Minggu, 10 Mei 2015

Percaya Diri

Sore itu, kita duduk manis di teras rumah sambil nikmatin semangkok mie ayam. Habis itu kita cerita-cerita, kita tu rame, cowok-cewek pada ngumpul di rumah itu. Perlahan-lahan masing-masing cowok ngobrol ma satu cewek, jadi ngobrolnya pasang-pasangan gitu, kecuali gue ni. Kasihan. Eh, tiba-tiba ada seorang cowok yang nyamperin gue. Senang deh, kaga jadi jaga nyamuk. Cerita demi cerita, tu cowok liatin tangan gue melulu, posisi tangan gue ni pas banget di pangkuan gue. Habis itu gue makin ga pede gitu deh, udah dari tadi juga gue sebenarnya kaga pede, apalagi diliatin begitu.
“dek…” si abang ngomong ni
“iya bang” gue ngejawab
“pasti kau ga pede kan?”
“hi… J” senyum sial ni. Shit, gue ketahuan, pikir gue kesal.
“soalnya dari tadi abang liat tangan kamu ga bisa diam, gerak-gerak terus” si abang lagi ni.
“hi…. :) ” Kali kedua gue senyum sial ni dibuat si abang.
Betul sekali, tangan gue sedari tadi kaga bisa diam sih, rusak suasana aja. Dan betul dua kali, tadi kan sekali, gue emang ga pede. Ni kejadian waktu gue masih muda dulu, waktu SMA, dan kejadian ini cukup melekat di hati dan pikiran gue sampai saat ini.
Jujur dan terus terang, gue memang bukan orang yang pede. Apalagi pede banget, pede abis, pede gila, dan pede-pede lainnya, ga banget deh. Gue itu orangnya kuper (Kurang percaya diri, kurang pergaulan dikit-dikit), gue mah gitu orangnya. Pada akhirnya gue sering bergumul ni soal kurangnya ke-pede-an gue ini. Gue selalu mikir gimana ya, biar bisa pede kayak orang-orang??? Sedang mikir ni…
Pede ni bahasa gaulnya percaya diri, confidence . Secara etimologi kata percaya diri dapat diartikan demikian, “percaya” berarti yakin, believe, trust, meyakini, mengakui bahwa sesuatu benar adanya. Sementara “diri” berarti orang seorang (terpisah dari lain); badan, kelas kata ini adalah kata benda yang menyatakan diri sendiri, , self, my self. Sehingga dapat disimpulkan bahwa percaya diri itu adalah meyakini atau yakin pada diri sendiri, mengakui bahwa dirinya sendiri itu benar adanya atau punya eksistensi. Begitu kira-kira ya sederhananya ya. Nah, berarti gue jarang ni meyakini keberadaan gue sendiri, buset dah. Menurut para ahli ni, Lauster misalnya mengatakan bahwa kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau keyakinan atas kemampuan diri sendiri, sehingga dalam tindakan-tindakannya tidak terlalu cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan tanggung jawab atas perbuatannya, sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki dorongan prestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Thantaway dalam Kamus istilah Bimbingan dan Konseling mengatakan, percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan. Orang yang tidak percaya diri memiliki konsep diri negatif, kurang percaya pada kemampuannya, karena itu sering menutup diri. Lanjut tentang gue…
Gue emang dah selalu berusaha tuk bisa pede gitu, tapi ada aja yang gagal. Seringan gagal sih. Gue jadi penakut, kurang pede emang sangat menurunkan keberanian, untung ga nurunin berat badan, bisa kurus kering gue. Apalagi kalau nyanyi ni, astaga, gue ga pede, kecuali rame-rame, gue kuat-kuatin aja suara gue.  Gue sampe coba-coba nyanyi-nyanyi sendiri di kamar mandi, di kamar, biar orang ga denger suara gue yang cempreng ni. Trus gue coba buat video nyanyi berdua ma Demi Lovato lagunya “let it go” sambil bikin-bikin ekspresi gitu. Dalam hati gue, masukin youtube ni, biar terkenal. Eh, salah, maksud gue, gue tu uji keberanian dan kepedean. Habis rekaman, gue tonton tu video, alamak, minta ampun dah, ga pede banget masukinnya. Gue emang ga bisa nyanyi dan jarang nyanyi. Apalagi tampil di depan banyak orang, tiba-tiba suara gue ga bisa keluar saking ga pedenya. Jadi lipsing deh, itu pun tak pede. Itu kalau nyanyi. Beda kalau nari, makin gue ga pede, soalnya badan gue kayak kayu-kayu. Kaku bingit. Lu, liat gue nari : “mendingan liat topeng monyet dah” ni yang keluar dari mulut lu ntar. Kalau