Sore
itu, kita duduk manis di teras rumah sambil nikmatin semangkok mie ayam. Habis
itu kita cerita-cerita, kita tu rame, cowok-cewek pada ngumpul di rumah itu.
Perlahan-lahan masing-masing cowok ngobrol ma satu cewek, jadi ngobrolnya
pasang-pasangan gitu, kecuali gue ni. Kasihan. Eh, tiba-tiba ada seorang cowok
yang nyamperin gue. Senang deh, kaga jadi jaga nyamuk. Cerita demi cerita, tu
cowok liatin tangan gue melulu, posisi tangan gue ni pas banget di pangkuan
gue. Habis itu gue makin ga pede gitu deh, udah dari tadi juga gue sebenarnya
kaga pede, apalagi diliatin begitu.
“dek…”
si abang ngomong ni
“iya
bang” gue ngejawab
“pasti
kau ga pede kan?”
“hi…
J”
senyum sial ni. Shit, gue ketahuan, pikir gue kesal.
“soalnya
dari tadi abang liat tangan kamu ga bisa diam, gerak-gerak terus” si abang lagi
ni.
“hi….
:) ” Kali kedua gue senyum sial ni dibuat si abang.
Betul
sekali, tangan gue sedari tadi kaga bisa diam sih, rusak suasana aja. Dan betul
dua kali, tadi kan sekali, gue emang ga pede. Ni kejadian waktu gue masih muda
dulu, waktu SMA, dan kejadian ini cukup melekat di hati dan pikiran gue sampai
saat ini.
Jujur
dan terus terang, gue memang bukan orang yang pede. Apalagi pede banget, pede
abis, pede gila, dan pede-pede lainnya, ga banget deh. Gue itu orangnya kuper
(Kurang percaya diri, kurang pergaulan dikit-dikit), gue mah gitu orangnya.
Pada akhirnya gue sering bergumul ni soal kurangnya ke-pede-an gue ini. Gue
selalu mikir gimana ya, biar bisa pede kayak orang-orang??? Sedang mikir ni…
Pede
ni bahasa gaulnya percaya diri, confidence
. Secara etimologi kata percaya diri dapat diartikan demikian, “percaya”
berarti yakin, believe, trust, meyakini, mengakui bahwa sesuatu
benar adanya. Sementara “diri” berarti orang seorang (terpisah dari lain);
badan, kelas kata ini adalah kata benda yang menyatakan diri sendiri, , self, my self. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa percaya diri itu adalah meyakini atau yakin pada diri
sendiri, mengakui bahwa dirinya sendiri itu benar adanya atau punya eksistensi.
Begitu kira-kira ya sederhananya ya. Nah, berarti gue jarang ni meyakini
keberadaan gue sendiri, buset dah. Menurut para ahli ni, Lauster misalnya
mengatakan bahwa kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau keyakinan atas
kemampuan diri sendiri, sehingga dalam tindakan-tindakannya tidak terlalu
cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan tanggung
jawab atas perbuatannya, sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki
dorongan prestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri.
Thantaway dalam Kamus istilah Bimbingan dan Konseling mengatakan, percaya diri
adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan
kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan. Orang yang
tidak percaya diri memiliki konsep diri negatif, kurang percaya pada
kemampuannya, karena itu sering menutup diri. Lanjut tentang gue…
Gue
emang dah selalu berusaha tuk bisa pede gitu, tapi ada aja yang gagal. Seringan
gagal sih. Gue jadi penakut, kurang pede emang sangat menurunkan keberanian,
untung ga nurunin berat badan, bisa kurus kering gue. Apalagi kalau nyanyi ni,
astaga, gue ga pede, kecuali rame-rame, gue kuat-kuatin aja suara gue. Gue sampe coba-coba nyanyi-nyanyi sendiri di
kamar mandi, di kamar, biar orang ga denger suara gue yang cempreng ni. Trus
gue coba buat video nyanyi berdua ma Demi Lovato lagunya “let it go” sambil
bikin-bikin ekspresi gitu. Dalam hati gue, masukin youtube ni, biar terkenal.
