Di
Minggu pagi yang cukup cerah itu kami tiba di pulau Samosir, tepatnya di
Palipi. Sesuai dengan schedule time yang sudah disiapkan oleh sie.acara,
setibanya di tempat tujuan tercinta ini kami akan Ibadah Minggu (Opening
Ceremoni), demikian kata-kata yang tertulis dalam schedule time. Maka segala
persiapan pribadi dilakukan dengan begitu buru-buru. Segera setelah meletakkan
barang dan persiapan pribadi dalam waktu yang begitu singkat itu, semua peserta
menuju aula. Aula? Sepertinya tidak sih, kayak kantin-kantin gitu ah. Tapi ya
sudah lah. Para peserta duduk di tikar. Terlihat song leader sudah berdiri
dengan begitu rapi di bagian depan, pakaiannya begitu resmi, jas untuk pria
tambah blejer untuk kaum wanitanya. Rapi sekali, namun disayangkan pusat perhatian
orang begitu hebat jadinya kepada mereka, bukannya kepada liturgisnya, pakaian
liturgisnya hanya kemeja biasa tak pakai embel-embel.
“Jemaat
kami undang untuk bangkit berdiri” terdengar suara liturgis memberi ajakan.
Sedikit
membuat saya terkejut, sebab perhatian saya memang kian kesana-kemari mengamati
segala situasi.
“Hahahaha”
tawaku geli dalam hati.
Nampaknya
semua peserta stres, semua wajah terlihat murung dan mutung. Sebenarnya sih
saya tidak tahu betul alasan yang membuat mereka murung, kemungkinan ada
beberapa hal, pertama, hmmm, tempatnya tidak seperti yang dibayangkan atau
tidak sesuai harapan. Kedua, mungkin juga karena begitu cape setelah menempuh
perjalanan yang cukup panjang, sekitar 8 jam gitu lah jadi ga semangat. Dan
yang ketiga, gabungan dari keduanya, klop deh stresnya.
“Nats
renungan untuk pagi yang indah ini, di tepi pantai yang manis ini terambil dari
Matius 21: 14-22” terdengar kembali suara dari depan, kali ini dari
pengkhotbah.
Ops,
saking sibuknya saya memperhatikan semua peserta, saya malah sudah tidak tahu
perjalanan acara, ternyata sudah khotbah.
“Ah,
roa pe” terdengar celoteh salah seorang peserta dari belakang, persisnya suara
seorang pria.
“Hahahaha”
tawa geliku kembali hadir mendengar celoteh kejujuran itu. Bagiku dia jujur,
sebab pantainya bagiku juga tidak manis.
“Buka
facebook akh” pikirku sambil membuka kotak pensil.
Saya
memang sudah terbiasa dengan kotak pensil, walaupun sudah mahasiswa. Isinya
sudah pasti seperangkat alat tulis-menulis namun tidak pernah ketinggalan
seperangkat alat komunikasi juga yaitu handphone. Kali ini saya melanggar
rambu-rambu peserta yang tertera pada halaman 5, tepatnya no. 5 juga, dengan
bunyi demikian “Setiap peserta retreat diharuskan menjaga ketertiban setiap
kegiatan dengan tidak mengobrol, tidur, Fb-an, merokok, keluar masuk ruangan,
dan telfonan”.
“Wow,
sudah kuduga” gumamku dalam hati.
Banyak
peserta yang sudah ON dalam dunia maya, dan semua peserta mengomel dalam dunia
maya lewat status fbnya. Segera kututup fbku mengingat biaya yang mahal untuk
itu. Terkadang memang tak bisa menuntut begitu saja, ribut sesuka hati
mengeluarkan uneg-uneg, semua harus sesuai dengan situasi dan kondisi, semua
ada masanya, pas evaluasi kan bisa keluarin uneg-uneg. Tapi kadang-kadang gada
keberanian juga, akhirnya hanya tersalur pada dunia maya. Inilah sepenggal
cerita pagi di 22 Mei 2011. Palipi di hari itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar