Minggu, 22 April 2018

Nats    : Yeremia 31: 3-7
Saudara-saudara yang terkasih di dalam nama Kristus Yesus....
Thema kotbah kita hari ini ialah “Kasih Mu : Selalu Baru Setiap pagi”
Berbicara mengenai kasih, kasih seperti apakah yang anda kenal? Apakah hanya sebatas kasih seorang pacar terhadap pasangannya? Atau sebatas kasih seorang anak remaja terhadap sahabatnya? Bagaimanakah sebenarnya kasih yang kekal dan selalu baru setiap pagi seperti kasih Allah kepada bangsa Israel dalam teks kita hari ini.  
Saudara-saudara, sebelum kita melangkah lebih jauh berbicara soal kasih, perlu kita ketahui terlebih dahulu apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kasih? Dalam hal ini, kita dapat melihat Yohanes memberikan kesaksian yang menyatakan bahwa Allah itu kasih (1 Yoh 4: 8). Saudara-saudara jelaslah sudah bahwa yang dimaksud dengan kasih ialah Allah. Jika Allah adalah kasih, berarti hidup dalam kasih adalah hidup dalam Allah.   
Saudara-saudara yang terkasih dalam nama Yesus Kristus,
Kemudian bagaimanakah sebenarnya kasih yang selalu baru setiap pagi?
Yang pertama, kasih itu adalah kasih yang mengampuni. Saudara-saudara jika kita melihat konteks bangsa Israel pada masa itu, bangsa itu adalah bangsa yang bebal, yang tidak melakukan kehendak Allah sehingga bangsa itu dibuang ke Babel. Akan tetapi bangsa itu selalu mendapat pengampunan dari Allah. Dengan kasih-Nya yang besar Allah mengampuni bangsa Israel. Saudara-saudara mari kita buka Ams 16:6a, dalam teks ini dinyatakan bahwa dengan kasih kesalahan dapat diampuni. Bagaimana dengan kita? Kita sering mengatakan bahwa kita mengasihi orang lain,  akan tetapi kita sulit mengampuni. “aku mengasihi kamu tapi aku belum bisa mengampuni kesalahanmu” saudara-saudara dalam kaitan kita perlu mengoreksi kasih yang bagaimanakah yang kita miliki? Kasih yang selalu baru setiap pagi adalah kasih yang senantiasa mengampuni. Seperti Allah yang lebih dulu mengampuni kita.
Yang kedua, kasih yang menyelamatkan. Saudara-saudara penyelamatan dan penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus di kayu salib semata-mata hanya karena kasih-Nya yang begitu besar kepada kita manusia. Hal ini lah yang dilakukan Allah sendiri terhadap bangsa Israel yang menyelamatkan bangsa itu dari pembuangan Babel. Mari kita buka Yes 63:9. Dialah yang menebus mereka dalam kasihnya dan belas kasihannya. Saudara-saudara hal ini menjadi satu perenungan bagi kita, kita yang telah diselamatkan di dalam kasihnya, apakah kita sudah hidup di dalam kasih?
Yang ketiga, kasih yang membangun. Kasih membangun dapat kita lihat dalam 1 Korintus 8:1, namun membangun yang bagaimanakah yang dimaksudkan disini? Mari kita buka Zef 3:17 “Ia memperbaharui engkau dalam kasih-Nya” kasih yang membangun ialah kasih yang memperbaharui. Dalam kaitan ini, bangsa Israel pada konteks teks ini adalah bangsa yang dibangun dan diperbaharui sehingga bangsa itu dapat bersukacita, bersorak memuji nama Tuhan Allah. Saudara-saudara apakah kasih anda telah mampu membuat seseorang menuju sukacita dan bersorak memuji Tuhan? ataukah kasih kita selama ini membuat orang justru semakin menjauh dari sukacita??
Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus, perlu kita renungkan kembali, Kasih yang seperti apakah yang kita miliki? Apakah kita sudah benar-benar hidup dalam kasih tersebut? Jika Allah adalah kasih, hidup dalam kasih adalah hidup dalam Allah.
Kotbah Kasualistik : Acara Syukuran Wisuda Mahasiswa Teologia
Nats    : Yohanes 15: 13-16
Kata “mengetahui” dan kata “mengenal” adalah dua kata yang memiliki makna beda tipis. Bedanya dimana? Ketika saya berkata “aku tahu siapa dia” perkataan saya menunjukkan bahwa saya tahu namanya,  tahu apa kerjanya, tahu dimana rumahnya, dan saya tahu dimana dia kuliah. Sementara itu, ketika saya mengatakan “aku mengenal dia” perkataan ini menunjukkan bahwa saya bukan hanya tahu siapa namanya, apa kerjanya, dimana rumahnya, dan dimana dia kuliah, akan tetapi saya mengetahui dia lebih dari situ bahkan saya juga tahu No Hpnya, warna kesukaannya, makanan kesukaannya dan lain sebagainya.
Pada saat kita telah menjadi pelayan Tuhan, saat itu kita telah dipilih Tuhan menjadi sahabat-Nya, teman sekerjanya, dan kita telah diberi kepercayaan untuk betul-betul mengenal-Nya. Namun,  realitanya ada banyak sekali para pelayan Tuhan yang bekerja di ladang Tuhan. Semua pelayan-pelayan itu pasti tahu siapa Tuhan. Akan tetapi saudara-saudara sering sekali kita temui ternyata pelayan itu di ladang Tuhan tidak menghasil  buah. Mereka justru menjadi pelayan yang malas, pelayan yang korupsi, pelayan yang minum-minum, dan lain sebagainya. Kita sebagai para pelayan Tuhan sering mengaku kita tahu Tuhan dan banyak berbicara tentang Tuhan, namun ternyata kita tidak tahu apa kehendak-Nya. Sering sekali ketika duduk di bangku kuliah, mahasiswa teologia hanya mengisi kepala dengan pengetahuan yang banyak tentang Tuhan, namun kita lupa mengisi hati kita dengan iman pengenalan akan Tuhan. Saudara- saudara kita lebih sering membesarkan kepala kita dengan ilmu-ilmu pengetahuan tentang Tuhan, tapi kita tidak  membesarkan hati kita dengan iman terhadap Tuhan. Hal membuat kita kaya dengan ilmu namun miskin iman. Hal ini lah yang sering membuat kita hanya tahu, bukan kenal.
Kita semua pasti mengenal Yusuf, Yusuf dijual saudara-saudaranya ke pedagang Mesir, kemudian dia bekerja di rumah potifar, akan tetapi dia dijebak oleh istri potifar sehingga dia dipenjara, dia keluar karena menafsirkan mimpi Firaun. Selanjutnya dia diangkat menjadi menteri di tanah Mesir. Saudara- saudara Yusuf perjalanan hidup Yusuf adalah perjalanan yang betul-betul mengenal Allah, sehingga dia betul-betul berbuah di tengah-tengah bangsa Mesir, dia membebaskan bangsa itu dari kemiskinan, dia juga berbuah di tengah-tengah saudara-saudara yang telah menjualnya lewat pengampunannya. Yusuf mampu menafsirkan mimpi raja dan mampu menjadi menteri bukan karena ilmunya yang luar biasa, dia melakukan itu bukan karena kepintaran dan pengetahuannya yang banyak, akan tetapi hanya karena dia sahabat Allah dan dia betul-betul mengenal Allah, sehingga dia tahu kehendak Allah.       
Saudara, yang terkasih, saat ini anda dipilih Allah menjadi sahabat, teman sekerja-Nya, maka belajarlah untuk mengenal-Nya lebih dalam dan lebih dalam lagi. Marilah kita menjadi pelayan yang mengenal Allah dan mengetahui apa kehendak-Nya sehingga kita betul-betul berbuah di tengah-tengah dunia ini.
Amin.

Rabu, 05 Oktober 2016

Bahan Khotbah 2 Tesalonika 3:6-13 (Bahasa Simalungun)

I.                   Parlobeini
Tesalonika on aima sada kota na domma cukup maju atap pe makmur bani masa pardalanan ni si Paulus. Buei do halak Jahudi pakon halak Gorik na marianan i kota on. Anjaha bani panorang ai, adong sada kebingungan na muncul bani halak Kristen na i kota Korintus pasal apokalyptik atap pe paraousia atau pasal parroh ni Tuhan Jesus pakon pasal ari si magira. Bani halak Tesalonika na sebagian besar aima halak Gorik, adong do pemahaman na ipengaruhi kultus-kultus dewa (Yunani), hero, penguasa (Romawi), serapis (Mesir). Pemahaman na humbani kultus-kultus on, turut do homa mempengaruhi pangarusion ni sidea pasal ari simagira, na ija na iarusi sidea, bahwasani ari simagira ai laho roh ma, sonai homa par roh Jesus Kristus na ibaritahon ni si Paulus pe laho roh ma, halani ai buei do halak na paima-imahon ari ai, ibagas na paimahon ai buei do sidea na lang marhorja, pitah mangarapkon bantuan na roh. Dob konsi ai, lang homa pitah ai, adong do homa humbani kuria ai na marguro-guro mangurusi horja ni si Paulus pakon hasoman ni (busybodies).  

II.                   Hatorangan ni Teks
Ayat 6-7
            Bani teks ini, secara jelas ihatahon si Paulus do sada parentah hubani kuria na i Tesalonika. Anggo bani bahasa Simalungun ipakei do hata “ipaingat” (ay 6) berarti do ai i nasehati. Tapi anggo bani bahasa Inggris isobut ma ai command (NIV) na berarti do ai perintah, komando, intruksi (Nom), memerintahkan, menuntut, mewajibkan (verb). Arti na ijai, adong do sada parentah atap pe tuntutan na i wajibkan si Paulus hubani kuria ai, hata ni si Paulus on, termasuk hata na keras hubani kuria na i Tesalonika bani panorang ai. Lang pitah singat-singat, atap pe pesan (TB) songon na ituliskon bani bahasa Indonesia, tapi aima sada parentah. Parentah on pe lang parentah sembarangan na ibahen-bahen si Paulus, atap pe na roh humbani si Paulus sandiri, tapi parentah on, aima parentah na roh humbani Naibata do. Ai do ase ihatahon si paulus “Ibagas goran ni Tuhanta Jesus Kristus”, si Paulus marsahap lang berdasarkan diri ni sandiri, tapi berdasarkan hata ni Naibata. Halani ai taridah do homa ijon bahwasani si Paulus lang mengandalkan diri ni sandiri anjaha lang marsahap marhitei pikiranni sandiri tapi aima marhitei hata ni Naibata. Taridah do ijon sikap tegas ni si Paulus mamarentah kuria Tesalonika ase surut sidea humbani sanina na torsa marparlahou. Surut, keep away (NIV) artini menjauhi, berarti do au keluar atap pe lang mardomu humbani jolma na so torsa marparlaho ai (bnd. Rom. 16:17). Halak na so torsa marparlaho bani teks on aima halak Kristen, atap pe kuria Tesalonika na lang manangar hata ni si Paulus, atap pe na bermalas-malasan. Halani ai do ihatahon si Paulus, ase ulang ai na itiru atap pe ulang marhadomuan pakon sidea na bermalas-malasan ai, tapi ihatahon si Paulus do hubani kuria ai ise do sasintongni na patut sitiruon atap pe teladan hubani sidea. Adong sada keberanian bani diri ni si Paulus na mangkatahon bahwasani diri ni do na patut si tirion/teladan atap pe sebagai contoh hubani kuria ai. Ihatahon bani teks ai “hanami” hata on merujuk do ai hubani si Paulus pakon rekan-rekan ni aima si Timoteus pakon si Silas. Keberanian ni si Paulus mangkatahon on mardasar do, ihatahon ni hubani kuria ai “ai sedo na so torsa marparlahou hanami itongah-tongah nasiam” hata na sintong do na ihatahon si Paulus on, mase berani si Paulus manghatahon ai? Bani mungkahni hata na ihatahon bani ayat 7 on, ihatahon do “ai ibotoh nasiam sandiri do” tentunya anggo ibotoh, lang pitah halani itorih ase ibotoh/marpanbotoh, humbani halak na legan pe boi do ibotoh, manangar-nangar pe boi do ibotoh, anjaha marlajar pe boi do gabe marpambotoh. Tapi hata “ibotoh” na ipake si Paulus bani teks on, anggo bani bahasa gorik aima oi&date oidate, hata on berbentuk past tense yang berarti telah melihat/mengetahui anjaha hata on lebih dari sekedar mengetahui tapi domma itorih dengan mata dan pikiran (have seen with the eye and mind’s eye). Aido ase berani dengan tegas si Paulus manghatahon bahwasani sidea (Paulus pakon rekan ni) do sitiruan atap pe na gabe contoh i tongah-tongah kuria ai.

Ayat 8-10
            Selanjutni bani teks on, on do homa na gabe memperkuat alasan ni si Paulus, na mangkatahon bahwasani ia pakon hasoman ni patut gabe sitiruan/teladan. Ihatahon si Paulus do secara tegas bahwasani marhorja ibagas na loja anjaha sunsah do sidea arian pakon borngin. Haganup ruti na ipangan sidea ai, igalar sidea do marhiteihon horja na ihorjahon sidea i tongah-tongah ni kuria ai, anjaha seng pitah padaskon ambilan na madear ia itongah-tongah ni kuria, tapi dohot do ia mangurupi halak na legan martonun hiou tenda (Lah. 18:1-3). Ijon taridah do sonaha kerja keras ni si Paulus, anjaha taridah do holong ni uhur ni i tongah-tongah ni kuria ai, hansi pe ihatahon si Paulus do bahwasani marhak do namin sidea manjalo ruti i tongah-tongahni kuria, ai patut do namin sidea manjalo aha na gabe bagian ni i kuria ai, halani halak na marhorja bani rumah panumbahan mangan hun rumah panumbahan do anjaha halak na marugas bani anjap-anjap dapotan hunjai, sonai do homa age si parambilan, humbani ambilan ai ma ia manggoluh (1 Kor. 9: 13-14 bnd. 4 Mus 18:8, 31; 5 Mus 18:1-3)  tapi lang ai na gabe alasan ni si Paulus lang manghorja i tongah-tongah ni kuria ai. Lang ra ia mansunsahi kuria, tapi ibahen do diri ni gabe usihan. Halani ai memang lang pitah parentah na iberehkon ni si Paulus bani surat ni on hu kuria Tesalonika, tapi ibahen do diri ni sandiri na gabe si usihan, sitiruan, contoh, i tongah-tongah ni kuria ai. Ihatahon si Paulus do, sanggah na rap ope hanami pakon nasiam, domma iaturhon hanami bani nasiam : barang ise na so ra marhorja, ulang ma ia mangan (ay. 9 bnd. 3 Mus. 3:19). Anggo bani halak Yahudi etos kerja keras sangatlah penting, mungkin on do homa salah sada na gabe prinsip ni si Paulus bani panorang ai. Halani ai isobut do piga-piga hal bani padan na basa ia pasal na marhorja atap pe maningon marhorja ase mangan, anjaha ulang bermalas-malasan (Pod. 12:11; 6:6; 20:4; 26:14).

