KEKRISTENAN DI
KALIMANTAN
I.
PENDAHULUAN
Borneo, inilah julukan untuk pulau Kalimantan pada masa
Hindia-Belanda. Bangsa Eropa memulai penginjilannya di tempat ini sekitar abad
ke-17 yaitu penginjilan oleh misi Katolik, akan tetapi misi ini berakhir karena
terbunuhnya para penginjil yang mencoba masuk ke daerah pedalaman. Akhirnya
penginjilan dimulai kembali pada abad ke-19 yaitu pada masa Hindia-Belanda.
Penginjilan ini juga mengalami tantangan yang cukup berat di daerah ini. Namun dibalik
tantangan tersebut Allah bekerja hingga tuaiannya sungguh banyak.
Dalam sajian ini akan dibahas kekristenan di Kalimantan dimulai
dari kehadiran Portugis hingga pada masa sekarang.
II.
PEMBAHASAN
2.1
Konteks di Kalimantan
Pulau Kalimantan terletak di sebelah utara pulau Jawa, sebelah timur Selat Malaka, sebelah
barat pulau Sulawesi dan sebelah
selatan Filipina. Luas pulau
Kalimantan adalah 743.330 km². Pulau
Kalimantan dikelilingi oleh Laut Cina Selatan di bagian
barat dan utara-barat, Laut Sulu di
utara-timur, Laut Sulawesi dan Selat Makassar di timur serta Laut Jawa dan Selat Karimata di bagian selatan. Sungai-sungai
terpanjang di Kalimantan adalah Sungai Kapuas (1143 km)
di Kalimantan Barat, Indonesia,
Sungai Barito (880 km) di Kalimantan Tengah, Indonesia, Sungai Mahakam (980 km) di Kalimantan Timur, Indonesia, Sungai Rajang (562,5 km) di Serawak, Malaysia.[1]
Secara politik wilayah Kalimantan Selatan dibagi
atas dua golongan penduduk. Di daerah
pesisir tinggal orang – orang yang disebut orang Melayu dan menganut agama
Islam. Daerah pedalaman ditempati oleh orang –orang Dayak yang beragama suku
(agama Kaharingan).[2]
Secara ekonomi,
orang – orang Dayak bergantung pada pedagang –pedagang dari pantai, karena itu mereka sedapat mungkin dicegah mengadakan
hubungan langsung dengan dunia luar. Orang-orang Islamlah yang membeli hasil bumi dari
orang-orang Dayak, mereka pulalah yang menjual kepada orang-orang Dayak itu
segala kebutuhan sehari-hari sehingga orang-orang Dayak hidupnya sering
tergantung kepada orang-orang Islam. Para penduduk ini bukan mengusahakan
pertanian yang tetap melainkan mereka mengumpulkan bahan-bahan mentah atau
rotan dari dalam hutan, atau mencari ladang yang letaknya jauh dari kampungnya
sehingga tidak tetaplah kediaman mereka. Lagi pula suku Dayak itu terbagi-bagi
atas berbagai anak suku, yang satu sama lain tidak mempunyai hubungan apa pun.
Juga bahasa mereka berlainan, sehingga sering mereka tidak dapat saling
mengerti. Selain itu keadaan sosial sangat buruk oleh sebab banyak orang
diperbudak oleh orang-orang kaya.[3]
Masyarakat di daerah ini terbagi dua bagian, yaitu
golongan yang memerintah, dan golongan budak. Kelas yang memerintah terdiri
atas sultan dan keluarganya, kemudian menyusul para biokrat. Menurut adat
kebiasaan Banjar, pengganti raja adalah putra mahkota yang diangkat dari putra
sulung raja yang meninggal dengan permaisuri dari golongan bangsawan. Golongan
bangsawan kerajaan merupakan golongan yang dihormati dalam masyarakat. Selain
golongan bangsawan, golongan pedagang mempunyai kedudukan yang cukup dihargai
masyarakat. Pedagang-pedagang kaya mempunyai pengaruh yang besar dalam
masyarakat, bahkan juga pada pemerintahan kerajaan.[4]
Sebenarnya Kalimantan tak pernah mendapat perhatian yang
sama seperti yang diberikan kepada pulau-pulau dan daerah-daerah yang lain di
Indonesia. Daerah pedalamannya tak pernah dikunjungi hanya pantai-pantai saja
yang dikenal. Dan disinilah pedagang-pedagang Islam banyak mendarat, sehingga
pelabuhan-pelabuhan Kalimantan berangsur-angsur diIslamkan, sedangkan daerah
pedalaman yang diduduki oleh suku-suku Dayak tetap tinggal dalam kekafirannya.[5]
2.2. Sejarah Kekristenan
di Kalimantan
2.2.1.
