Senin, 11 Mei 2015

Palipi di hari itu

Di Minggu pagi yang cukup cerah itu kami tiba di pulau Samosir, tepatnya di Palipi. Sesuai dengan schedule time yang sudah disiapkan oleh sie.acara, setibanya di tempat tujuan tercinta ini kami akan Ibadah Minggu (Opening Ceremoni), demikian kata-kata yang tertulis dalam schedule time. Maka segala persiapan pribadi dilakukan dengan begitu buru-buru. Segera setelah meletakkan barang dan persiapan pribadi dalam waktu yang begitu singkat itu, semua peserta menuju aula. Aula? Sepertinya tidak sih, kayak kantin-kantin gitu ah. Tapi ya sudah lah. Para peserta duduk di tikar. Terlihat song leader sudah berdiri dengan begitu rapi di bagian depan, pakaiannya begitu resmi, jas untuk pria tambah blejer untuk kaum wanitanya. Rapi sekali, namun disayangkan pusat perhatian orang begitu hebat jadinya kepada mereka, bukannya kepada liturgisnya, pakaian liturgisnya hanya kemeja biasa tak pakai embel-embel.
“Jemaat kami undang untuk bangkit berdiri” terdengar suara liturgis memberi ajakan.
Sedikit membuat saya terkejut, sebab perhatian saya memang kian kesana-kemari mengamati segala situasi.
“Hahahaha” tawaku geli dalam hati.
Nampaknya semua peserta stres, semua wajah terlihat murung dan mutung. Sebenarnya sih saya tidak tahu betul alasan yang membuat mereka murung, kemungkinan ada beberapa hal, pertama, hmmm, tempatnya tidak seperti yang dibayangkan atau tidak sesuai harapan. Kedua, mungkin juga karena begitu cape setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sekitar 8 jam gitu lah jadi ga semangat. Dan yang ketiga, gabungan dari keduanya, klop deh stresnya.
“Nats renungan untuk pagi yang indah ini, di tepi pantai yang manis ini terambil dari Matius 21: 14-22” terdengar kembali suara dari depan, kali ini dari pengkhotbah.
Ops, saking sibuknya saya memperhatikan semua peserta, saya malah sudah tidak tahu perjalanan acara, ternyata sudah khotbah.
“Ah, roa pe” terdengar celoteh salah seorang peserta dari belakang, persisnya suara seorang pria.
“Hahahaha” tawa geliku kembali hadir mendengar celoteh kejujuran itu. Bagiku dia jujur, sebab pantainya bagiku juga tidak manis.    
“Buka facebook akh” pikirku sambil membuka kotak pensil.
Saya memang sudah terbiasa dengan kotak pensil, walaupun sudah mahasiswa. Isinya sudah pasti seperangkat alat tulis-menulis namun tidak pernah ketinggalan seperangkat alat komunikasi juga yaitu handphone. Kali ini saya melanggar rambu-rambu peserta yang tertera pada halaman 5, tepatnya no. 5 juga, dengan bunyi demikian “Setiap peserta retreat diharuskan menjaga ketertiban setiap kegiatan dengan tidak mengobrol, tidur, Fb-an, merokok, keluar masuk ruangan, dan telfonan”.
“Wow, sudah kuduga” gumamku dalam hati.
Banyak peserta yang sudah ON dalam dunia maya, dan semua peserta mengomel dalam dunia maya lewat status fbnya. Segera kututup fbku mengingat biaya yang mahal untuk itu. Terkadang memang tak bisa menuntut begitu saja, ribut sesuka hati mengeluarkan uneg-uneg, semua harus sesuai dengan situasi dan kondisi, semua ada masanya, pas evaluasi kan bisa keluarin uneg-uneg. Tapi kadang-kadang gada keberanian juga, akhirnya hanya tersalur pada dunia maya. Inilah sepenggal cerita pagi di 22 Mei 2011. Palipi di hari itu.


     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar