibalah di Banjarmasin Pdt. Prof. H. Shirato, yang kemudian juga berkunjung ke Kuala Kapuas, yang menyatakan bahwa pada gereja di Kalimantan akan diberikan beberapa pengerja yaitu Pdt S. Honda, Pdt K. Kaneda, dan Pdt. Suzuki. Pendeta-pendeta jepang inilah yang menjadi pengantara antara gereja dan pemerintah Jepang. Namun dalam memandang masa dan saat-saat yang sulit itu Gereja Dayak menaikkan syukur kepada Tuhan dan menyampaikan terimakasih kepada Gereja Kristus Yesus di Jepang yang mengutus pendetanya, khususnya pendeta S. Honda yang telah mengunjungi resort Kuala Kapuas, Gohong, Pangkoh, Tewah, Sampit, Katingan, Kotawaringin, Labuhan, Tamianglayang, Mantangai, dan resort Barito. Di bidang keuangan, pendeta S. Honda juga memperingatkan gereja supaya jangan meminta bantuan keuangan dari pemerintah dengan maksud agar gereja tersebut dapat berdiri sendiri. Pendeta-pendeta ini juga melakukan perkunjungan rumah tangga.[25] Demikianlah gereja itu bertumbuh semakin mandiri dan dewasa meskipun dalam keadaan yang sulit.
         
2.2.4. Kekristenan Pada Masa Orde Lama Dan Orde Baru
            Pada bulan Oktober 1944 armada Jepang yang tersisa di teluk Leyte berhasil dihancurkan dan disusul jatuhnya Manila pada bulan Februari 1945. Sejak saat itu pihak angkatan laut mengakhiri oposisinya terhadap pemberian kemerdekaan kepada Indonesia, karena mereka tidak memiliki harapan lagi untuk mempertahankan kekuasaannya. Pada tanggal 6 Agustus 1945 Amerika menjatuhkan bom atom di Hiroshima. Dan akhirnya tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno membacakan Proklamasi Indonesia.[26] Hal ini membuat gereja untuk memulai kembali pekerjaannya dengan mandiri, gereja mulai berpikir secara nasionalis, hal ini terlihat dari sinode umum yang ke-4, 17-23 Februari 1946 yang memperdebatkan tentang nama gereja, dimana nama “Gereja Dayak Evangelis”, seolah-olah hanya mengutamakan dan hanya untuk suku Dayak saja dan menutup kemungkinan bagi suku-suku lain di Indonesia yang berada di Kalimantan.
            Apa yang telah dibahas dalam sinode umum tahun 1946, mengenai nama Gereja Dayak Evangelis, terus dipergumulkan, dibahas dan dipikirkan selama beberapa tahun ini, sampai pada sinode umum tahun 1950. Sehingga yang dahulu telah dikemukakan beberapa orang, soal bahwa dengan nama gereja Dayak Evangelis, maka gereja itu hanya bagi suku Dayak saja, akan menjadi suatu sebab membeda-bedakan umat Kristen yang berada di Kalimantan. Oleh karena itu diubah menjadi Gereja Kalimantan Evangelis.
Di sisi lain, muncul juga konflik dengan agama lain, dimana peredaran sejarah dunia seolah-olah telah memisahkan Islam dan Kristen, hal ini menimbulkan konflik dan terlebih lagi masyarakat Islam di Kalimantan adalah Islam yang fanatik. Pada masa ini juga, tepat pada tahun 1949, ketua resort Ds. J. Songan diculik, mati dibunuh dan tak diketahui dimana jenajahnya. Di tahun 1956 pemberita Markus Balur, hilang dan dibunuh, kemudian ditemui hanya mayatnya. Sejak tahun 1950 mulai tampak kegiatan PKI di daerah-daerah Kalimantan Tengah, terutama di daerah Barito. Perluasan pengaruh dan keanggotaan PKI di daerah-daerah dan di kalangan jemaat pesat sekali sesudah terbuktinya kemenangan mereka secara umum di tahun 1956. Sejak itulah, gereja merasa terpanggil untuk menghadapi komunisme dengan lebih sungguh-sungguh. Maka gereja melakukan usaha-usaha untuk menyadarkan jemaat yaitu:
1.      Mata kuliah khusus tentang komunisme di Sekolah Theologia Banjarmasin
2.      Mengadakan ceramah tentang komunisme dalam konfrensi gereja
3.      Di tahun 1959 diadakan 2 kali pertemuan dengan para pemimpim provinsi komite PKI Kalimantan.
Dalam perkenbangannya, GKE juga terlibat sebagai salah satu gereja pembentuk DGI di tahun 1950.[27]
Pada tahun 1963 berdiri juga Gereja Kristen Kalimantan Barat, sebagai hasil penginjilan CAMA dan sesudah tahun 1990 gereja ini berkembang karena mulai menyebarkan injil kepada orang Dayak.[28]
Pada masa ini juga muncul berbagai aliran seperti Gerakan-Gerakan Pentakosta (GGP) di Balik papan yang muncul pada tahun 1983.[29] Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) pada tahun 1974 di daerah Kalimantan Barat.[30]  
    

2.2.5. Kekristenan Pada Masa Reformasi Sampai Sekarang   
Pada masa reformasi GKE mengadakan sinode umum luar biasa dan memutuskan menggabungkan dana pensiun GKE ke dalam dana pensiun PGI. Pada tahun 1998 statistik GKE menunjukkan  jumlah anggota 220.399, gedung gereja sebanyak 748 dan pendeta sebanyak 249 orang. Dalam persekutuan oikumenis se-dunia, GKE adalah anggota dari World Council of Churches (Dewan Gereja se-Dunia/WCC). [31] Demikianlah gereja ini semakin berkembang dan selain gereja ini berbagai aliran-aliran yang tumbuh di bumi Kalimantan juga turut mewarnai kekristenan di Kalimantan.
   