Eh, salah, maksud gue, gue tu uji keberanian dan kepedean. Habis rekaman, gue
tonton tu video, alamak, minta ampun dah, ga pede banget masukinnya. Gue emang
ga bisa nyanyi dan jarang nyanyi. Apalagi tampil di depan banyak orang,
tiba-tiba suara gue ga bisa keluar saking ga pedenya. Jadi lipsing deh, itu pun
tak pede. Itu kalau nyanyi. Beda kalau nari, makin gue ga pede, soalnya badan
gue kayak kayu-kayu. Kaku bingit. Lu, liat gue nari : “mendingan liat topeng
monyet dah” ni yang keluar dari mulut lu ntar. Kalau lu liat profil gue ni, lu
bakal tau, gue jurusan teologia, paling ga, gue itu public speaking ya, seseorang yang bisa, bahkan udah terbiasa
berbicara di hadapan orang banyak, di mimbar lagi. Ya, setelah dipikir-pikir
kalau gue khotbah di gereja atau dimana pun itu, perasaan gue baik-baik aja,
gue ngerasa gue ga kaku, dan gue juga ga terlalu serius, gue tu enjoy, dan
mengalir begitu saja. Kekuatan Roh kali ya. I
don’t Know. Lu bisa tanya ma teman gue yang pernah satu tempat praktek ma
gue waktu kuliah dulu, bahkan gue bisa dibilang ga kalah lah ma yang lain-lain
yang sudah terbiasa, hasil praktek gue selalu A. Ni dah kepedean ya?? Ga, ni
serius, ya gue selalu dapat nilai bagus waktu praktek. Jemaat juga selalu kasi
pujian ma Tuhan, kadang-kadang ma gue. Selain pede tampil di hadapan para
jemaat, gue juga pede main drama, baik itu drama romance, cie.., horror,
komedi, dll. Gue ga kalah deh ma artis-artis. Yang ini makin gatau kekuatan roh
mana yang datang. Jadi begini, Faktor
yang mempengaruhi rasa percaya diri pada seseorang menurut Thursan Hakim
sebagai berikut: Lingkungan keluarga, Keadaan lingkungan sangat mempengaruhi
pembentukan awal rasa percaya diri pada seseorang. Rasa percaya diri merupakan
suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang ada pada dirinya
dan diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari. Pendidikan Formal, Sekolah bisa
dikatakan sebagai lingkungan kedua bagi anak, dimana sekolah merupakan
lingkungan yang paling berperan bagi anak setelah lingkungan keluarga dirumah.
Sekolah memberikan ruang pada anak untuk mengekspresikan rasa percaya dirinya
terhadap teman-teman sebayanya. Dan Pendidikan non formal, Salah satu modal
utama untuk bisa menjadi seseorang dengan kepribadian yang penuh rasa percaya
diri adalah memiliki kelebihan tertentu yang berarti bagi diri sendiri dan
orang lain. Rasa percaya diri akan menjadi lebih mantap jika seseorang memiliki
suatu kelebihan yang membuat orang lain merasa kagum. Kemampuan atau
keterampilan dalam bidang tertentu bisa didapatkan melalui pendidikan non
formal. Secara formal dapat digambarkan bahwa rasa percaya diri merupakan
gabungan dari pandangan positif diri sendiri dan rasa aman. Selain itu, menurut
Loekmono rasa percaya diri tidak terbentuk dengan sendirinya melainkan
berkaitan dengan seluruh kepribadian seseorang secara keseluruhan. Kepercayaan
diri juga membutuhkan hubungan dengan orang lain di sekitar lingkunganya dan
semuanya itu mempengaruhi pertumbuhan rasa percaya diri. Dalam hal ini dapat
dikatakan kepercayaan diri muncul dari individu sendiri karena adanya rasa
aman, penerimaan akan keadaan diri dan adanya hubungan dengan orang lain serta
lingkungan yang mampu memberikan penilaian dan dukungan, sehingga mempengaruhi
pertumbuhan rasa percaya diri. Dukungan yang ada serta penerimaan dari keluarga
dapat pula mempengaruhi rasa percaya diri dalam hal ini adalah remaja sebagai anggota
keluarga. Orangtua mampu memberikan nasehat, pengarahan, informasi kepada
remaja dalam kaitannya dengan rasa percaya diri.
Sejauh
ini, dengan memperhatikan sejarah perjalanan hidup gue selama 23 tahun di
dunia, setelah gue telusuri satu per satu, tiap babak hidup gue, gue singgahin,
gue lihat bahwa faktor terbesar yang mempengaruhi kekurangan pede gue ini ada
pada faktor pertumbuhan gue dalam keluarga. Yah, ceritanya begitu panjang. Gue
lebih lama sih tinggal ma ortu daripada tinggal sendiri. Hehe. Tapi itu
bukanlah hal yang patut untuk disalahkan, atau diapa-apain, gue hanya perlu
mendaur ulang diri sendiri. Percaya diri adalah bagian yang sangat positif dan
patut untuk dibangun dalam diri setiap orang.
Cukup
sekian, gue ngantuk sangat sudah, marpala-pala
bikin ni postingan, postingan ini bagian usaha untuk membangun rasa percaya
diri, Selamat membangun rasa percaya diri, tapi ini bukan bagian dari 33 seri
selamat karya Amang Andar Ismail,
Selamat
malam,..