Rabu, 01 Juli 2015

Tunas Berii: Resensi BukuOleh                            : Beri...

Tunas Berii: Resensi BukuOleh                            : Beri...: Resensi Buku Oleh                            : Beriyanti Oktavia Damanik Judul Buku                  : Makna Wibawa Jabatan Dalam Gerej...
Resensi Buku
Oleh                            : Beriyanti Oktavia Damanik
Judul Buku                  : Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak
Penulis                         : Andar M. Lumbantobing
Penerbit                       : BPK-GM
Jumlah Halaman          : 338 halaman
Tahun Terbit                : 1996

I.                   PENDAHULUAN
Buku ini sebenarnya berjudul “Das Amt In Der Batak-Kirche” yang diterjemahkan dengan judul “Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak”. Buku ini berbicara tentang jabatan dalam gereja Batak Khususnya HKBP, buku ini menceritakan perkembangan tentang masalah jabatan dalam masyarakat Batak hingga munculnya dan berkembangnya keKristenan dalam suku Batak. Banyak perubahan yang terjadi dalam suku Batak setelah kehadiran injil akan tetapi berbicara mengenai jabatan dalam gereja Batak, kebudayaan suku Batak juga turut mempengaruhi jabatan dalam gereja Batak. Buku ini bagus untuk dibaca, akan tetapi buku ini kurang cocok untuk kalangan umum. Namun buku ini akan sangat bermanfaat untuk mahasiswa teologia khususnya orang yang sudah mengenal gereja Batak. Melalui buku ini kita dapat mengetahui bagaimana sebenarnya jabatan dalam gereja Batak dan melalui buku ini juga kita bisa mengetahui dan mengoreksi jabatan dalam gereja kita sendiri, apakah jabatan tersebut sudah sesuai dengan terang Alkitab. Akhir kata, marilah kita sadari bahwa dalam setiap jabatan Tuhan menyatakan kehadiranNya oleh karena itu jabatan tidak tergantung pada kualitas manusiawinya, melainkan semata-mata pada Tuhan yang telah mendirikankannya berdasarkan firman-Nya.

II.                ISI
Suku Batak di Zaman Keberhalaan
Suku Batak yang bermukim di bagian utara dan barat laut Pulau Sumatera terdiri dari enam suku atau cabang, yaitu suku Karo, Pakpak atau Dairi, Simalungun, Toba, Angkola, dan suku Mandailing. Suku Batak dimasukkan dalam rumpun Melayu, yang sebagian besar sekarang menyebut dirinya bangsa Indonesia. Menurut J. Warneck Batak berarti “penunggang kuda yang lincah” tetapi menurut H.N. vander Tuuk Batak berarti “kafir”, yang lain juga mengartikan Batak adalah “budak-budak yang bercap atau ditandai”. Masyarakat suku Batak juga sukar menerima pengaruh-pengaruh dari luar. Sifat tertutup orang Batak mulai terbuka setelah terjadi penyerbuan dan pendudukan Islam di bagian Selatan daerah Batak pada tahun 1830-an, yang kemudian disusul dengan masuknya RMG pada tahun 1861, hampir bersamaan dengan permulaan masa pendudukan Belanda secara bertahap atas daerah Batak. Gunung  Pusuk Buhit yang terletak di sebelah barat laut Danau Toba menurut mitologi Batak adalah tempat asal-usul Batak. Dalam mitologi ini juga dikenal Mulajadi Na Bolon, Sang Awal Yang Maha Besar yang berkuasa atas segala yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa suku Batak di jaman keberhalaan sudah percaya pada Allah Yang Esa, yang disebut Mulajadi Na Bolon. Mulajadi Na Bolon inilah yang dipercayai suku Batak sebagai pencipta manusia pertama. Dalam suku Batak ini juga dikenal dengan istilah sahala yang artinya kewibawaan, kemewahan, kemuliaan dan kekuasaan. Sahala ini memiliki pengaruh yang sangat besar dalam segala gerak hidup suku Batak. Oleh karena itu dengan berbagai cara setiap orang berusaha mendapatkan sahala. Menurut kepercayaan suku Batak sahala dapat diperoleh dari keluarga lelaki isterinya yang disebut dengan istilah hula-hula. Oleh karena itu suami wajib bersikap lebih hormat terhadap keluarga laki-laki isterinya. Selain itu pemujaan terhadap arwah juga dianggap sebagai salah satu cara untuk memperoleh sahala. Barang-barang milik orangtua juga dianggap dapat memberi sahala. Sahala juga dipercayai dapat diperoleh dari tamu yang datang, oleh karena itu suku Batak senang menerima tamu dan mereka sangat bertanggung jawab atas keselamatan tamu tersebut hal ini dikenal dengan istilah paramak so balunon. Suku Batak juga menganut sistem patriakhal dimana hanya anak laki-laki yang diakui sebagai anggota keluarga penuh dan sebagai ahli waris.       
Suku Simalungun juga sudah mengenal Jabatan yang disebut dengan tohonan pada zaman keberhalaan. Dalam masyarakat ada beberapa jabatan yang sering dikenal yaitu pertama, jabatan kepala suku sekaligus menjadi panglima, imam, dan raja. Kehendak kepala suku haruslah dituruti oleh rakyatnya dan dialah yang berhak memutuskan segala perkara yang terjadi di daerahnya. Kedua, datu imam yaitu orang yang paling menonjol dalam hal penyembahan kepada berhala-berhala. Ketiga, sibaso hasandaran (Medium; perantara) yaitu pengantara antara orang yang hidup dan mati dan umumnya terdiri dari kaum wanita. Keempat, ulubalang (Panglima pasukan) adalah seorang panglima pasukan yang diangkat dari salah seorang rakyat. Kelima, pangintuai (tua-tua kampung) yaitu tempat perundingan masyarakat untuk mengambil keputusan dan tempat pengaduan masyarakat. Suku batak percaya bahwa semenjak dalam kandungan seorang manusia sudah memiliki ancaman dari roh-roh jahat. Oleh karena itu untuk melindunginya maka sang ibu harus melakukan berbagai ragam pantangan. Pada saat melahirkan, sang ibu akan dibantu oleh sibaso (dukun beranak). Kemudian setelah anak lahir maka diminta bantuan datu untuk meramalkan jalan hidup anak tersebut. Pemberian nama dalam suku Batak juga sangat penting oleh karena itu dalam pemberina nama juga harus memilih hari yang baik. Saat usia seorang anak sudah mencapai umur 15-16 tahun maka akan diadakan upacara untuk memberi penekanan dalam proses peralihan dari anak-anak kepada masa dewasa. Setelah dewasa biasanya seorang pemuda juga akan menunjukkan kemahirannya dalam hal berpantun. Kemahiran ini akan dipertunjukkan pada kesempatan martandang (pergi mencari jodoh). Selain itu kesibukan lain muda-mudi adalah berteka-teki. Dalam hal perjodohan dan pernikahan biasanya pilihan pertama bagi orangtua si anak adalah pariban (Cross-cousin). Dan biasanya dalam hal ini juga dikenal dengan istilah membeli istri (Tuhor) artinya harga. Berbicara mengenai kematian dalam suku Batak setiap kematian menuntut diadakan upacara yang satu sama lain berbeda sesuai dengan perbedaan yang terdapat pada usia, kekayaan dan tingkat sosial orang yang meninggal itu. Menurut adat semakin tinggi usia dan semakin banyak kekayaan yang berhasil dirumpuk oleh orang yang meninggal dalam hidupnya maka akan semakin besar upacara penguburannya dan semakin lama juga jenazahnya diatahan diatas tanah. Kematian orang yang bertuah dan kaya ini juga akan diupacarai dengan membunyikan gondang (musik sakral yang terdiri dari gung besar dan kecil, serunai dan seruling) diiringi juga dengan tor-tor (tari) dan andung (ratapan tangis).     

Pembangunan Jemaat dan Perkembangan Gereja Batak
Pada masa pemerintahan Inggris, tahun 1820, Gereja Baptis Inggris mengirim tiga penginjil yaitu Burton, Ward dan Evans, mereka bertiga telah berhasil mencapai negeri Batak yang paling sentral yaitu Silindung. Disana mereka bertemu dengan seorang raja yang sudah lanjut usia dan mereka disambut dengan baik. Pada tahun 1834, dua orang misionaris Amerika yaitu Muson dan Lyman yang diutus oleh zending Boston juga tiba di Sibolga. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Silindung, akan tetapi dalam perjalan ketika mereka berhenti di Lobupininng, mereka ditangkap raja Panggalamei beserta rakyatnya akhirnya mereka disembelih dan dimakan (28 Juni 1834). Pada tahun 1856, Van Asselt diba di Sipirok (Angkola) dan bermaksud untuk melanjutkan perjalanannya ke daerah pedalaman. Namun pemerintah melarangnya masuk akibat kematian Muson dan Lyman. Dalam masyarakat suku Batak juga sangat dikenal perbudakan, dalam hal ini pemerintah belanda melakukan penghapusan perbudakan pada tahun 1876. Hal ini pun sangat membantu perkembangan injil. Pada saat itu juga Asselt juga berhasil membantu masyarakat mengatasi penyakit cacar yang pada saat itu berkembang di daerah Angkola. Tahun 1859, atas permintaan Asselt dan Emerlo maka dikirimlah dua orang misionaris yaitu Dammeboer dan Betz  untuk membantu penginjilan di Sipirok. Maka pada tanggal 7 Oktober 1861 didirikanlah Batakmision dan pada saat itu juga Asselt berhasil membaptis dua orang Batak yaitu Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar.  Tahun 1862 I.L. Nommensen pun tiba di Barus. Untuk sementara dia tinggal disana untuk belajar bahasa dan adat Batak. Waktu itu bagian selatan tanah Batak sudah tersebar agama Islam. Oleh karena itu pada tahun 1864 dia melanjutkan perjalanannya ke daerah tengah tanah Batak yaitu Lembah Silindung. Pada awalnya di Silindung Nommensen ditolak dan berusaha untuk dibunuh akan tetapi hal itu selalu gagal. Akhirnya ada orang-orang yang merasa takluk dan hormat padanya. Tetapi orang-orang tersebut dihina dan diusir dari kampung sehingga mereka lari dan tinggal bersama Nommensen yang membentuk suatu kampung yang disebut dengan nama kampung damai atau Huta Dame. Tahun 1873 Nommensen membuka pelajaran katekisasi yang pertama. Tahun ini juga Nommensen pindah ke Pearaja, sebuah tempat di lereng sebuah bukit. Tempat itu diberikan oleh raja Pontas yang menganggap sudah tiba waktunya untuk terbuka. Raja Pontas dibaptis dengan nama Obaja. Pemberitaan injil di daerah Batak pun sangat maju. Akan tetapi pada tahun 1887, seorang yang bernama Sarbut, membakar gereja, sekolah dan rumah pendeta, akhirnya dia ditangkap oleh pemerintah. Si Singamangaraja juga sangat marah melihat begitu banyak orang Batak yang meninggalkan agama nenek moyang dan kepatuhan pada adat-istiadat. Sikap permusuhan si Singamangaraja terhadap gereja tidak pernah memudar sampai akhir hayatnya. Tepat pada tanggal 17 Juni 1907, dia bersama dua orang anaknya ditangkap kompeni dan ditembak mati atas tuduhan pembunuhan dan pembakaran. Pertambahan orang Kristen pun semakin pesat dalam waktu yang singkat. Dalam sepuluh tahun pertama, setelah zending bekerja di daerah Batak, kira-kira 1200 orang Batak menjadi orang Kristen. Keberhasilan zending juga banyak disebabkan karena cara pendekatan mereka yang sesuai dengan norma yang berlaku. Tahun 1930, gereja Batak dinyatakan sebagai sebuah badan hukum. Pada tahun yang sama  Warneck manyusun tata gereja baru. Namun pecahnya Perang Dunia menjadi salah satu tantangan yang cukup besar terhadap HKBP, masa-masa sulit pun terus berlangsung hingga penjajahan Jepang dan sampai revolusi kemerdekaan Indonesia (1950). Tahun 1952, permohonan HKBP untuk diterima menjadi anggota badan Gereja-gereja Luther sedunia (Lutheran World Federation; LWF) diterima. Salah satu persyaratan LWF untuk menjadi calon anggota adalah menyerahkan konfensi atau pengakuan gerejawi. Oleh karena itu dengan segera disusunlah pengakuan iman dan disahkan pada sinode 1951. Itulah yang disebut Pengakuan Percaya (Konfessi) Huria Kristen Batak Protestan. Pengakuan itu adalah produk teologis pertama pendeta-pendeta gereja Batak yang bumiputra. Dalam perkembangannya gereja ini juga jemaat-jemaat bertumbuh menjadi gereja yaitu jemaat cabang yang diasuh oleh sintua (penatua) atau porhanger (pemimpin jemaat), jemaat induk (Ressort), Wilayah Gereja (Distrik), Gereja keseluruhan (Huria Kristen Batak Protestan; HKBP). HKBP dipimpin Sinode Agung yang berlangsung sekali setahun. Pada dasawarsa 1920-1950 ternyata gereja ini semakin banyak berinteraksi dengan orang-orang Kristen bukan Batak, sehingga gerakan oikumene pada kurun waktu terakhir ini memainkan peranan yang cukup besar. Dalam tata gereja Sinode dibangun diatas dasar Presbyterial. Tetapi peraturan mengenai jabatan gereja di dalam pasal V, tampak jelas didasarkan pada watak episkopal.

Jabatan dan Tugas Pejabat di Dalam Gereja Batak
Ada pun jabatan-jabatan yang dikenal dalam gereja Batak yaitu:
Penatua (sintua) yaitu orang yang bertugas untuk mengawasi supaya kebaktian-kebaktian rumah tangga yang telah ditetapkan berlangsung dengan baik, mengusahakan supaya orang yang menderita sakit tidak mencari pertolongan pada datu, mengamati supaya para wanita tidak bekerja ke sawah/ladang pada hari minggu, memberi pertolongan dan penghiburan pada orang yang merasa dirinya gagal menjadi Kristen.
Penginjil (Evangelis) yaitu orang-orang yang diangkat dari kalangan penatua. Hal ini dikenal dengan nama Voorganger (Pengantar Jemaat). Untuk itu diadakanlah kursus calon-calon pengantar jemaat yang disebut sekolah penginjil (Evangelis).
Kateket dan Guru yaitu yaitu orang-orang yang dipersiapkan untuk menjadi pembantu bagi misionaris dalam pekerjaan di jemaat. Kebanyakan jemaat diurus dan dirawat oleh guru jemaat. Jabatan guru huria pada awal kegiatan sending merupakan jabatan yang sangat digemari dan sangat diinginkan, namun lambat laun telah kehilangan daya tariknya.
Guru penolong (Guru bantu) yaitu jabatan guru penolong ini merupakan jabatan yang khas untuk Sumatera. Mereka terdiri dari anak-anak muda yang telah menamatkan sekolah desa, tetapi sama sekali tidak pernah mengikuti pendidikan guru. Umumnya mereka ditempatkan di sekolah sekolah desa dibawah pengawasan ketat oleh seorang guru.
Pandita (Pendeta) yaitu orang-orang yang dicari sebagai pengkhotbah dari kalangan guru-guru yang terbaik, yang sudah cukup lama bekerja dan memilki reputasi yang baik di dalam jemaat. Umumnya para calon pendeta itu sudah bekerja sebagai guru selama 6-12 tahun dan sudah menikah. Mereka diwajibkan untuk membawa keluarganya ke seminari. Isteri mereka sebagai pendamping mereka dalam pelayanan, juga turut mendapat bimbingan dalam pengetahuan Alkitab di samping hal-hal yang menyangkut urusan rumahtangga. Setelah mengakhiri kursus, para calon pendeta ini pun melakukan percobaan selama setengah tahun di jemaat, sebelum mereka ditahbiskan sebagai pendeta pembantu. Namun ketentuan ini akhirnya di hapuskan. Dalam perkembangannya munculnya HIS (Holland Inlandse Scholl) yang didirikan pada tahun 1909, segera disusul dengan sekolah-sekolah serupa. Pada tahun 1924 disepakatilah untuk menerima pemuda-pemuda tamatan HIS yng suda berumur 17-18 tahun untuk dipersiapkan mengikuti sekolah pendeta di Sipoholon. Tahun 1934 didirikanlah Sekolah Teologia Tinggi (Hoogere Theologische School; HTS) di Bogor dan kemudian dipindahkan ke Jakarta. Pendidikan Sekolah Theologia Tinggi ini berlangsung selama 6 tahun. Tamatan Sekolah Theologia Tinggi itulah yang harus menggantikan kedudukan para ahli theologia bangsa asing dan yang harus memikul tanggung jawab untuk menemukan suatu bentuk theologianya sendiri. Tahun 1954 Sekolah Theologia Tinggi berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Theologia.      
Pembantu Jemaat dan Porhanger (Voorganger) yaitu orang yang hanya mengerjakan pekerjaan jemaat. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan jemaat-jemaat kecil yang sangat membutuhkan tenaga pembantu yang mempunyai pengetahuan dan pendidikan yang lebih baik dari penatua.
Bendaharawan yaitu orang yang dipilih dari kalangan penatua yang ditugaskan untuk mengumpulkan sumbangan untuk gereja dan untuk pengawasan serta harta jemaat dengan kata lain mengurus segala harta dan milik gereja.
Diaken (Syamas) dan pekerjaan diakonia yaitu orang bekerja sebagai penghibur dan perawat orang sakit akan tetapi hal ini tidak berjalan dengan baik. Namun lama-kelamaan gereja semakin sadar bahwa diakonia tidak dapat diabaikan begitu saja. Dalam sinode HKBP 1951 dibentuklah seksi sosial yang kemudia disebut seksi diakonia.
Bijbelvrouw (Penginjil Wanita) yaitu orang yang mengunjungi setiap jemaat dalam satu wilayah untuk mengajar dan mengadakan kebaktian khusus bersama kaum ibu dan gadis-gadis. Disamping itu turut menyebarkan firman.
Raja (Kepala Kampung atau Kepala Puak) yaitu orang yang mempunyai tugas yaitu sebagai kepala keluarga yang bertanggungjawab atas ketertiban hidup jemaat. Namun kemudian hari hal ditiadakan di samping itu, setelah Indonesia merdeka kekuasaan raja secara praktis tiada lagi.
Imamat Am Orang-Orang Percaya yaitu anggota jemaat yang diikutsertakan dalam pelayan. Dimana setiap hari minggu, setelah kebaktian dipilih 3 atau 4 orang diantara anggota yang dianggap paling mampu untuk bersama-sama pergi mengunjungi penduduk desa yang berdekatan guna memberitakan Firman yang mereka dengar.
Adapun bidang-bidang pelayanan lain dalam gereja batak yaitu tampak dalam berbagai nama-nama seksi seperti Dewan Pengajaran dan Pendidikan, Seksi Pangubation (Kesehatan), Zending Batak, Seksi Diakonia, Seksi Wanita, Seksi Lektur, Seksi Naposobulung (Pemuda-Pemudi) dan Patnership in Obidience.

Masalah-Masalah Khusus dalam Sistem Jabatan HKBP
            Jabatan dalam HKBP memilki hubungan yang cukup erat dengan struktur masyarakat Batak, hal ini terlihat dari unsur-unsur gereja rakyat dimana gereja Batak adalah gereja rakyat yang dicita-citakan oleh Nommensen. Wawasan gereja rakyat ini masih dekat dengan pikiran orang Batak, bahwa melalui organisme ikatan kekeluargaan yang lebih kecil pada akhirnya pasti dapat diciptakan suatu struktur masyarakat yang kolektivistik. Cara berpikir itu jelas tidak tanpa bahaya, karena orang-orang akan merasa lebih tertarik untuk memandang persekutuan gerejawi sebagai produk sosial atau sekurang-kurangnya sebagai produk perkembangan kehidupan masyarakat. Selain itu kelompokisme dan nepotisme juga berdampak dalam jabatan-jabatan gerejawi dan telah membuat setiap marga merasa wajib mencalonkan seorang dari kelompoknya sendiri untuk suatu jabatan; jadi bukan lagi soal watak atau kharisma seorang calon yang menjadi persyaratan utama. Nepotisme itu tidak terbatas pada tingkat marga terdekat saja, tetapi meluas sampai juga ke kelompok marga keluarga yang lebih jauh, yang masih terhitung semoyang atau saompu. Berbicara mengenai Hierarki (jenjang jabatan dalam gereja), menurut pemahaman agama suku hidup rohani dan hidup jasmani berada dalam dunia yang sama. Karena itu, dianggap wajar kalau raja membantu pekerja gereja mengurus soal-soal spiritual. Penghormatan terhadap para pekerja jemaat itu masih akan tambah tinggi, kalau terbukti mereka mampu menyelesaikan suatu pertikaian atau perkara yang terjadi di jemaat dengan baik. Mengenai jabatan bendahara, menurut Warneck jabatan itu diciptakan hanya ingin mempertahankan sifat patriakhal yang menjadi dasar masyarakat Batak dalam kepengurusan gereja. Hal itu sesuai dengan pemikiran tata gereja rakyat. Jabatan di HKBP juga memilki hubungan dengan pemerintah kolonial, hal ini terlihat dari pengaruh pemerintahan kolonial terhadap wibawa pejabat gereja dimana pemerintah kolonial saat itu sangat dihormati ketika mereka mau memilki hubungan yang akrab, hal ini pun membuat jabatan sintua (penatua) menjadi sangat menarik. Hierarki kolonial juga sangat berpengaruh terhadap sistem jabatan gereja hal ini terlihat dari ketergantungan hubungan antara gereja dan zending, sehingga menimbulkan ketergantungan yang memaksa gereja untuk menyesuaikan