III.             KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa Kekristenan di Kalimantan mengalami pasang surut secara berulang-ulang dimulai dari pengkristenan pada masa Portugis hingga akhirnya pada abad ke 19 dimulai kembali. Dengan kedatangan Barstein, kekristenan cukup diterima di kalangan penduduk, akan tetapi pasang surut itu juga belum berakhir, banyak tantangan yang dialami oleh para zendeling dimulai dari perang Hidayat yang menjadi pukulan berat terhadap para zendeling sampai pada perang dunia I & II. Namun pada masa Jepang meskipun gereja berada dibawah naungan pemerintah Jepang akan tetapi peristiwa ini membuat gereja semakin dewasa dan mandiri. Hingga akhirnya gereja berkembang dan menunjukkan kiprahnya pada masa orde lama hingga sekarang.
 


[1] www.wikipedia.org/kalimantan
[2] Th. Van den End, Ragi Carita I, Jakarta : BPK - GM, 1996, hlm 188
[3] Th. Muller Kruger, Sejarah Gereja di Indonesia, Jakarta: BPK-GM, 1966 hlm. 146-147
[4] Marwati Djoened Poesponegoro, Sejarah Nasional Indonesia IV, Jakarta: Balai Pustaka, 1993, hlm. 53-62
[5] Th. Muller Kruger, Op. Cit., hlm. 145
[6] Ibid, hlm. 145
[7] Suatu serikat kebiaraan yang didirikan oleh Gaetano de Thiene (Kajetanus, Bonifacius De Colle, dan Giampietro karafa kemudian menjadi Paus Paulus IV pada tahun 1524 di Italia Tengah). Nama serikat ini diambil dari nama Khieti, tempat karafa menjadi uskup. Peraturannya didasarkan pada peraturan Augustinus dan disahkan oleh Paus Clemens VII. Serikat ini banyak menghasilkan uskup dan Paus anti-reformasi. Ia juga bekerja di samarinda sejak tahun 1688 Lih. F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2009, hlm. 452
[8] G. Van Schie, Rangkuman Sejarah Gereja Kristiani dalam Konteks Sejarah Agama-Agama Lain, Jakarta: OBOR, 1995, hlm. 14
[9] Th. Van den End, Op. Cit., hlm.189
[10] Fridolin. Ukur, Tuaiannya Sungguh Banyak, Jakarta ; BPK – GM, 2000, hlm. 8
[11] Th. Van den end, Op. Cit., hlm. 190
[12] Fridolin. Ukur, Op.Cit., hlm. 9
[13] J. S. Aritonang dan Karel Stennbrink, A History Of Cristianity In Indonesia, Boston :University of  Leiden, 2008, hlm. 499
[14] Th. Muller Kruger, Op.Cit., hlm. 147
[15] Th. Van den end, Op. Cit., hlm. 191
[16] Fridolin Ukur, Op. Cit., hlm 15-17
[17] Th. Van den end & J.weitjens, Ragi Cerita 2, Jakarta: BPK-GM, 2009 hlm. 175
[18] Fridolin Ukur, Op. Cit., hlm. 17-21
[19] Th. Van den end & J.weitjens, Op.Cit., hlm. 177
[20] Fridolin Ukur, Op. Cit., hlm. 35-39
[21] Th. Muller Kruger, OP.Cit., hlm. 152-153
[22] F. Ukur & F. L. Cooley, Jerih dan Juang: Laporan Nasioanal Survey Menyeluruh Gereja di Indonesia, Jakarta: LPS-DGI, 1979, hlm. 507
[23] Fridolin Ukur, Op.Cit., hlm. 56
[24] F. Ukur & F. L. Cooley, Op.Cit., hlm. 507
[25] Fridolin Ukur, Op.Cit., hlm. 61-63
[26] Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, Jakarta: BPK-GM, 2010, hlm. 252
[27] Fridolin Ukur, Op.Cit., hlm. 154-174
[28] Th. Van den end & J.weitjens, Op.Cit., hlm. 179
[31] Fridolin Ukur, Op. Cit., hlm. 229-232

3 komentar:

  1. Hasil pelayanan CMA di Kalimantan Barat yang dimulai tahun 1930 an bukan Gereja Kristen Kalimantan Barat, tetapi GEREJA KEMAH INJIL INDONESIA)

    BalasHapus
  2. Hasil pelayanan CMA di Kalimantan Barat yang dimulai tahun 1930 an bukan Gereja Kristen Kalimantan Barat, tetapi GEREJA KEMAH INJIL INDONESIA)

    BalasHapus
  3. Iya benar, sudah disebutkan diatas. thanks tuk komennya... Salam kenal

    BalasHapus