Ayat 11-13
            Dob konsi laho si Paulus pakon hasoman ni manadingkon kuria Tesalonika, ibogei si Paulus do barita hunbani kuria ai, paboa adong do kuria ai na lang mangkorjahon songon na iparentahkon ni ai. Justru adong do deba kuria ai na mangkorjahon na so horja. Bani bahasa Inggris ihatahon busybodies (NIV) artini ijai aima orang yang suka campur tangan dalam urusan orang lain atau lebih merujuk pada pengacau ai do memang ase ihatahon manghorjahon na so horja. Lang na lang boi campur tangan bani urusan ni halak na legan, tapi na ihatahon si Paulus bani kuria na i Tesalonika on, aima halak na berlebihan mangurusi urusan ni halak, gabe lang be ihorjahon horja ni (Lih. 1 Tes 4:11). Ase bani halak na si sonon iparentahkon si Paulus do anjaha ipalumba, iasak, idorong. Lang ongga lupa si Paulus, anggo haganupan hata na ihatahon ni ai hubani kuria ai, aima marhiteihon hata ni Naibata do, anjaha ibagas Naibata, otoritas ni Naibata do tong na ipagijang si Paulus, lang diri ni sandiri. Bani ayat 12, i bagian akhir ni teks ai, ihatahon ma use sebagai penekanan ase marhorja kuria ai. Na gabe sipasingat na selanjutni na ihatahon bani teks on aima : unang ma marnaloja mambahen namadear. Aha do na mambahen si Paulus mangkatahon hata on, padahal bani ayat-ayat sebelum ni ihatahon ase marhorja. Anggo mangidah kalimat  bani ayat 13 on, berarti adong na marhorja bani kuria ai, memang lang ganup kuria na bermalas-malasan halani ai jelas do bani ayat sebelumni ihatahon “deba”. Tapi mangidah situasi ni kuria ai, na ija adong do jolma na lang marhorja atap pitah mangurusi urusan ni halak tapi boi do ia mangan, gabe marayoh, berkecil hati/ciut, semangat ni halak na rajin, halani ai do homa ase ipasingat sidea ulang ma marnaloja, tapi totap ma mangkorjahon na madear, halani manabi do holi bani panorang ni (Gal. 6:9).           

III.      Panutup
1.      Si Paulus marsahap lang pajuntul-juntulhon diri ni, tapi totap do ia berdasar humbani hata ni Naibata, selaku siparambilan, ia lang marsahap humbani diri ni sandiri tapi humbani hata ni Naibata do. Selaku juak-juak ni Naibata na marhorja i juma ni Naibata, ulang ma mengandalkan diri sendiri, tapi totap ma marondos ibagas gogoh ni Naibata.
2.      Selaku siparambilan/juak-juak ni Naibata maningon do gabe usihan, sitiruan, atap contoh hubani haganup kuria pakon halak na legan. Maningon gabe juak-juak na marintegritas, aha na ihatahon ni maningon do homa ihorjahon ni.
3.      Halak na sihol mangan, maningon do homa marhorja. Halani bani mungkahni jolma itompa isuruh Naibata do manlahoi ampa manramotkon pohon Eden (1 Mus. 2:15).
4.      Ulang ma marnaloja mangkorjahon namadear, halani adong do holi panorang ni dapotkononta upah ni/manabi, anjaha, lang humbani jolma hita mandapotkon upah ni horja ta, tapi humbani Naibata do.   
Ibagas na paimahon ari parroh ni Tuhan Naibata, maningon do hita jaga, bersiap, artini ijai totap ma hita makkorjahon na madear ibagas na paimahon ai.

Bahan Khotbah Maleaki 4:1-2a (Bahasa Simalungun)

I.                   Parlobeini
            Anggo bani Padan Na Basaia buku Maleaki on isobut do buku Nabi-Nabi kecil. Maleaki arti ni aima “Utusanku”. Iperkirahon do buku on itulishon bani panorang dob konsi masa pembuangan ni bangsa Israel i Babilonia. Isini buku on, ihubungkon do hubani rumah panumbahan pakon upacara-upacara na ihorjahon ni malim i rumah panumbahan. Secara jelas anjaha tegas buei do ipatugah hajahaton-hajahoton ni malim i rumah panumbahan sonai homa age hajahaton na ihorjahon bangsa Israel. Seng adong be kejujuran ibagas na mambere persepuluhan, mamboan kurban, anjaha buei do halak na mangkorjahon penindasan. Seng pitah ai, na paling buruk humbani sikap ni bangsa ai aima, jungkat ni uhur ni halak Israel na lang ra marubah. Hansi pe, roh do tong Naibata mangelek humbani bangsa ai ase mulak sidea, tapi totap lang itangihon bangsa ai hata Ni Jahowa Naibata (3:6-7). Halani ai, roh do pangungkabon ni Jahowa Naibata marhitei si Maleaki laho paingatkon bangsa ai, pasal ari ni Naibata na laho roh.   

II.                Hatorangan ni Teks
            Teks on patorangkon sonaha do sasintong ni ari ni Jahowa Naibata na roh ai, bani ayat on taridah ma parleganan parpintor pakon parjahat, na mambalosi Naibata pakon na so mambalosi Naibata.
Ayat 1
Ihatahon bani teks tonggor ma na roh ma ari ai. Hata ari bani teks on, bani hata Heber isobut do ai <oy yom. Bani Padan Na Basa ia adong isobut hata on aima sekitar 2304 hali. Hata on memiliki piga-piga pengertian, antara lain : siang hari, hari, waktu, dan tahun. Tapi sasintong ni hata on lebih dekat pada pengertian siang ni ari, halani hata on iartihon do homa milas, panas. Jadi periode ari na i maksudkon aima siang ni ari (pada jam-jam munculnya matahari). Pasal ari na ihatahon ni si Maleaki on aima ari ni Jahowa (3:17), lang isobut antigan ma parroh ni ari on atap pe pasal waktu ni lang isobuthon, halani memang anggo pasal panorang, waktu, pitah Naibata do simada ai. Tapi aha na isobutkon ni si Maleaki bani teks on gabe sipaingat bani bangsa ai, aima pasal sonaha do parroh ni ari ni Jahowa ai. Si Maleaki manghatahon hubani bangsa Israel bahwasani roh ma panorang ari atap pe siang ni ari na gara songon parumunan, tungku. Anggo bani halak Israel tungku on ibahen humbani tano liat, bentukni songon sarang ni labah, biasani diameterni 2-3 kaki. Biasani ipake laho mamanggang roti (Sampai saat ini tungku ini masih dipakai disekitar wilayah Palestina) jadi itutung do tungku on bani parapian na panas tumang. Jadi ari na laho roh na ihatahon ni si Maleaki bani panorang ai, aima ari na panas tumang, aido ase isbout do homa bani lanjutanni teks on, doskon anggala ma haganupan halak na jungkat. Artina ijai haganup halak na jungkat itutung do doskon songon anggala bani panorang ai. Anggo isobut ma anggala, aima batang ni omei na lang adong be gunani artina memang situtungon mando ai (bnd. Mat 3:12; 13:40). Ijon taridah do sonaha ketegasan ni Naibata hubani halak na lang manangar hataNi anjaha halak na lang ra marhamubahan ni uhur, anjaha lang pitah ai, ijon do homa taridah keadilan ni Naibata. Jadi bani panorang ari ai, jaloon ni jolma in do aha do na patut sijaloon ni halani parlahouni. Anggo itorih hita bani teks sebelumni aima bani pasal 3 ayat 6-12, taridah do ijai sonaha do dilo-dilo ni Naibata hubani bangsa ai, ihatahon do homa bahwasani Naibata seng ongga mubah uhurNi mangidah bangsa ai (Israel) Ia totap do marholong ni uhur, Naibata na nanget manringis, anjaha idop ni uhur ni Naibata lang ra marpunsa (3:6a bnd.Tngs 3:22-23). Tapi anggo halak Israel seng ongga muba mulai humbani panorang ni ompungni na sai torus manlembang humbani titahni Naibata (3:7). Halani ai do ase halak na jahat na ihatahon bani teks anggo bani bahasa Inggris (NIV) isobut do ai arrogant aima halak na sombong, na margijang ni uhur, na mengandalkan diri sendiri, sasintongni anggo bani halak si songon on payah do marhamubahan ni uhur. Dob konsi ai, ilanjutkon do bani teks on : “Nini Jahowa Zebaot, anjaha seng dong tading bani sidea bahenonni urat atap ranting pe”. Secara tegas ihatahon bani teks on, bani panorang ai borsih do bahenonni ganup hajahaton na i tanoh on, aha pe lang na tading, halani ai do ihatahon seng dong tading bahenonni urat atap ranting ni pe.

Ayat 2
Aha na dob ihatahon bani ayat 1 pasal jaloon ni halak na parjahat bani panorang ari ni Jahowa berbeda do pakon jaloon ni halak na marhabiaran hubani Jahowa. Halak na marhabiaran bukan berarti iartihon halak na mabiar songon na manghabiari begu atap pe sesuatu yang tidak menyenangkan/menyeramkan. Anggo halak na mabiar bani begu atap pe sesuatu yang menyeramkan pasti do halak ai lari/gobir, bahkan tidak berani dekat. Tapi halak na marhabiaran na imaksudkon bani teks on aima halak na mabiar halani hormatni, kepatuhanni, revere (NIV). Halak na marhabiaran on aima halak Israel na manangihon hata Ni Naibata Jahowa. Halak na hormat atap pe patuh bani titah ni Jahowa. Anjaha aha do sijaloon ni halak na songon on? Ihatahon si Maleaki, Anggo bani halak parjahat jaloonni do api parumunan tapi anggo bani halak na marhabiaran hubani Naibata Jahowa jaloonni do mata ni ari hapintoron. Hapintoron on anggo bani bahasa Heber isobut do tsedaqah na berarti do ai keadilan atap pe kebenaran. Bani hata Heber mispat pe iartihon do ai keadilan/kebenaran, tapi anggo hata on aima keadilan na ibahen ni hakim, halani hakim on aima jolma, tidak jarang na sintong pe boi gabe lang sintong anjaha sebalikni na lang sintong boi do gabe sintong. Halani ai, ibagas teks on hata na ipakei manghatahon keadilan/kebenaran nokkan ai aima hata tsedaqah na berarti do ai keadilan/kebenaran na humbani Naibata. Tapi lang pitah keadilan/kebenaran na ijalo halak na marhabiaran hubani Jahowa Naibata, tapi dapotkonon ni do homa hamalumon. Hamalumon itoruh ni habong ni, mase ihatahon hamalumon itoruh ni habong ni? Arti na ijai adong do sada kesembuhan yang tetap aman, terlindungi. Hamalumon ai lang pitah sementara atap pe tokkin tumang, tapi ihatahon do ijai itoruhni habong ni, ibahen Jahowa Naibata do sada jaminan hubani halak na marhabiariSi, bahwasani adong do keamanan pakon perlindungan. Anggo sada indung ni manuk memberikan keamanan atap pe perlindungan hubani anak ni pasti do ibahen i toruh ni habong ni, adong do ijai pangkopkopan, songon sahalak orangtua na manghokkop anak ni, sonai do sasintong ni Naibata Jahowa manghokkop halak na marhabiariSi. Selanjutni ihatahon songon anak ni lombu na manlumpat-lumpat humbagas harang, ijon adong taridah sada kebebasan pakon malas ni uhur hubani halak na marhabiaran hubani Naibata ai. Sada lombu na tarhurung ibagas harang pasti ni makanan ni pe terbatas do, sonai homa age minuman ni, anjaha anggo ihatahon na tarhurung, pasti do maningon paima on ni tuan ni mambere ia mangan. Tapi ihatahon bani teks on, na malumpat humbagas harang, lepas kandang (TB), go out and leap (NIV), berarti bebas do ai bani padang rumput na terbuka, menikmati alam terbuka, anjaha boi ma homa menikmati bah na mengalir (bnd. Ps. 23) halani ai adong do ijon taridah sebuah sukacita pakon malas ni uhur na humbani Naibata. 

III.             Panutup
1.             Bani mulani sanggah itompa Naibata jolma anjaha madabuh hubagas dosa, buei do hajahaton-hajahaton na ihorjahon jolma, tapi anggo holong ni Naibata seng ongga mubah hubani jolma. Ia Naibata na seng ongga marubah, sonai do hinan anjaha sonai do sonari, sonai do homa bani ari na laho roh.
2.             Huja do ham dob matei ham? Sasintong ni  totap do ipaima Naibata hamubahon ni uhur ni jolma. Halani ai do, parubahi hita ma uhurta, ulang soppat roh ari ni Jahowa ai (Dan 12:2)
3.             Tuhan Jahowa Naibata aima Jahowa Naibata na marholong ni atei pakon na adil sebagai hakimni jolma bani ari simagira atap pe bani ari parroh ni Naibata.
Apa yang kau tanam, itu yang kau tuai. Horjahon ma namadear sadokah adong panorang ta mangkorjahon na madear, halani adong do masa ni dapotkonon ta do aha na gabe upah ni horja ta (Gal 6: 9). Halak na marhabiaran hubani Naibata anajaha mangkorjahon aha na gabe harosuh ni Naibata pasti do manjalo haluahon pakon malas ni uhur na humbani Naibata.

Kamis, 08 September 2016

Renungan dalam Kejutan

“Surprise……” siapa yang tidak bahagia mendengar kata “surprise”? Surprise, sebuah kata benda dalam bahasa Inggris yang berarti kejutan, keheranan, kagetan.  Tentunya Kejutan akan menimbulkan rasa kaget bahkan sebuah guncangan dalam detak jantung kita, sebab kejutan akan selalu mencul dengan tiba-tiba dan tidak diduga sebelumnya. Kejutan juga tak hanya muncul pada hari-hari tertentu seperti hari ulang tahun, hari-hari besar, dll. Ia bisa hadir kapan saja, ia akan datang semaunya tanpa sebuah undangan. Bayangkan saja “turunnya hujan” juga bisa menjadi sebuah kejutan ketika kita tidur siang dengan nyaman, tiba-tiba hujan turun dan membuat kita terjaga-berlari sekencang mungkin menuju jemuran pakaian kita. Hujan juga bisa jadi kejutan. Hidup ini memang banyak kejutan, kadang kejutan   yang membawa tawa sukacita dan terkadang membawa tangis dukacita. Suka-duka silih berganti. Tiga hari yang lalu, tabrakan beruntun di kota kopi ini juga bagian dari kejutan yang bisa saja terjadi dimana-mana. Kita ini kan, seperti ikan yang tertangkap dalam jala dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, kita tidak tahu kapan terjerat dalam waktu yang malang (Lih. Pengkhotbah 9:12). Tapi Tuhan juga sering memberikan kejutan, seperti pada hari kebangkitanNya: “Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba bediri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka, Damai sejahtera bagi kamu! Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu (Lukas 24:36-37)”. Di tengah-tengah kekhawatiran dan ketakutan murid-murid, dalam keraguan, dalam logika yang tidak mungkin secara manusiawi, bagaimana mungkin bangkit dari kematian? Mustahil! Namun itulah yang Ia lampaui, keraguan dan kemustahilan disebrangi menuju sebuah kepastian. Yesus hadir membawa kejutan damai sejahtera. Kejutan yang bagi kita terkadang tidak mungkin tapi mungkin bagiNya. Tuhan Yesus hadir membawa kejutan-kejutan baru dalam kehidupan kita saat ini.  Suka-duka dipakaiNya untuk kebaikanku.      

Selamat menerima kejutan-kejutan baru...

Rabu, 01 Juli 2015

Tunas Berii: Resensi BukuOleh                            : Beri...

Tunas Berii: Resensi BukuOleh                            : Beri...: Resensi Buku Oleh                            : Beriyanti Oktavia Damanik Judul Buku                  : Makna Wibawa Jabatan Dalam Gerej...
Resensi Buku
Oleh                            : Beriyanti Oktavia Damanik
Judul Buku                  : Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak
Penulis                         : Andar M. Lumbantobing
Penerbit                       : BPK-GM
Jumlah Halaman          : 338 halaman
Tahun Terbit                : 1996

I.                   PENDAHULUAN
Buku ini sebenarnya berjudul “Das Amt In Der Batak-Kirche” yang diterjemahkan dengan judul “Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak”. Buku ini berbicara tentang jabatan dalam gereja Batak Khususnya HKBP, buku ini menceritakan perkembangan tentang masalah jabatan dalam masyarakat Batak hingga munculnya dan berkembangnya keKristenan dalam suku Batak. Banyak perubahan yang terjadi dalam suku Batak setelah kehadiran injil akan tetapi berbicara mengenai jabatan dalam gereja Batak, kebudayaan suku Batak juga turut mempengaruhi jabatan dalam gereja Batak. Buku ini bagus untuk dibaca, akan tetapi buku ini kurang cocok untuk kalangan umum. Namun buku ini akan sangat bermanfaat untuk mahasiswa teologia khususnya orang yang sudah mengenal gereja Batak. Melalui buku ini kita dapat mengetahui bagaimana sebenarnya jabatan dalam gereja Batak dan melalui buku ini juga kita bisa mengetahui dan mengoreksi jabatan dalam gereja kita sendiri, apakah jabatan tersebut sudah sesuai dengan terang Alkitab. Akhir kata, marilah kita sadari bahwa dalam setiap jabatan Tuhan menyatakan kehadiranNya oleh karena itu jabatan tidak tergantung pada kualitas manusiawinya, melainkan semata-mata pada Tuhan yang telah mendirikankannya berdasarkan firman-Nya.

II.                ISI
Suku Batak di Zaman Keberhalaan
Suku Batak yang bermukim di bagian utara dan barat laut Pulau Sumatera terdiri dari enam suku atau cabang, yaitu suku Karo, Pakpak atau Dairi, Simalungun, Toba, Angkola, dan suku Mandailing. Suku Batak dimasukkan dalam rumpun Melayu, yang sebagian besar sekarang menyebut dirinya bangsa Indonesia. Menurut J. Warneck Batak berarti “penunggang kuda yang lincah” tetapi menurut H.N. vander Tuuk Batak berarti “kafir”, yang lain juga mengartikan Batak adalah “budak-budak yang bercap atau ditandai”. Masyarakat suku Batak juga sukar menerima pengaruh-pengaruh dari luar. Sifat tertutup orang Batak mulai terbuka setelah terjadi penyerbuan dan pendudukan Islam di bagian Selatan daerah Batak pada tahun 1830-an, yang kemudian disusul dengan masuknya RMG pada tahun 1861, hampir bersamaan dengan permulaan masa pendudukan Belanda secara bertahap atas daerah Batak. Gunung  Pusuk Buhit yang terletak di sebelah barat laut Danau Toba menurut mitologi Batak adalah tempat asal-usul Batak. Dalam mitologi ini juga dikenal Mulajadi Na Bolon, Sang Awal Yang Maha Besar yang berkuasa atas segala yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa suku Batak di jaman keberhalaan sudah percaya pada Allah Yang Esa, yang disebut Mulajadi Na Bolon. Mulajadi Na Bolon inilah yang dipercayai suku Batak sebagai pencipta manusia pertama. Dalam suku Batak ini juga dikenal dengan istilah sahala yang artinya kewibawaan, kemewahan, kemuliaan dan kekuasaan. Sahala ini memiliki pengaruh yang sangat besar dalam segala gerak hidup suku Batak. Oleh karena itu dengan berbagai cara setiap orang berusaha mendapatkan sahala. Menurut kepercayaan suku Batak sahala dapat diperoleh dari keluarga lelaki isterinya yang disebut dengan istilah hula-hula. Oleh karena itu suami wajib bersikap lebih hormat terhadap keluarga laki-laki isterinya. Selain itu pemujaan terhadap arwah juga dianggap sebagai salah satu cara untuk memperoleh sahala. Barang-barang milik orangtua juga dianggap dapat memberi sahala. Sahala juga dipercayai dapat diperoleh dari tamu yang datang, oleh karena itu suku Batak senang menerima tamu dan mereka sangat bertanggung jawab atas keselamatan tamu tersebut hal ini dikenal dengan istilah paramak so balunon. Suku Batak juga menganut sistem patriakhal dimana hanya anak laki-laki yang diakui sebagai anggota keluarga penuh dan sebagai ahli waris.       
Suku Simalungun juga sudah mengenal Jabatan yang disebut dengan tohonan pada zaman keberhalaan. Dalam masyarakat ada beberapa jabatan yang sering dikenal yaitu pertama, jabatan kepala suku sekaligus menjadi panglima, imam, dan raja. Kehendak kepala suku haruslah dituruti oleh rakyatnya dan dialah yang berhak memutuskan segala perkara yang terjadi di daerahnya. Kedua, datu imam yaitu orang yang paling menonjol dalam hal penyembahan kepada berhala-berhala. Ketiga, sibaso hasandaran (Medium; perantara) yaitu pengantara antara orang yang hidup dan mati dan umumnya terdiri dari kaum wanita. Keempat, ulubalang (Panglima pasukan) adalah seorang panglima pasukan yang diangkat dari salah seorang rakyat. Kelima, pangintuai (tua-tua kampung) yaitu tempat perundingan masyarakat untuk mengambil keputusan dan tempat pengaduan masyarakat. Suku batak percaya bahwa semenjak dalam kandungan seorang manusia sudah memiliki ancaman dari roh-roh jahat. Oleh karena itu untuk melindunginya maka sang ibu harus melakukan berbagai ragam pantangan. Pada saat melahirkan, sang ibu akan dibantu oleh sibaso (dukun beranak). Kemudian setelah anak lahir maka diminta bantuan datu untuk meramalkan jalan hidup anak tersebut. Pemberian nama dalam suku Batak juga sangat penting oleh karena itu dalam pemberina nama juga harus memilih hari yang baik. Saat usia seorang anak sudah mencapai umur 15-16 tahun maka akan diadakan upacara untuk memberi penekanan dalam proses peralihan dari anak-anak kepada masa dewasa. Setelah dewasa biasanya seorang pemuda juga akan menunjukkan kemahirannya dalam hal berpantun. Kemahiran ini akan dipertunjukkan pada kesempatan martandang (pergi mencari jodoh). Selain itu kesibukan lain muda-mudi adalah berteka-teki. Dalam hal perjodohan dan pernikahan biasanya pilihan pertama bagi orangtua si anak adalah pariban (Cross-cousin). Dan biasanya dalam hal ini juga dikenal dengan istilah membeli istri (Tuhor) artinya harga. Berbicara mengenai kematian dalam suku Batak setiap kematian menuntut diadakan upacara yang satu sama lain berbeda sesuai dengan perbedaan yang terdapat pada usia, kekayaan dan tingkat sosial orang yang meninggal itu. Menurut adat semakin tinggi usia dan semakin banyak kekayaan yang berhasil dirumpuk oleh orang yang meninggal dalam hidupnya maka akan semakin besar upacara penguburannya dan semakin lama juga jenazahnya diatahan diatas tanah. Kematian orang yang bertuah dan kaya ini juga akan diupacarai dengan membunyikan gondang (musik sakral yang terdiri dari gung besar dan kecil, serunai dan seruling) diiringi juga dengan tor-tor (tari) dan andung (ratapan tangis).     

Pembangunan Jemaat dan Perkembangan Gereja Batak
Pada masa pemerintahan Inggris, tahun 1820, Gereja Baptis Inggris mengirim tiga penginjil yaitu Burton, Ward dan Evans, mereka bertiga telah berhasil mencapai negeri Batak yang paling sentral yaitu Silindung. Disana mereka bertemu dengan seorang raja yang sudah lanjut usia dan mereka disambut dengan baik. Pada tahun 1834, dua orang misionaris Amerika yaitu Muson dan Lyman yang diutus oleh zending Boston juga tiba di Sibolga. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Silindung, akan tetapi dalam perjalan ketika mereka berhenti di Lobupininng, mereka ditangkap raja Panggalamei beserta rakyatnya akhirnya mereka disembelih dan dimakan (28 Juni 1834). Pada tahun 1856, Van Asselt diba di Sipirok (Angkola) dan bermaksud untuk melanjutkan perjalanannya ke daerah pedalaman. Namun pemerintah melarangnya masuk akibat kematian Muson dan Lyman. Dalam masyarakat suku Batak juga sangat dikenal perbudakan, dalam hal ini pemerintah belanda melakukan penghapusan perbudakan pada tahun 1876. Hal ini pun sangat membantu perkembangan injil. Pada saat itu juga Asselt juga berhasil membantu masyarakat mengatasi penyakit cacar yang pada saat itu berkembang di daerah Angkola. Tahun 1859, atas permintaan Asselt dan Emerlo maka dikirimlah dua orang misionaris yaitu Dammeboer dan Betz  untuk membantu penginjilan di Sipirok. Maka pada tanggal 7 Oktober 1861 didirikanlah Batakmision dan pada saat itu juga Asselt berhasil membaptis dua orang Batak yaitu Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar.  Tahun 1862 I.L. Nommensen pun tiba di Barus. Untuk sementara dia tinggal disana untuk belajar bahasa dan adat Batak. Waktu itu bagian selatan tanah Batak sudah tersebar agama Islam. Oleh karena itu pada tahun 1864 dia melanjutkan perjalanannya ke daerah tengah tanah Batak yaitu Lembah Silindung. Pada awalnya di Silindung Nommensen ditolak dan berusaha untuk dibunuh akan tetapi hal itu selalu gagal. Akhirnya ada orang-orang yang merasa takluk dan hormat padanya. Tetapi orang-orang tersebut dihina dan diusir dari kampung sehingga mereka lari dan tinggal bersama Nommensen yang membentuk suatu kampung yang disebut dengan nama kampung damai atau Huta Dame. Tahun 1873 Nommensen membuka pelajaran katekisasi yang pertama. Tahun ini juga Nommensen pindah ke Pearaja, sebuah tempat di lereng sebuah bukit. Tempat itu diberikan oleh raja Pontas yang menganggap sudah tiba waktunya untuk terbuka. Raja Pontas dibaptis dengan nama Obaja. Pemberitaan injil di daerah Batak pun sangat maju. Akan tetapi pada tahun 1887, seorang yang bernama Sarbut, membakar gereja, sekolah dan rumah pendeta, akhirnya dia ditangkap oleh pemerintah. Si Singamangaraja juga sangat marah melihat begitu banyak orang Batak yang meninggalkan agama nenek moyang dan kepatuhan pada adat-istiadat. Sikap permusuhan si Singamangaraja terhadap gereja tidak pernah memudar sampai akhir hayatnya. Tepat pada tanggal 17 Juni 1907, dia bersama dua orang anaknya ditangkap kompeni dan ditembak mati atas tuduhan pembunuhan dan pembakaran. Pertambahan orang Kristen pun semakin pesat dalam waktu yang singkat. Dalam sepuluh tahun pertama, setelah zending bekerja di daerah Batak, kira-kira 1200 orang Batak menjadi orang Kristen. Keberhasilan zending juga banyak disebabkan karena cara pendekatan mereka yang sesuai dengan norma yang berlaku. Tahun 1930, gereja Batak dinyatakan sebagai sebuah badan hukum. Pada tahun yang sama  Warneck manyusun tata gereja baru. Namun pecahnya Perang Dunia menjadi salah satu tantangan yang cukup besar terhadap HKBP, masa-masa sulit pun terus berlangsung hingga penjajahan Jepang dan sampai revolusi kemerdekaan Indonesia (1950). Tahun 1952, permohonan HKBP untuk diterima menjadi anggota badan Gereja-gereja Luther sedunia (Lutheran World Federation; LWF) diterima. Salah satu persyaratan LWF untuk menjadi calon anggota adalah menyerahkan konfensi atau pengakuan gerejawi. Oleh karena itu dengan segera disusunlah pengakuan iman dan disahkan pada sinode 1951. Itulah yang disebut Pengakuan Percaya (Konfessi) Huria Kristen Batak Protestan. Pengakuan itu adalah produk teologis pertama pendeta-pendeta gereja Batak yang bumiputra. Dalam perkembangannya gereja ini juga jemaat-jemaat bertumbuh menjadi gereja yaitu jemaat cabang yang diasuh oleh sintua (penatua) atau porhanger (pemimpin jemaat), jemaat induk (Ressort), Wilayah Gereja (Distrik), Gereja keseluruhan (Huria Kristen Batak Protestan; HKBP). HKBP dipimpin Sinode Agung yang berlangsung sekali setahun. Pada dasawarsa 1920-1950 ternyata gereja ini semakin banyak berinteraksi dengan orang-orang Kristen bukan Batak, sehingga gerakan oikumene pada kurun waktu terakhir ini memainkan peranan yang cukup besar. Dalam tata gereja Sinode dibangun diatas dasar Presbyterial. Tetapi peraturan mengenai jabatan gereja di dalam pasal V, tampak jelas didasarkan pada watak episkopal.

Jabatan dan Tugas Pejabat di Dalam Gereja Batak
Ada pun jabatan-jabatan yang dikenal dalam gereja Batak yaitu:
Penatua (sintua) yaitu orang yang bertugas untuk mengawasi supaya kebaktian-kebaktian rumah tangga yang telah ditetapkan berlangsung dengan baik, mengusahakan supaya orang yang menderita sakit tidak mencari pertolongan pada datu, mengamati supaya para wanita tidak bekerja ke sawah/ladang pada hari minggu, memberi pertolongan dan penghiburan pada orang yang merasa dirinya gagal menjadi Kristen.
Penginjil (Evangelis) yaitu orang-orang yang diangkat dari kalangan penatua. Hal ini dikenal dengan nama Voorganger (Pengantar Jemaat). Untuk itu diadakanlah kursus calon-calon pengantar jemaat yang disebut sekolah penginjil (Evangelis).
Kateket dan Guru yaitu yaitu orang-orang yang dipersiapkan untuk menjadi pembantu bagi misionaris dalam pekerjaan di jemaat. Kebanyakan jemaat diurus dan dirawat oleh guru jemaat. Jabatan guru huria pada awal kegiatan sending merupakan jabatan yang sangat digemari dan sangat diinginkan, namun lambat laun telah kehilangan daya tariknya.
Guru penolong (Guru bantu) yaitu jabatan guru penolong ini merupakan jabatan yang khas untuk Sumatera. Mereka terdiri dari anak-anak muda yang telah menamatkan sekolah desa, tetapi sama sekali tidak pernah mengikuti pendidikan guru. Umumnya mereka ditempatkan di sekolah sekolah desa dibawah pengawasan ketat oleh seorang guru.
Pandita (Pendeta) yaitu orang-orang yang dicari sebagai pengkhotbah dari kalangan guru-guru yang terbaik, yang sudah cukup lama bekerja dan memilki reputasi yang baik di dalam jemaat. Umumnya para calon pendeta itu sudah bekerja sebagai guru selama 6-12 tahun dan sudah menikah. Mereka diwajibkan untuk membawa keluarganya ke seminari. Isteri mereka sebagai pendamping mereka dalam pelayanan, juga turut mendapat bimbingan dalam pengetahuan Alkitab di samping hal-hal yang menyangkut urusan rumahtangga. Setelah mengakhiri kursus, para calon pendeta ini pun melakukan percobaan selama setengah tahun di jemaat, sebelum mereka ditahbiskan sebagai pendeta pembantu. Namun ketentuan ini akhirnya di hapuskan. Dalam perkembangannya munculnya HIS (Holland Inlandse Scholl) yang didirikan pada tahun 1909, segera disusul dengan sekolah-sekolah serupa. Pada tahun 1924 disepakatilah untuk menerima pemuda-pemuda tamatan HIS yng suda berumur 17-18 tahun untuk dipersiapkan mengikuti sekolah pendeta di Sipoholon. Tahun 1934 didirikanlah Sekolah Teologia Tinggi (Hoogere Theologische School; HTS) di Bogor dan kemudian dipindahkan ke Jakarta. Pendidikan Sekolah Theologia Tinggi ini berlangsung selama 6 tahun. Tamatan Sekolah Theologia Tinggi itulah yang harus menggantikan kedudukan para ahli theologia bangsa asing dan yang harus memikul tanggung jawab untuk menemukan suatu bentuk theologianya sendiri. Tahun 1954 Sekolah Theologia Tinggi berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Theologia.      
Pembantu Jemaat dan Porhanger (Voorganger) yaitu orang yang hanya mengerjakan pekerjaan jemaat. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan jemaat-jemaat kecil yang sangat membutuhkan tenaga pembantu yang mempunyai pengetahuan dan pendidikan yang lebih baik dari penatua.
Bendaharawan yaitu orang yang dipilih dari kalangan penatua yang ditugaskan untuk mengumpulkan sumbangan untuk gereja dan untuk pengawasan serta harta jemaat dengan kata lain mengurus segala harta dan milik gereja.
Diaken (Syamas) dan pekerjaan diakonia yaitu orang bekerja sebagai penghibur dan perawat orang sakit akan tetapi hal ini tidak berjalan dengan baik. Namun lama-kelamaan gereja semakin sadar bahwa diakonia tidak dapat diabaikan begitu saja. Dalam sinode HKBP 1951 dibentuklah seksi sosial yang kemudia disebut seksi diakonia.
Bijbelvrouw (Penginjil Wanita) yaitu orang yang mengunjungi setiap jemaat dalam satu wilayah untuk mengajar dan mengadakan kebaktian khusus bersama kaum ibu dan gadis-gadis. Disamping itu turut menyebarkan firman.
Raja (Kepala Kampung atau Kepala Puak) yaitu orang yang mempunyai tugas yaitu sebagai kepala keluarga yang bertanggungjawab atas ketertiban hidup jemaat. Namun kemudian hari hal ditiadakan di samping itu, setelah Indonesia merdeka kekuasaan raja secara praktis tiada lagi.
Imamat Am Orang-Orang Percaya yaitu anggota jemaat yang diikutsertakan dalam pelayan. Dimana setiap hari minggu, setelah kebaktian dipilih 3 atau 4 orang diantara anggota yang dianggap paling mampu untuk bersama-sama pergi mengunjungi penduduk desa yang berdekatan guna memberitakan Firman yang mereka dengar.
Adapun bidang-bidang pelayanan lain dalam gereja batak yaitu tampak dalam berbagai nama-nama seksi seperti Dewan Pengajaran dan Pendidikan, Seksi Pangubation (Kesehatan), Zending Batak, Seksi Diakonia, Seksi Wanita, Seksi Lektur, Seksi Naposobulung (Pemuda-Pemudi) dan Patnership in Obidience.

Masalah-Masalah Khusus dalam Sistem Jabatan HKBP
            Jabatan dalam HKBP memilki hubungan yang cukup erat dengan struktur masyarakat Batak, hal ini terlihat dari unsur-unsur gereja rakyat dimana gereja Batak adalah gereja rakyat yang dicita-citakan oleh Nommensen. Wawasan gereja rakyat ini masih dekat dengan pikiran orang Batak, bahwa melalui organisme ikatan kekeluargaan yang lebih kecil pada akhirnya pasti dapat diciptakan suatu struktur masyarakat yang kolektivistik. Cara berpikir itu jelas tidak tanpa bahaya, karena orang-orang akan merasa lebih tertarik untuk memandang persekutuan gerejawi sebagai produk sosial atau sekurang-kurangnya sebagai produk perkembangan kehidupan masyarakat. Selain itu kelompokisme dan nepotisme juga berdampak dalam jabatan-jabatan gerejawi dan telah membuat setiap marga merasa wajib mencalonkan seorang dari kelompoknya sendiri untuk suatu jabatan; jadi bukan lagi soal watak atau kharisma seorang calon yang menjadi persyaratan utama. Nepotisme itu tidak terbatas pada tingkat marga terdekat saja, tetapi meluas sampai juga ke kelompok marga keluarga yang lebih jauh, yang masih terhitung semoyang atau saompu. Berbicara mengenai Hierarki (jenjang jabatan dalam gereja), menurut pemahaman agama suku hidup rohani dan hidup jasmani berada dalam dunia yang sama. Karena itu, dianggap wajar kalau raja membantu pekerja gereja mengurus soal-soal spiritual. Penghormatan terhadap para pekerja jemaat itu masih akan tambah tinggi, kalau terbukti mereka mampu menyelesaikan suatu pertikaian atau perkara yang terjadi di jemaat dengan baik. Mengenai jabatan bendahara, menurut Warneck jabatan itu diciptakan hanya ingin mempertahankan sifat patriakhal yang menjadi dasar masyarakat Batak dalam kepengurusan gereja. Hal itu sesuai dengan pemikiran tata gereja rakyat. Jabatan di HKBP juga memilki hubungan dengan pemerintah kolonial, hal ini terlihat dari pengaruh pemerintahan kolonial terhadap wibawa pejabat gereja dimana pemerintah kolonial saat itu sangat dihormati ketika mereka mau memilki hubungan yang akrab, hal ini pun membuat jabatan sintua (penatua) menjadi sangat menarik. Hierarki kolonial juga sangat berpengaruh terhadap sistem jabatan gereja hal ini terlihat dari ketergantungan hubungan antara gereja dan zending, sehingga menimbulkan ketergantungan yang memaksa gereja untuk menyesuaikan sistem hierarkinya dengan sistem yang terdapat pada hierarki pemerintah kolonial. Kedudukan khusus para pejabat gereja juga secara nyata dapat dilihat dalam ketentuan yang menetapkan bahwa semua pemangku jabatan gereja bebas kerja wajib (rodi). Hal ini menunjukkan bahwa peghapusan kewajiban rodi itu bagi para pemangku jabatan gereja dapat dianggap sebuah privilege (hak istimewa). Namun setelah pemerintah kolonial membuka berbagai kesempatan yang lebih baik untuk mendapatkan gaji dan pangkat yang lebih tinggi, jabatan gereja berangsur kehilangan daya tariknya. Hal lain yang turut menyebabkan merosotnya penghargaan umum terhadap jabatan gereja ialah, sudah semakin banyak anak Batak yang pergi bersekolah ke Pulau Jawa. Dan yang menjadi titik terendah kemerosotan tersebuat adalah ketika didirikannya pemerintah distrik dan menetapkan kepala distrik sebagai penguasa satu-satunya di distrik itu. Pengaruh teologi pietisme juga turut mewarnai jabatan gereja dimana pada saat itu zending yang datang ke daerah Batak adalah berasal dari lingkungan pietisme. Pengaruh ini juga tidak terlepas dari pemikiran Nommensen. Namun untuk selanjutnya, pengaruh ini mulai bergeser denga hadirnya pendeta-pendeta baru dari Sekolah Theologia Tinggi Jakarta, yang berdasar pada pemikiran Barth. Perlu diketahui juga bahwa ternyata pengaruh magis dan sakramentalisme tidak pernah menghilang dari suku Batak. Tidak diragukan lagi bahwa berbagai unsur dari pemikiran dari zaman kekafiran itu turut terbawa kedalam hidup kekristenan mereka. Di dalam gereja Batak juga, sudah menjadi suatu ketentuan yang tidak tertulis bahwa toga atau talar hanya boleh dipakai oleh seorang yang ditahbiskan sebagai pendeta. Hierarki zending juga turut berpengaruh terhadap jabatan di gereja Batak. Hal ini terlihat dari kebijaksanaan gerejawi besar artinya kalau kekuasaan berada di tangan pimpinan gereja Batak untuk menempatkan dan memindahkan para pekerja gereja. Betapa kuatnya pengaruh sistem hierarki yang diwariskan zending itu tampak pada kenyataan, bahwa sampai sekarang sistem itu masih tetap berlaku, walaupun banyak masalah terjadi di sekitar penempatan pekerja itu.



Jabatan (Pelayanan) HKBP dilihat dalam Terang Alkitab
            Untuk mendapatkan suatu titik tolak yang positif serta gambaran yang lebih jelas tentang arti struktur jabatan dalam HKBP secara Alkitabiah, lebih dulu harus diperhatikan pengertian-pengertian apa yang tersimpul dalam pasal-pasal pengakuan iman (konfessi) HKBP yang disahkan pada tahun 1952. Dalam gereja HKBP jelaslah dinyatakan hanya Allah Tritunggal lah pelaku yang bebas dan dengan demikian jemaat secara bulat berasal dari anugerah-Nya yang bebas berdasarkan pilihan dan kehendak-Nya sendiri. Jadi tidak ada kemungkinan untuk membentuk jemaat atau gereja menurut garis atau lingkungan manusiawi yang horizontal dan imanen. Gereja adalah Communio Sanctorum (Persekutuan orang kudus) yaitu kesatuan yang tak terpecahkan dan Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja. Persekutuan orang Kristen dengan Yesus didasarkan pada sakramen dan firman. Gereja Kristus tetap sama, terutama dalam empat dimensi berikut: gereja selalu sama disegala tempat (oikumenis), di segala zaman, di dalam semua persekutuan, dan di dalam hubungan dengan masing-masing anggotanya. Kesatuan gereja tidak hanya mencakup gereja pada masa kita saja, melainkan mencakup juga gereja masa silam yang akan ada. Dengan demikian gereja mencakup anggotanya yang hidup dan yang mati. Hukum siasat gereja berada di bawah pemberitaan injil dan pelayanan sakramen. Hukum siasat gereja menjungjung kekudusan dan kemuliaan Allah di dalam jemaat dan memenuhi pelayanan kasih di Bidang penggembalaan demi perbaikan dan pemurnian hidup. Hukum siasat gereja diperkenalkan dalam gereja Batak supaya dengan demikian orang Kristen dapat dibiasakan dengan cara-cara kebiasaan hidup Krsitiani yang baik, tertib dan berbudi. Kehadiran gereja rakyat secara teologis tidak dapat dibenarkan karena akan memberikan peluang untuk menjadikan ikatan-ikatan lama, dalam hal ini ciri kesukuan atau faktor-faktor etnis, menjadi pokok pertimbangan yang penting dalam usaha pembangunan jemaat. Oleh karena itu batas antara gereja dan dunia, dalam hal ini suku sebagai norma sosiologis, tidak terlihat lagi. Dalam keadaan ini iman Kristen bercampur aduk dengan agama suku. Dalam hal pelayan gereja Batak memakai kata Diakonia, hal ini menunjukkan bahwa seorang pekerja Kristus wajib melaksanakan tugas pelayanan dengan sabar dan rendah hati. Dalam gereja Batak ini juga dikenal dengan istilah Munus Triplex Kristus, hal ini sangat berarti karena pengaruh pietisme yaitu Keteladanan Yesus Kristus, karya Kristus sebagai imam, nabi dan raja tidak ditampilkan dengan tepat. Seharusnya diatas segalanya harus ditekankan bahwa Yesus bukan hanya Raja dalam Gereja-Nya melainkan juga untuk seluruh dunia. Harus disadari juga bahwa setiap jabatan adalah anggota biasa dalam jemaat, sama seperti orang-orang percaya lainnya dan dia tidak memperoleh khrisma khusus yang menjadikan dia berbeda dari anggota-anggota lainnya. Namun demikian jelas pula bahwa jabatan itu mempunyai kuasa tertentu, suatu kuasa yang bersifat relatif (Berdasarkan hubugan dengan si pemberi kuasa) dan tentu merupakan sesuatu yang didasarkan pada Firman Allah. Dalam hal ini, maka setiap jabatan dapat diakui sebagai kharisma yaitu: Rasul (apostel), Presbyter (Penatua; Sintua), Diaken (syamas), Nabi, Natondi-tondion (yang dipenuhi roh), Guru Jemaat (Pengantar Jemaat), Penginjil (Evangelis), Gembala, Penilik (Episkopoi, Bishop, Uskup), Raja-raja (Kepala marga).