Permulaan Kekristenan Hingga Pemberontakan Hidayat (1859)
Pekabaran injil di Kalimantan untuk pertama kalinya baru
diusahakan dalam abad ke-19. Sebelum itu pada abad ke-17 misi Katolik Roma
mencoba memasuki daerah Kalimantan Selatan yakni pada waktu Portugis berusaha
memperoleh pangkalan-pangkalan bagi perdagangannya di daerah itu. Tetapi usaha
itu gagal, tambahan pula seorang padri yang bernama Ventimiglia akhirnya
dibunuh (1691), sesudah itu sejumlah penduduk kampung Dayak yang telah dikristenkannya
murtad.[6]
Pada tahun 1706/1707 seorang misionaris Terekat Teatin[7]
tiba di Banjarmasin, dan bermaksud berkunjung ke pedalaman untuk bertemu dengan
umat rekannya, Ventimiglia, tetapi beliau di bunuh di tengah jalan. Pada tahun
1712 benteng kompeni Inggris di Banjarmasin, yang pada awal abad ke-18 direbut
dari orang Portugis, diserbu dan dimusnahkan oleh penduduk setempat. Pada tahun
1723 tiga misionaris diutus ke Banjarmasin untuk mencari kesempatan pergi ke pedalaman.
Akan tetapi sultan melarang mereka masuk ke pedalaman, bahkan mengancam
penduduk yang berani mengantar misionaris itu dengan hukuman mati.[8]
Pada tahun 1829 pendeta Medhurts yang bekerja di kalangan
orang-orang Tionghoa di Batavia, mengunjungi Kalimantan Barat dan Selatan dan
ia mengirim laporan tentang keadaan disana ke Eropa.[9]
Pada tahun 1830, tersiarlah berita – berita mengenai pulau Kalimantan
di Jerman, dengan
cerita mengenai ratusan ribu suku Dayak yang masih jauh tertinggal dalam
peradaban dan yang tak pernah mendengar tentang terang Injil itu. Empat tahun
kemudian dalam sidang umum RMG pada tanggal 4 juni 1834, diputuskanlah untuk
menjadikan pulau Kalimantan sebagai
suatu daerah Pekabaran Injil yang baru. Sehingga pada tanggal 15 juli 1834,
ditahbiskanlah dua orang penginjil dan kemudian diutus ke pulau Kalimantan
untuk pertama kalinya yaitu Barstein dan Heyer. Pada tahun itu juga tanggal 13 Desember 1834 tibalah mereka berdua di
ibukota Jakarta. Namun setibanya mereka disana mereka terpaksa harus tertahan
agak lama karena menunggu ijin dari pemerintah kolonial ketika itu. Pada bulan
april 1835 penginjil Heyer terpaksa kembali ke tanah airnya karena kesehatan
tubuhnya tak mengijinkan dan tidak sesuai dengan iklim tropis di Indonesia.
Setelah kurang lebih 6 bulan menanti, berunding dan berkonsultasi dengan
pemerintah kolonial, akhirnya Barstein diijinkan juga melanjutkan perjalanannya
menuju Kalimantan.[10] Ia mengadakan perjalanan yang jauh di sepanjang pantai
pulau itu, dan akhirnya memilih Banjarmasin sebagai pangkalan untuk PI.
Barstein sendiri menetap di kota itu melayani orang-orang Kristen setempat,
yakni orang-orang Eropa dan orang-orang Indonesia dari daerah lain. Disamping
itu dia bekerja ditengah-tengah orang bukan Kristen di Banjarmasin, yaitu
orang-orang Tionghoa, Dayak dan Melayu hasilnya sedikit sekali. Sebagaimana
biasa, orang-orang menolak terhadap pemberitaan Firman. Pernah Barstein dilarang
menggunakan ruang kebaktian di gedung-gedung pemerintah karena berani mengecam
kehidupan para pegawai yang kurang senonoh.[11]
Dari Banjarmasin ini diadakanlah perkunjungan dan perjalanan ke pedalaman,
sepanjang Sei Barito, Kahayan, Kapuas. Demikian pula kunjungan-kunjungan ke
daerah lain seperti Sei Katiangan, Antaya, dan daerah Kotawaringin. Dalam
perjalanannya ini, disebuah kampung bernama Gohong (Kahayan) Barstein angkat
saudara dengan darah (Hangkat hampahari
hatunding daha dalam bahasa Dayak) dengan kepala suku disitu. Sejak itulah
Barstein dianggap sebagai saudara orang Dayak karena ia telah bertukar darah
dengan kepala suku mereka.[12]
Administrasi kolonial tidak merasa senang dengan
misionaris asing, tetapi pada tahun 1836 mereka memberikan izin untuk memulai
pekerjaan para misionaris di Banjarmasin. Antara tahun 1834 – 1859 RMG mengutus
20 misionaris ke Kalimantan. Tetapi, banyak diantara mereka yang meninggal
dunia atau harus meninggalkan pekerjaan karena alasan kesehatan, sampai awal
pemberontakan Hidayat tidak pernah lebih dari 7 misionaris yang bekerja di
Kalimantan.[13] Di
samping itu pada tahun 1839, American Board Of Commissioners For Foreign
Missions (Pekabaran Injil Methodis), memulai usaha PI di Pontianak dan
sekitarnya. Tetapi berhubung dengan kesulitan bahasa dan lain-lain maka usaha
itu dihentikan pada tahun 1850. Usaha yang mula-mula yang dilakukan oleh RMG
untuk mendekati suku Dayak terjadilah di daerah hilir sungai Murong, Kapuas, Kahayan,
dan Barito. Di tepi sungai Murong didirikan suatu stasi yaitu Bethabara, yang
merupakan usaha terakhir dari pada pekabaran injil yang pertama di India ialah
Danish Halische Mission. Usaha tersebut kemudian diambil alih oleh RMG pada
tahun 1845. Di dekatnya itu, yakni di Palingkau pada tahun 1840 didirikanlah
stasi yang kedua. Juga di hilir sungai Kahayan para Pekabar Injil mencoba
mendirikan stasi-stasi. Untuk sementara waktu Gohong menjadi pusat Pekabaran
Injil (1841-1845). Sejak tahun 1851 maka daerah-daerah di tepi sungai Barito juga
mendapat perhatian Pekabaran Injil. Mereka juga mencoba beberapa cara lain
untuk menarik perhatian penduduk Dayak itu. Salah satu jalan yang ditempuh
ialah menebus budak-budak orang-orang kaya. Memang kira-kira 1100 orang Dayak dapat
ditebus dan dikumpulkan dalam kampung-kampung yang baru di sekitar stasi
(kampung-kampung Pandeling).[14]
Para zendeling menetap di sebuah kampung dan mereka
langsung mendirikan sebuah sekolah dan mulai mengadakan kebaktian-kebaktian.
Dalam segala kegiatan mereka, mereka menggunakan bahasa Dayak. Hubungan dengan
anggota-anggota masyarakat kampung dipupuk juga dengan jalan kunjungan kerumah,
dengan pengobatan dan dengan usaha untuk meningkatkan tarap ekonomis mereka.
Secara khusus mereka berusaha untuk memasukkan cara-cara bercocok tanam yang
baru. Mereka diharuskan pula mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah zending.