lu liat profil gue ni, lu bakal tau, gue jurusan teologia, paling ga, gue itu public speaking ya, seseorang yang bisa, bahkan udah terbiasa berbicara di hadapan orang banyak, di mimbar lagi. Ya, setelah dipikir-pikir kalau gue khotbah di gereja atau dimana pun itu, perasaan gue baik-baik aja, gue ngerasa gue ga kaku, dan gue juga ga terlalu serius, gue tu enjoy, dan mengalir begitu saja. Kekuatan Roh kali ya. I don’t Know. Lu bisa tanya ma teman gue yang pernah satu tempat praktek ma gue waktu kuliah dulu, bahkan gue bisa dibilang ga kalah lah ma yang lain-lain yang sudah terbiasa, hasil praktek gue selalu A. Ni dah kepedean ya?? Ga, ni serius, ya gue selalu dapat nilai bagus waktu praktek. Jemaat juga selalu kasi pujian ma Tuhan, kadang-kadang ma gue. Selain pede tampil di hadapan para jemaat, gue juga pede main drama, baik itu drama romance, cie.., horror, komedi, dll. Gue ga kalah deh ma artis-artis. Yang ini makin gatau kekuatan roh mana yang datang.  Jadi begini, Faktor yang mempengaruhi rasa percaya diri pada seseorang menurut Thursan Hakim sebagai berikut: Lingkungan keluarga, Keadaan lingkungan sangat mempengaruhi pembentukan awal rasa percaya diri pada seseorang. Rasa percaya diri merupakan suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang ada pada dirinya dan diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari. Pendidikan Formal, Sekolah bisa dikatakan sebagai lingkungan kedua bagi anak, dimana sekolah merupakan lingkungan yang paling berperan bagi anak setelah lingkungan keluarga dirumah. Sekolah memberikan ruang pada anak untuk mengekspresikan rasa percaya dirinya terhadap teman-teman sebayanya. Dan Pendidikan non formal, Salah satu modal utama untuk bisa menjadi seseorang dengan kepribadian yang penuh rasa percaya diri adalah memiliki kelebihan tertentu yang berarti bagi diri sendiri dan orang lain. Rasa percaya diri akan menjadi lebih mantap jika seseorang memiliki suatu kelebihan yang membuat orang lain merasa kagum. Kemampuan atau keterampilan dalam bidang tertentu bisa didapatkan melalui pendidikan non formal.  Secara formal dapat digambarkan bahwa rasa percaya diri merupakan gabungan dari pandangan positif diri sendiri dan rasa aman. Selain itu, menurut Loekmono rasa percaya diri tidak terbentuk dengan sendirinya melainkan berkaitan dengan seluruh kepribadian seseorang secara keseluruhan. Kepercayaan diri juga membutuhkan hubungan dengan orang lain di sekitar lingkunganya dan semuanya itu mempengaruhi pertumbuhan rasa percaya diri. Dalam hal ini dapat dikatakan kepercayaan diri muncul dari individu sendiri karena adanya rasa aman, penerimaan akan keadaan diri dan adanya hubungan dengan orang lain serta lingkungan yang mampu memberikan penilaian dan dukungan, sehingga mempengaruhi pertumbuhan rasa percaya diri. Dukungan yang ada serta penerimaan dari keluarga dapat pula mempengaruhi rasa percaya diri dalam hal ini adalah remaja sebagai anggota keluarga. Orangtua mampu memberikan nasehat, pengarahan, informasi kepada remaja dalam kaitannya dengan rasa percaya diri.
Sejauh ini, dengan memperhatikan sejarah perjalanan hidup gue selama 23 tahun di dunia, setelah gue telusuri satu per satu, tiap babak hidup gue, gue singgahin, gue lihat bahwa faktor terbesar yang mempengaruhi kekurangan pede gue ini ada pada faktor pertumbuhan gue dalam keluarga. Yah, ceritanya begitu panjang. Gue lebih lama sih tinggal ma ortu daripada tinggal sendiri. Hehe. Tapi itu bukanlah hal yang patut untuk disalahkan, atau diapa-apain, gue hanya perlu mendaur ulang diri sendiri. Percaya diri adalah bagian yang sangat positif dan patut untuk dibangun dalam diri setiap orang.
Cukup sekian, gue ngantuk sangat sudah, marpala-pala bikin ni postingan, postingan ini bagian usaha untuk membangun rasa percaya diri, Selamat membangun rasa percaya diri, tapi ini bukan bagian dari 33 seri selamat karya Amang Andar Ismail,

Selamat malam,..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar