Minggu, 31 Mei 2015

#NulisRandom2015
Tulisan pertama, 1 Juni 2015
Aku tidak tahu ini tempat apa dan sangat tidak mengerti bahwa gedung ini dihadiri oleh teman-temanku dari berbagai generasi hidupku, ada teman kecilku dulu ketika aku masih duduk di bangku SD dan SMP, lebih tepatnya teman satu kampungku. Namun bukan hanya itu aku juga banyak melihat teman kuliahku, ketika aku kuliah di salah satu sekolah tinggi di kota provinsi Sumatera Utara itu. Mereka beramai-ramai di tempat itu. Aku merasa kehidupan masa sekolah dasar ketika di kampung bersatu dengan kehidupan masa kuliahku yang hidup kost di perkotaan. Aku juga kurang mengerti apa yang kulakukan pada saat itu di gedung itu, aku bingung. Yang pasti aku melihat banyak teman-temanku disana. Aku dengan beberapa teman-teman kuliahku pergi ke gedung PGI (Persatuan Gereja Indonesia) untuk sebuah tugas kuliah, kami pergi dengan mengenderai sepeda motor.
Sepulangnya dari tempat tersebut, ayah saya berkata, “ngapain kamu naik motor ke BCA?” maksudnya Bank BCA. “Aku kesana untuk tugas pak, dan kami juga naik motor dengan tertib. Kami tidak ugal-ugalan” jawabku dengan keras. “iya, tapi kami orangtuamu malu, ketika orang bertanya kamu kerja dimana, kami menjawab di BCA, kami malu, padahal kau seorang calon pendeta ”. Wah, sepertinya ini semakin tidak nyambung. Aku hanya terdiam mendengar perkataan ayahku, tak kubantah sedikitpun, hatiku hanya sedikit teriris, namun harus berusaha kupahami maksud-maksudnya itu. Satu persatu teman-teman kuliahku lewat dari hadapanku, hanya ada satu orang yang menyapaku diantara mereka semua, bahkan orang yang sangat kurindukan selama ini, hanya melihatku dengan pandangan mata yang tidak bersahabat, tak ada goresan senyum hangat menyikut dipipinya. Hanya diam, ya hanya itu yang bisa kulakukan sembari memperhatikan mereka berlalu begitu saja dari pandanganku.   
“tring… tring….” Hpku bergetar. Ini sungguh mengganggu. Aku terbangun dari tidurku. Pukul 04.00 Wib, ini bukan hanya mengganggu tidurku, tapi menganggu hatiku, sungguh mimpi itu mengganggu hatiku dan pikiranku. Apa yang akan terjadi pikirku? Gelisah kini melandaku, gelisah yang kutuangkan dalam tantangan #NulisRandom2015 @nulisbuku yang memang dimulai hari ini, senin 1 Juni 2015.  Yuk, tuangkan segala perasaan yang kamu rasakan hari ini dalam tantangan #NulisRandom2015 @nulisbuku


Rabu, 20 Mei 2015

Sebuah Puisi untuk rasa malas yang sering mengunjungiku

Aku malas
Aku malas
Malas berbuat apa saja
Malas melakukan apa saja
Aku malas
Karenanya aku memilih kasur sebagai sandaran
Untuk menata berbagai impian di khayalan
Karenanya aku tak memperoleh apa-apa
Tak pernah menjadi apa-apa
Aku malas
Mengantuk adalah aktivitas andalanku
Melakukan yang tak berguna adalah sasaranku
Aku malas
“Ini yang terakhir ” selalu jadi komitmenku
“Mulai besok akan begini” selalu jadi harapanku
Aku malas
Komitmen tinggal kenangan
Perubahan tinggal khayalan
Aku malas
Aku marah karena malas
Aku gila karena malas
Aku malas
Lagi aku malas
Aku malas
Kini aku terbiasa malas
Kini ini kebiasaan baru
Aku malas ini sudah kebiasaan
Aku sudah candu malas
Aku malas
Meninggalkan kebiasaan ini
Sebab aku diatur kebiasaan
Aku malas
Aku benci pada diriku
Aku maki diriku sendiri
Aku malas
Sedang apa aku ini?
Sedang malaskah aku ini?
Aku malas
Sayang sekali aku waras
Sayang sekali aku bernafas


Senin, 11 Mei 2015

05 November 2012

05 November 2012
Hari ini hari senin, semalam hari minggu, saya pergi ke GKPI Pamen. Saya sendirian, mengantuk di angkot sendiri. Ada yang tertawa melihat rasa ngantuk saya. Malu tapi juga tidak bisa menahan ngantuk. Rasa ngantuk itu ternyata jauh lebih hebat untuk mengalahkan rasa malu. Hari ini mulai kuliah lagi setelah 2 hari tidak mengkuti pelajaran dan tidak belajar. Rasanya tetap malas, tidak ada perubahan. Kuliah, kemudian pulang kuliah sermon. Malam ini hujan deras. Turut mewarnai kesepian di malam ini. Hampir setiap hari hujan. Mungkin memang keadaan memang sedang musim hujan. Saya tidak tahu betul.
Saya tidak tahu mau menulis apa, kenapa saya membuka laptop ini. kemudian mulai bercerita, seakan-akan saya akan mengarang cerita tentang diri saya. Selalu hanya bisa bertanya “sampai kapan aku begini?, kapan akan berubah? Kapan akan rajin belajar? Kapan akan menjadi ramah? Kapan akan menjadi seseorang yang dapat diandalkan? Kapan? Kapan? Dan kapan?” tidak ada jawaban yang pasti. Selalu mengatakan besok, mengatakan belum terlambat, masih ada waktu, hari-hari masih panjang. Tapi saya tidak tahu dimana hari yang panjang itu.
Hujannya semakin deras. Suara air hujan yang jatuh pada seng-seng itu begitu kuat. sangat kuat. Sehingga tak ada suara apa pun yang terdengar di telinga saya, selain suara air hujan yang jatuh pada seng itu. Baru saja aku mengingatnya, aku punya tugas yang belum kulaksanakan, padahal pekerjaan itu harus segera dilakukan. Bagaimana ini, jika besok mereka bertanya lagi? Apa lagi alasanku? Tidak terpercaya.
Aku seorang yang munafik, aku berdoa, aku memanggil nama Tuhan, aku berseru, aku menyesal mengaku dosa, aku minta ampun, aku memuji Tuhan, aku mengagumi Tuhan, aku memanggil nama-Nya, aku bilang aku mencintai-Nya, tapi aku tidak melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Aku malas belajar, aku tidak tahu diri, orangtuaku cape mencari uang tapi aku menghambur-hamburkannya begitu saja. Aku tidak berpikir, aku malas, aku tidur, mengantuk di kelas, bersenang-senang, berkhayal, curhat, menulis angan-angan yang besar dan omong kosong, banyak bicara sedikit bekerja. Tidak tahu diri. Tidak sadar diri.
Orang Budha, yang tidak mengenalMu itu, ternyata jauh lebih baik dari pada aku, dia jauh lebih mencarimu dan berusaha mengenalmu, padahal dia sebenar-Nya tidak mengenalMu dan tidak mencari-Mu. Ada yang mengenal-Mu, tapi tidak betul-betul mengenal-Mu, hanya omong kosong, kenyataannya tidak melakukan kehendak-Mu.
Aku tidak ingin minta ampun, karena aku takut akan terus minta ampun, minta ampun karena tidak melakukan yang Engkau mau, tapi aku tetap melakukan yang tidak Engkau mau itu. Aku takut, minta ampun kepadaMu, Tuhan yang tidak betul-betul kukenal, aku takut minta ampun padaMu Tuhan yang tidak kutahu. Apakah yang harus kulakukan? Aku takut berdoa, tapi tidak kulakukan apa yang telah kudoakan kepadaMu. Aku takut, takut,
Mataku mulai ngantuk, haruskah aku berdoa? Aku bingung, apa lah kubuat nama data ini. haruskah ini disimpan? Biar dibaca orang. Begitukah???? Sudah jam 23.01. lok tidak tidur besok akan ngantuk. Dah lewat lagi 1 menit. Tidur, bangun lalu begitu saja. Aku pun mulai takut memanggil nama-Mu. Kau ampunikah aku???????

Gambar meja ini pun, sepertinya semakin seram, padahal hanya gambar boneka barbie. Layakkah aku memanggil-Mu kembali TUHANKU??? Tidak segampang yang dipikirkan dan yang dibayangkan. Manusia bodoh. Aku tidur. Aku menyimpan data. Dengan nama yang tidak dikenal. Save. 

Palipi di hari itu

Di Minggu pagi yang cukup cerah itu kami tiba di pulau Samosir, tepatnya di Palipi. Sesuai dengan schedule time yang sudah disiapkan oleh sie.acara, setibanya di tempat tujuan tercinta ini kami akan Ibadah Minggu (Opening Ceremoni), demikian kata-kata yang tertulis dalam schedule time. Maka segala persiapan pribadi dilakukan dengan begitu buru-buru. Segera setelah meletakkan barang dan persiapan pribadi dalam waktu yang begitu singkat itu, semua peserta menuju aula. Aula? Sepertinya tidak sih, kayak kantin-kantin gitu ah. Tapi ya sudah lah. Para peserta duduk di tikar. Terlihat song leader sudah berdiri dengan begitu rapi di bagian depan, pakaiannya begitu resmi, jas untuk pria tambah blejer untuk kaum wanitanya. Rapi sekali, namun disayangkan pusat perhatian orang begitu hebat jadinya kepada mereka, bukannya kepada liturgisnya, pakaian liturgisnya hanya kemeja biasa tak pakai embel-embel.
“Jemaat kami undang untuk bangkit berdiri” terdengar suara liturgis memberi ajakan.
Sedikit membuat saya terkejut, sebab perhatian saya memang kian kesana-kemari mengamati segala situasi.
“Hahahaha” tawaku geli dalam hati.
Nampaknya semua peserta stres, semua wajah terlihat murung dan mutung. Sebenarnya sih saya tidak tahu betul alasan yang membuat mereka murung, kemungkinan ada beberapa hal, pertama, hmmm, tempatnya tidak seperti yang dibayangkan atau tidak sesuai harapan. Kedua, mungkin juga karena begitu cape setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sekitar 8 jam gitu lah jadi ga semangat. Dan yang ketiga, gabungan dari keduanya, klop deh stresnya.
“Nats renungan untuk pagi yang indah ini, di tepi pantai yang manis ini terambil dari Matius 21: 14-22” terdengar kembali suara dari depan, kali ini dari pengkhotbah.
Ops, saking sibuknya saya memperhatikan semua peserta, saya malah sudah tidak tahu perjalanan acara, ternyata sudah khotbah.
“Ah, roa pe” terdengar celoteh salah seorang peserta dari belakang, persisnya suara seorang pria.
“Hahahaha” tawa geliku kembali hadir mendengar celoteh kejujuran itu. Bagiku dia jujur, sebab pantainya bagiku juga tidak manis.    
“Buka facebook akh” pikirku sambil membuka kotak pensil.
Saya memang sudah terbiasa dengan kotak pensil, walaupun sudah mahasiswa. Isinya sudah pasti seperangkat alat tulis-menulis namun tidak pernah ketinggalan seperangkat alat komunikasi juga yaitu handphone. Kali ini saya melanggar rambu-rambu peserta yang tertera pada halaman 5, tepatnya no. 5 juga, dengan bunyi demikian “Setiap peserta retreat diharuskan menjaga ketertiban setiap kegiatan dengan tidak mengobrol, tidur, Fb-an, merokok, keluar masuk ruangan, dan telfonan”.
“Wow, sudah kuduga” gumamku dalam hati.
Banyak peserta yang sudah ON dalam dunia maya, dan semua peserta mengomel dalam dunia maya lewat status fbnya. Segera kututup fbku mengingat biaya yang mahal untuk itu. Terkadang memang tak bisa menuntut begitu saja, ribut sesuka hati mengeluarkan uneg-uneg, semua harus sesuai dengan situasi dan kondisi, semua ada masanya, pas evaluasi kan bisa keluarin uneg-uneg. Tapi kadang-kadang gada keberanian juga, akhirnya hanya tersalur pada dunia maya. Inilah sepenggal cerita pagi di 22 Mei 2011. Palipi di hari itu.