Pemerintah bahkan melarang diadakannya upacara-upacara agama suku pada hari
minggu, supaya kebaktian Kristen tidak terganggu. Memang sejumlah orang Dayak,
termasuk beberapa orang kepala, berhasil dibaptis setelah waktu yang relatif
singkat. Baptisan pertama berlangsung di Palingkau pada tanggal 10 April 1839
oleh Hupperts, yang kedua di bulan Oktober 1842, tetapi setelah peristiwa kedua
ini, masyarakat Dayak menyatakan perang kepada orang-orang Kristen dan mereka
ini murtad lagi kecuali satu orang saja, yaitu kepala Ambo (Nikodemus yang
sangat disegani orang). Di kalangan suku Maanyan orang pertama yang dibaptis
dibunuh dengan racun (1852), dan orang malah mencoba meracuni zendeling dan
isterinya. Rakyat tidak mengakui lagi kepala mereka kalau ia masuk Kristen malah
sebaliknya mereka memilih seorang kapala baru.[15]
Ketika wafatnya sultan Adam pada tahun 1857, terjadilah
suatu kekecewaan besar di pihak putra mahkota pangeran Hidayat karena merasa
tertipu oleh pemerintah kolonial Belanda. Karena yang diangkat menjadi sultan
pengganti almarhum sultan Adam bukanlah pangeran hidayat, melainkan putra
lainnya yakni pangeran Tamjidulah,
saudara tiri dari putra mahkota tersebut. Dengan kejadian ini mulai
direncanakan suatu revolusi untuk mengusir kekuasan pemerintah belanda dari
bumi kalimantan. Maka pada tanggal 1 mei 1859 pecahlah pemberontakan di
kalangan yang menyebabkan 20 orang kulit putih mati terbunuh. Pada bulan Desember
1859, sebuah kapal Belanda di sungai Barito dapat dihancurkan dengan catatan
korban kira-kira 30 orang kulit putih. Di tengah-tengah arus revolusi berdarah
inilah empat orang penginjil dengan tiga orang isteri dan dua orang anak mereka
ikut menjadi korban, mati dibunuh oleh tangan orang Dayak sendiri. Mereka ini
adalah penginjil Roth, penginjil Weiegan dan isterinya, penginjil Kind dengan
isteri beserta dua orang anak, penginjil Hofmeister dan istrinya, penginjil
Klammer. mereka ini mati terbunuh di pangkalan Tanggolan, Penda Alai, dan
Tamiang layang. Kejadian ini merupakan suatu cobaan yang berat bagi zendin.
Sejak kejadian itu, maka pemerintah kolonial melarang semua orang kulit putih
masuk kedaerah pedalaman, demikian juga untuk Pekabaran Injil. Semua para
penginjil ditarik ke Banjarmasin dan dikirim kembali ke tanah airnya dan
sebagian lagi memulai penginjilan di Sumatera diantara suku Batak.[16]
2.2.2. Masa
Pembangunan Kembali Hingga Berdirinya Gereja Dayak Evangelis (1866-1941)
Tujuh tahun sesudah perang Hidayat, barulah pemerintah
mengijinkan para Pekabar Injil RMG bekerja kembali diluar kota Banjarmasin.
Untuk sementara waktu mereka masih diharuskan menetap dekat dengan
benteng-benteng Belanda. Maka mulai tahun 1866 berangsur-angsur didirikan
sejumlah pos Pekabaran Injil. Yang pertama ialah Kuala Kapuas, yang letaknya
strategis sebagai pintu masuk ke daerah sungai Kapuas. Begitu pula zending
mendirikan pos-pos di daerah Barito di sebelah timur dan di sepanjang sungai Kahayan,
Katingan dan Mentaya di sebelah barat. Pada tahun 1889 diperoleh tempat
berpijak di Kuala Kuron jauh di pedalaman. Dengan demikian injil dapat
dikabarkan di kalangan suku Dayak yakni: Ngaju, Maanyan, Ot Danum, dan
lain-lain.[17] Tidak
seberapa jauh dari Kuala Kapuas, ke sebelah hulu sungai Kapuas, oleh penginjil Hendrich
pada tahun 1870, di Mandomai di buka pangkalan baru. Dengan mendirikan sebuah
sekolah. Enam tahun kemudian (1872), di kuala didirikan sebuah sekolah guru
oleh penginjil Hennemann dan di Mandomai sebuah gedung gereja yang besar.
Selama 20 tahun Hendrich bekerja, ia membaptis lebih kurang 350 orang dari
agama Kaharingan. Pada suatu konfrensi pendeta-pendeta zending tahun 1877,
disetujuilah untuk membuka suatu pangkalan baru di daerah sungai Mentaya dan Katingan.
Tahun 1880 Hendrich dan Branches mendirikan pangkalan di kota Sampit. Sepuluh
tahun kemudian 1890, ketika perkunjungan Trom dan Alt, di bukalah daerah
Kasongan yang bekerja sama dengan Klasis Amsterdam. Trom juga membuka sebuah
pangkalan baru di tanah Maanyan. Trom yang begitu mengenal suku Maanyan baik
sifat maupun bahasanya, kemudian menulis sebuah buku tata bahasa dan kamus Maanyan.
Dalam hal ini, kemajuan dalam pekerjaan pekabaran injil di derah-daerah Dayak ini
sudah mulai terlihat dengan jelas namun pada tahun 1914 Perang Dunia I mulai
berlangsung, perang ini berlangsung hingga tahun 1918. Walaupun Indonesia tidak
merasakan kengerian dari perang ini akan tetapi perang ini menimbulkan efek
bagi Indonesia.[18]
Pada tahun 1920, akibat kekalahan Jerman di Perang Dunia
I, RMG terpaksa menyerahkan lapangan kerja di Kalimantan kepada lembaga Basler
Mission di Swiss.[19]
Keputusan ini diambil bukan karena keputusasaan dalam hasil pekerjaan, tetapi
akibat kesulitan-kesulitan keuangan yang ditimpakan oleh Perang Dunia I bagi
seluruh tanah Jerman, sedangkan tuntutan pelayanan di Kalimantan juga
memerlukan biaya dan tenaga yang tidak kecil. Dengan keputusan itu maka
langkah-langkah pertama yang diambil adalah pengiriman penginjil-penginjil dari
zending Basel yaitu: Henking, Weiler, Kuhnle, dan Huber. Tahun 1925
berangkatlah rombongan terakhir dari pekerja-pekerja Barmen untuk kembali ke
tanah airnya. Zending basel juga meneruskan sekolah-sekolah yang diusahakan
oleh Zending Barmen, disamping itu zending ini juga mendirikan sebuah sekolah
yakni Christelijke Hollandsch-Inlandsche School di Banjarmasin. Pada tanggal
4-8 November 1930 diadakanlah sinode di Mandomai. Disinilah diletakkan
dasar-dasar organisatoris bagi pertumbuhan gereja Kristen di Kalimantan. Sinode
ini akhirnya menghasilkan suatu kesepakatan pendapat dan ikrar keyakinan
tentang pentingnya jemaat-jemaat semuanya disatukan dalam satu ikatan gereja.
Setelah itu pada tanggal 2-6 April 1935 diadakanlah sinode umum yang kedua di
kuala Kapuas, dengan mengambil tempat di gedung gereja Barimba. Dalam sinode
inilah dengan penuh percaya dan pengharapan, diambil keputusan untuk
membulatkan diri dalam satu ikatan gereja. Sehingga tepat pada tanggal 4 April
1935 pukul 12 siang telah menerima peraturan gereja yang direncanakan itu,
berdirilah secara resmi Gereja Dayak Evangelis, yang kemudian pada tanggal 24
April 1935 diakui sebagai badan hukum, menurut keputusan No. 33, Stbl. No 217
dan berkedudukan di Banjarmasin. Pada tahun ini juga, tepat pada tanggal 5
April 1935 bersamaan dengan genapnya 100 tahun penginjilan di Kalimantan, maka
lulusan Sekolah Theologia Banjarmasin ditahbiskan di gedung Gereja Hampatung
sebagai pendeta-pendeta pertama dari GDE yaitu: Rudolf Kiting, Eduard Dohong,
Gerson Akar, Hernald Dinggang, dan Mardoius Blantan.[20]
Selain penginjilan dari RMG, sejak tahun 1930 di Kalimantan
Tenggara dan Timur penginjilan juga sudah dikerjakan oleh CMA (Christian
Missionary Alliance), yang memakai nama Kemah Injil Gereja Masehi. Dan pada
tahun 1906 Pekabaran injil Methodis yang sempat berhenti pada tahun 1850,
dimulai kembali di Pontianak. Sayang sekali bahwa usaha orang-orang Amerika itu
mengalami rintangan sebab dicegah oleh pemerintah Belanda. Dan akhirnya tahun
1928 Methodis mundur dari daerah itu dan menyerahkan pekerjaan itu kepada
Gereja Protestan.[21]
Sewaktu pecahnya Perang Dunia II (1940), Jerman menyerang
negeri Belanda, terjadi pula perubahan hebat di Indonesia. Pihak Belanda segera
menahan semua orang asing warga negara Jerman yang ada di Indonesia tidak
terkecuali juga para misionaris yang berasal dari Jerman.[22]
2.2.3.
Kekristenan Pada Masa Jepang (1942-1945)
11
Februari 1942, tentara matahari terbit (Jepang) menguasai dan meduduki Banjarmasin.