     

Minggu, 10 Mei 2015

Percaya Diri

Sore itu, kita duduk manis di teras rumah sambil nikmatin semangkok mie ayam. Habis itu kita cerita-cerita, kita tu rame, cowok-cewek pada ngumpul di rumah itu. Perlahan-lahan masing-masing cowok ngobrol ma satu cewek, jadi ngobrolnya pasang-pasangan gitu, kecuali gue ni. Kasihan. Eh, tiba-tiba ada seorang cowok yang nyamperin gue. Senang deh, kaga jadi jaga nyamuk. Cerita demi cerita, tu cowok liatin tangan gue melulu, posisi tangan gue ni pas banget di pangkuan gue. Habis itu gue makin ga pede gitu deh, udah dari tadi juga gue sebenarnya kaga pede, apalagi diliatin begitu.
“dek…” si abang ngomong ni
“iya bang” gue ngejawab
“pasti kau ga pede kan?”
“hi… J” senyum sial ni. Shit, gue ketahuan, pikir gue kesal.
“soalnya dari tadi abang liat tangan kamu ga bisa diam, gerak-gerak terus” si abang lagi ni.
“hi…. :) ” Kali kedua gue senyum sial ni dibuat si abang.
Betul sekali, tangan gue sedari tadi kaga bisa diam sih, rusak suasana aja. Dan betul dua kali, tadi kan sekali, gue emang ga pede. Ni kejadian waktu gue masih muda dulu, waktu SMA, dan kejadian ini cukup melekat di hati dan pikiran gue sampai saat ini.
Jujur dan terus terang, gue memang bukan orang yang pede. Apalagi pede banget, pede abis, pede gila, dan pede-pede lainnya, ga banget deh. Gue itu orangnya kuper (Kurang percaya diri, kurang pergaulan dikit-dikit), gue mah gitu orangnya. Pada akhirnya gue sering bergumul ni soal kurangnya ke-pede-an gue ini. Gue selalu mikir gimana ya, biar bisa pede kayak orang-orang??? Sedang mikir ni…
Pede ni bahasa gaulnya percaya diri, confidence . Secara etimologi kata percaya diri dapat diartikan demikian, “percaya” berarti yakin, believe, trust, meyakini, mengakui bahwa sesuatu benar adanya. Sementara “diri” berarti orang seorang (terpisah dari lain); badan, kelas kata ini adalah kata benda yang menyatakan diri sendiri, , self, my self. Sehingga dapat disimpulkan bahwa percaya diri itu adalah meyakini atau yakin pada diri sendiri, mengakui bahwa dirinya sendiri itu benar adanya atau punya eksistensi. Begitu kira-kira ya sederhananya ya. Nah, berarti gue jarang ni meyakini keberadaan gue sendiri, buset dah. Menurut para ahli ni, Lauster misalnya mengatakan bahwa kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau keyakinan atas kemampuan diri sendiri, sehingga dalam tindakan-tindakannya tidak terlalu cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan tanggung jawab atas perbuatannya, sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki dorongan prestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Thantaway dalam Kamus istilah Bimbingan dan Konseling mengatakan, percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan. Orang yang tidak percaya diri memiliki konsep diri negatif, kurang percaya pada kemampuannya, karena itu sering menutup diri. Lanjut tentang gue…
Gue emang dah selalu berusaha tuk bisa pede gitu, tapi ada aja yang gagal. Seringan gagal sih. Gue jadi penakut, kurang pede emang sangat menurunkan keberanian, untung ga nurunin berat badan, bisa kurus kering gue. Apalagi kalau nyanyi ni, astaga, gue ga pede, kecuali rame-rame, gue kuat-kuatin aja suara gue.  Gue sampe coba-coba nyanyi-nyanyi sendiri di kamar mandi, di kamar, biar orang ga denger suara gue yang cempreng ni. Trus gue coba buat video nyanyi berdua ma Demi Lovato lagunya “let it go” sambil bikin-bikin ekspresi gitu. Dalam hati gue, masukin youtube ni, biar terkenal. Eh, salah, maksud gue, gue tu uji keberanian dan kepedean. Habis rekaman, gue tonton tu video, alamak, minta ampun dah, ga pede banget masukinnya. Gue emang ga bisa nyanyi dan jarang nyanyi. Apalagi tampil di depan banyak orang, tiba-tiba suara gue ga bisa keluar saking ga pedenya. Jadi lipsing deh, itu pun tak pede. Itu kalau nyanyi. Beda kalau nari, makin gue ga pede, soalnya badan gue kayak kayu-kayu. Kaku bingit. Lu, liat gue nari : “mendingan liat topeng monyet dah” ni yang keluar dari mulut lu ntar. Kalau lu liat profil gue ni, lu bakal tau, gue jurusan teologia, paling ga, gue itu public speaking ya, seseorang yang bisa, bahkan udah terbiasa berbicara di hadapan orang banyak, di mimbar lagi. Ya, setelah dipikir-pikir kalau gue khotbah di gereja atau dimana pun itu, perasaan gue baik-baik aja, gue ngerasa gue ga kaku, dan gue juga ga terlalu serius, gue tu enjoy, dan mengalir begitu saja. Kekuatan Roh kali ya. I don’t Know. Lu bisa tanya ma teman gue yang pernah satu tempat praktek ma gue waktu kuliah dulu, bahkan gue bisa dibilang ga kalah lah ma yang lain-lain yang sudah terbiasa, hasil praktek gue selalu A. Ni dah kepedean ya?? Ga, ni serius, ya gue selalu dapat nilai bagus waktu praktek. Jemaat juga selalu kasi pujian ma Tuhan, kadang-kadang ma gue. Selain pede tampil di hadapan para jemaat, gue juga pede main drama, baik itu drama romance, cie.., horror, komedi, dll. Gue ga kalah deh ma artis-artis. Yang ini makin gatau kekuatan roh mana yang datang.  Jadi begini, Faktor yang mempengaruhi rasa percaya diri pada seseorang menurut Thursan Hakim sebagai berikut: Lingkungan keluarga, Keadaan lingkungan sangat mempengaruhi pembentukan awal rasa percaya diri pada seseorang. Rasa percaya diri merupakan suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang ada pada dirinya dan diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari. Pendidikan Formal, Sekolah bisa dikatakan sebagai lingkungan kedua bagi anak, dimana sekolah merupakan lingkungan yang paling berperan bagi anak setelah lingkungan keluarga dirumah. Sekolah memberikan ruang pada anak untuk mengekspresikan rasa percaya dirinya terhadap teman-teman sebayanya. Dan Pendidikan non formal, Salah satu modal utama untuk bisa menjadi seseorang dengan kepribadian yang penuh rasa percaya diri adalah memiliki kelebihan tertentu yang berarti bagi diri sendiri dan orang lain. Rasa percaya diri akan menjadi lebih mantap jika seseorang memiliki suatu kelebihan yang membuat orang lain merasa kagum. Kemampuan atau keterampilan dalam bidang tertentu bisa didapatkan melalui pendidikan non formal.  Secara formal dapat digambarkan bahwa rasa percaya diri merupakan gabungan dari pandangan positif diri sendiri dan rasa aman. Selain itu, menurut Loekmono rasa percaya diri tidak terbentuk dengan sendirinya melainkan berkaitan dengan seluruh kepribadian seseorang secara keseluruhan. Kepercayaan diri juga membutuhkan hubungan dengan orang lain di sekitar lingkunganya dan semuanya itu mempengaruhi pertumbuhan rasa percaya diri. Dalam hal ini dapat dikatakan kepercayaan diri muncul dari individu sendiri karena adanya rasa aman, penerimaan akan keadaan diri dan adanya hubungan dengan orang lain serta lingkungan yang mampu memberikan penilaian dan dukungan, sehingga mempengaruhi pertumbuhan rasa percaya diri. Dukungan yang ada serta penerimaan dari keluarga dapat pula mempengaruhi rasa percaya diri dalam hal ini adalah remaja sebagai anggota keluarga. Orangtua mampu memberikan nasehat, pengarahan, informasi kepada remaja dalam kaitannya dengan rasa percaya diri.
Sejauh ini, dengan memperhatikan sejarah perjalanan hidup gue selama 23 tahun di dunia, setelah gue telusuri satu per satu, tiap babak hidup gue, gue singgahin, gue lihat bahwa faktor terbesar yang mempengaruhi kekurangan pede gue ini ada pada faktor pertumbuhan gue dalam keluarga. Yah, ceritanya begitu panjang. Gue lebih lama sih tinggal ma ortu daripada tinggal sendiri. Hehe. Tapi itu bukanlah hal yang patut untuk disalahkan, atau diapa-apain, gue hanya perlu mendaur ulang diri sendiri. Percaya diri adalah bagian yang sangat positif dan patut untuk dibangun dalam diri setiap orang.
Cukup sekian, gue ngantuk sangat sudah, marpala-pala bikin ni postingan, postingan ini bagian usaha untuk membangun rasa percaya diri, Selamat membangun rasa percaya diri, tapi ini bukan bagian dari 33 seri selamat karya Amang Andar Ismail,

Selamat malam,..