Saat itulah GDE terputus hubungannya dengan
para pekerja zending. Para pekerja zending yang tetap setiap melayani
GDE, kini tak diijinkan lagi melanjutkan pekerjaannya.[23]
Sebelumnya missionaris yang berasal dari negara netral seperti Swiss, dan
negara sekutu seperti Jerman sempat dijinkan bekerja, tetapi kemudian mereka
semuanya dipulangkan ke negerinya. Banyak juga diantara mereka yang dibunuh
oleh pihak Jepang dengan tuduhan bersekutu dengan Belanda. Gereja-gereja yang
diasuh oleh zending ini pun mengalami pukulan yang berat. Pada waktu itu
gereja-gereja harus berdiri sendiri baik dari segi tenaga maupun keuangan. Di
satu pihak keadaan ini sangat menyedihkan namun di pihak lain peristiwa ini
membantu gereja untuk bertumbuh secara dewasa. Selain itu Jepang juga melakukan
penyitaan terhadap harta milik gereja dan dijadikan milik kerajaan, seperti
gedung-gedung sekolah, rumah sakit, dan bahkan gereja di Banjarmasin digunakan
sebagai markas besar tentara.[24]
Pada masa itu juga pemerintah Jepang mengeluarkan suatu
siaran agar GDE, untuk sementara dapat melanjutkan segala pekerjaannya, dan
tiap-tiap orang dapat tetap dalam jabatannya namun, tiap-tiap pekerjaan harus
melalui pengawasan pemerintah Jepang. Kemudian tuan W.A. Samat yang ketika itu wedana pensiun
dan anggota majelis sinode, diangkat jadi ketua gereja oleh pemerintah Jepang
di Banjarmasin. Sejak saat itu juga organisasi gereja ditiadakan dan
diberikanlah peraturan-peraturan baru oleh pemerintah totaliter Jepang. Pada
bulan Januari 1944, Borneo Minseibu (Kantor pusat pemerintahan), yakni kepala
pemerintah Jepang di Banjarmasin secara resmi mengakui berdirinya atau adanya
Gereja Dayak di Kalimantan. Sejak itu nama gereja diubah ke dalam bahasa Jepang
yaitu Minami Borneo Dayak Kristo Kyo
Kyokai (Gereja Dayak Kristen Borneo Selatan) dalam hal ini juga cara
peribadatan diubah demikian pula bentuk-bentuk khotbah, dengan alasan bahwa
semuanya itu berbentuk dan berbau Eropa. Sebelumnya pada akhir tahun 1943,
tanggal 15 Desember, tibalah di Banjarmasin Pdt. Prof. H. Shirato, yang
kemudian juga berkunjung ke Kuala Kapuas, yang menyatakan bahwa pada gereja di
Kalimantan akan diberikan beberapa pengerja yaitu Pdt S. Honda, Pdt K. Kaneda,
dan Pdt. Suzuki. Pendeta-pendeta jepang inilah yang menjadi pengantara antara
gereja dan pemerintah Jepang. Namun dalam memandang masa dan saat-saat yang
sulit itu Gereja Dayak menaikkan syukur kepada Tuhan dan menyampaikan
terimakasih kepada Gereja Kristus Yesus di Jepang yang mengutus pendetanya,
khususnya pendeta S. Honda yang telah mengunjungi resort Kuala Kapuas, Gohong,
Pangkoh, Tewah, Sampit, Katingan, Kotawaringin, Labuhan, Tamianglayang,
Mantangai, dan resort Barito. Di bidang keuangan, pendeta S. Honda juga
memperingatkan gereja supaya jangan meminta bantuan keuangan dari pemerintah
dengan maksud agar gereja tersebut dapat berdiri sendiri. Pendeta-pendeta ini
juga melakukan perkunjungan rumah tangga.[25]
Demikianlah gereja itu bertumbuh semakin mandiri dan dewasa meskipun dalam
keadaan yang sulit.
2.2.4. Kekristenan
Pada Masa Orde Lama Dan Orde Baru
Pada
bulan Oktober 1944 armada Jepang yang tersisa di teluk Leyte berhasil
dihancurkan dan disusul jatuhnya Manila pada bulan Februari 1945. Sejak saat
itu pihak angkatan laut mengakhiri oposisinya terhadap pemberian kemerdekaan
kepada Indonesia, karena mereka tidak memiliki harapan lagi untuk
mempertahankan kekuasaannya. Pada tanggal 6 Agustus 1945 Amerika menjatuhkan
bom atom di Hiroshima. Dan akhirnya tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno
membacakan Proklamasi Indonesia.[26]
Hal ini membuat gereja untuk memulai kembali pekerjaannya dengan mandiri,
gereja mulai berpikir secara nasionalis, hal ini terlihat dari sinode umum yang
ke-4, 17-23 Februari 1946 yang memperdebatkan tentang nama gereja, dimana nama
“Gereja Dayak Evangelis”, seolah-olah hanya mengutamakan dan hanya untuk suku
Dayak saja dan menutup kemungkinan bagi suku-suku lain di Indonesia yang berada
di Kalimantan.
Apa yang
telah dibahas dalam sinode umum tahun 1946, mengenai nama Gereja Dayak
Evangelis, terus dipergumulkan, dibahas dan dipikirkan selama beberapa tahun
ini, sampai pada sinode umum tahun 1950. Sehingga yang dahulu telah dikemukakan
beberapa orang, soal bahwa dengan nama gereja Dayak Evangelis, maka gereja itu
hanya bagi suku Dayak saja, akan menjadi suatu sebab membeda-bedakan umat
Kristen yang berada di Kalimantan. Oleh karena itu diubah menjadi Gereja
Kalimantan Evangelis.
Di sisi lain, muncul juga konflik dengan agama lain,
dimana peredaran sejarah dunia seolah-olah telah memisahkan Islam dan Kristen,
hal ini menimbulkan konflik dan terlebih lagi masyarakat Islam di Kalimantan
adalah Islam yang fanatik. Pada masa ini juga, tepat pada tahun 1949, ketua
resort Ds. J. Songan diculik, mati dibunuh dan tak diketahui dimana jenajahnya.
Di tahun 1956 pemberita Markus Balur, hilang dan dibunuh, kemudian ditemui
hanya mayatnya. Sejak tahun 1950 mulai tampak kegiatan PKI di daerah-daerah Kalimantan
Tengah, terutama di daerah Barito. Perluasan pengaruh dan keanggotaan PKI di daerah-daerah
dan di kalangan jemaat pesat sekali sesudah terbuktinya kemenangan mereka
secara umum di tahun 1956. Sejak itulah, gereja merasa terpanggil untuk
menghadapi komunisme dengan lebih sungguh-sungguh. Maka gereja melakukan
usaha-usaha untuk menyadarkan jemaat yaitu:
1.
Mata kuliah khusus
tentang komunisme di Sekolah Theologia Banjarmasin
2.
Mengadakan ceramah
tentang komunisme dalam konfrensi gereja
3.
Di tahun 1959
diadakan 2 kali pertemuan dengan para pemimpim provinsi komite PKI Kalimantan.
Dalam perkenbangannya, GKE juga terlibat sebagai salah
satu gereja pembentuk DGI di tahun 1950.[27]
Pada tahun 1963 berdiri juga Gereja Kristen Kalimantan Barat,
sebagai hasil penginjilan CAMA dan sesudah tahun 1990 gereja ini berkembang
karena mulai menyebarkan injil kepada orang Dayak.[28]
Pada masa ini juga muncul berbagai aliran seperti Gerakan-Gerakan
Pentakosta (GGP) di Balik papan yang muncul pada tahun 1983.[29]
Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) pada tahun 1974 di daerah Kalimantan Barat.[30]
2.2.5. Kekristenan
Pada Masa Reformasi Sampai Sekarang
Pada masa reformasi GKE mengadakan sinode umum luar biasa
dan memutuskan menggabungkan dana pensiun GKE ke dalam dana pensiun PGI. Pada
tahun 1998 statistik GKE menunjukkan
jumlah anggota 220.399, gedung gereja sebanyak 748 dan pendeta sebanyak
249 orang. Dalam persekutuan oikumenis se-dunia, GKE adalah anggota dari World
Council of Churches (Dewan Gereja se-Dunia/WCC). [31]
Demikianlah gereja ini semakin berkembang dan selain gereja ini berbagai
aliran-aliran yang tumbuh di bumi Kalimantan juga turut mewarnai kekristenan di
Kalimantan.
III.
KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa Kekristenan
di Kalimantan mengalami pasang surut secara berulang-ulang dimulai dari
pengkristenan pada masa Portugis hingga akhirnya pada abad ke 19 dimulai
kembali. Dengan kedatangan Barstein, kekristenan cukup diterima di kalangan
penduduk, akan tetapi pasang surut itu juga belum berakhir, banyak tantangan
yang dialami oleh para zendeling dimulai dari perang Hidayat yang menjadi
pukulan berat terhadap para zendeling sampai pada perang dunia I & II.
Namun pada masa Jepang meskipun gereja berada dibawah naungan pemerintah Jepang
akan tetapi peristiwa ini membuat gereja semakin dewasa dan mandiri. Hingga
akhirnya gereja berkembang dan menunjukkan kiprahnya pada masa orde lama hingga
sekarang.
[1] www.wikipedia.org/kalimantan
[2] Th. Van den End, Ragi Carita I, Jakarta : BPK - GM, 1996, hlm 188
[3] Th. Muller
Kruger, Sejarah Gereja di Indonesia,
Jakarta: BPK-GM, 1966 hlm. 146-147
[4] Marwati
Djoened Poesponegoro, Sejarah Nasional
Indonesia IV, Jakarta: Balai Pustaka, 1993, hlm. 53-62
[5] Th. Muller
Kruger, Op. Cit., hlm. 145
[6]
Ibid, hlm. 145
[7] Suatu
serikat kebiaraan yang didirikan oleh Gaetano de Thiene (Kajetanus, Bonifacius
De Colle, dan Giampietro karafa kemudian menjadi Paus Paulus IV pada tahun 1524
di Italia Tengah). Nama serikat ini diambil dari nama Khieti, tempat karafa
menjadi uskup. Peraturannya didasarkan pada peraturan Augustinus dan disahkan
oleh Paus Clemens VII. Serikat ini banyak menghasilkan uskup dan Paus anti-reformasi.
Ia juga bekerja di samarinda sejak tahun 1688 Lih. F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM,
2009, hlm. 452
[8] G. Van Schie, Rangkuman Sejarah Gereja Kristiani dalam
Konteks Sejarah Agama-Agama Lain, Jakarta: OBOR, 1995, hlm. 14
[9] Th. Van den
End, Op. Cit., hlm.189
[10] Fridolin. Ukur, Tuaiannya Sungguh Banyak, Jakarta ; BPK
– GM, 2000, hlm.
8
[11] Th. Van den
end, Op. Cit., hlm. 190
[12] Fridolin. Ukur, Op.Cit., hlm. 9
[13] J. S.
Aritonang dan Karel Stennbrink, A History
Of Cristianity In Indonesia, Boston
:University of Leiden, 2008, hlm. 499
[14] Th. Muller
Kruger, Op.Cit., hlm. 147
[15] Th. Van den
end, Op. Cit., hlm. 191
[16] Fridolin
Ukur, Op. Cit., hlm 15-17
[17] Th. Van den
end & J.weitjens, Ragi Cerita 2,
Jakarta: BPK-GM, 2009 hlm. 175
[18] Fridolin
Ukur, Op. Cit., hlm. 17-21
[19] Th. Van den
end & J.weitjens, Op.Cit., hlm.
177
[20] Fridolin
Ukur, Op. Cit., hlm. 35-39
[21] Th. Muller
Kruger, OP.Cit., hlm. 152-153
[22] F. Ukur
& F. L. Cooley, Jerih dan Juang:
Laporan Nasioanal Survey Menyeluruh Gereja di Indonesia, Jakarta: LPS-DGI,
1979, hlm. 507
[23] Fridolin
Ukur, Op.Cit., hlm. 56
[24] F. Ukur
& F. L. Cooley, Op.Cit., hlm. 507
[25] Fridolin
Ukur, Op.Cit., hlm. 61-63
[26] Jan S.
Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan
Islam di Indonesia, Jakarta: BPK-GM, 2010, hlm. 252
[27] Fridolin
Ukur, Op.Cit., hlm. 154-174
[28] Th. Van den
end & J.weitjens, Op.Cit., hlm.
179
[31] Fridolin
Ukur, Op. Cit., hlm. 229-232
Hasil pelayanan CMA di Kalimantan Barat yang dimulai tahun 1930 an bukan Gereja Kristen Kalimantan Barat, tetapi GEREJA KEMAH INJIL INDONESIA)
BalasHapusHasil pelayanan CMA di Kalimantan Barat yang dimulai tahun 1930 an bukan Gereja Kristen Kalimantan Barat, tetapi GEREJA KEMAH INJIL INDONESIA)
BalasHapusIya benar, sudah disebutkan diatas. thanks tuk komennya... Salam kenal
BalasHapus