sistem hierarkinya dengan sistem yang terdapat pada hierarki pemerintah kolonial. Kedudukan khusus para pejabat gereja juga secara nyata dapat dilihat dalam ketentuan yang menetapkan bahwa semua pemangku jabatan gereja bebas kerja wajib (rodi). Hal ini menunjukkan bahwa peghapusan kewajiban rodi itu bagi para pemangku jabatan gereja dapat dianggap sebuah privilege (hak istimewa). Namun setelah pemerintah kolonial membuka berbagai kesempatan yang lebih baik untuk mendapatkan gaji dan pangkat yang lebih tinggi, jabatan gereja berangsur kehilangan daya tariknya. Hal lain yang turut menyebabkan merosotnya penghargaan umum terhadap jabatan gereja ialah, sudah semakin banyak anak Batak yang pergi bersekolah ke Pulau Jawa. Dan yang menjadi titik terendah kemerosotan tersebuat adalah ketika didirikannya pemerintah distrik dan menetapkan kepala distrik sebagai penguasa satu-satunya di distrik itu. Pengaruh teologi pietisme juga turut mewarnai jabatan gereja dimana pada saat itu zending yang datang ke daerah Batak adalah berasal dari lingkungan pietisme. Pengaruh ini juga tidak terlepas dari pemikiran Nommensen. Namun untuk selanjutnya, pengaruh ini mulai bergeser denga hadirnya pendeta-pendeta baru dari Sekolah Theologia Tinggi Jakarta, yang berdasar pada pemikiran Barth. Perlu diketahui juga bahwa ternyata pengaruh magis dan sakramentalisme tidak pernah menghilang dari suku Batak. Tidak diragukan lagi bahwa berbagai unsur dari pemikiran dari zaman kekafiran itu turut terbawa kedalam hidup kekristenan mereka. Di dalam gereja Batak juga, sudah menjadi suatu ketentuan yang tidak tertulis bahwa toga atau talar hanya boleh dipakai oleh seorang yang ditahbiskan sebagai pendeta. Hierarki zending juga turut berpengaruh terhadap jabatan di gereja Batak. Hal ini terlihat dari kebijaksanaan gerejawi besar artinya kalau kekuasaan berada di tangan pimpinan gereja Batak untuk menempatkan dan memindahkan para pekerja gereja. Betapa kuatnya pengaruh sistem hierarki yang diwariskan zending itu tampak pada kenyataan, bahwa sampai sekarang sistem itu masih tetap berlaku, walaupun banyak masalah terjadi di sekitar penempatan pekerja itu.



Jabatan (Pelayanan) HKBP dilihat dalam Terang Alkitab
            Untuk mendapatkan suatu titik tolak yang positif serta gambaran yang lebih jelas tentang arti struktur jabatan dalam HKBP secara Alkitabiah, lebih dulu harus diperhatikan pengertian-pengertian apa yang tersimpul dalam pasal-pasal pengakuan iman (konfessi) HKBP yang disahkan pada tahun 1952. Dalam gereja HKBP jelaslah dinyatakan hanya Allah Tritunggal lah pelaku yang bebas dan dengan demikian jemaat secara bulat berasal dari anugerah-Nya yang bebas berdasarkan pilihan dan kehendak-Nya sendiri. Jadi tidak ada kemungkinan untuk membentuk jemaat atau gereja menurut garis atau lingkungan manusiawi yang horizontal dan imanen. Gereja adalah Communio Sanctorum (Persekutuan orang kudus) yaitu kesatuan yang tak terpecahkan dan Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja. Persekutuan orang Kristen dengan Yesus didasarkan pada sakramen dan firman. Gereja Kristus tetap sama, terutama dalam empat dimensi berikut: gereja selalu sama disegala tempat (oikumenis), di segala zaman, di dalam semua persekutuan, dan di dalam hubungan dengan masing-masing anggotanya. Kesatuan gereja tidak hanya mencakup gereja pada masa kita saja, melainkan mencakup juga gereja masa silam yang akan ada. Dengan demikian gereja mencakup anggotanya yang hidup dan yang mati. Hukum siasat gereja berada di bawah pemberitaan injil dan pelayanan sakramen. Hukum siasat gereja menjungjung kekudusan dan kemuliaan Allah di dalam jemaat dan memenuhi pelayanan kasih di Bidang penggembalaan demi perbaikan dan pemurnian hidup. Hukum siasat gereja diperkenalkan dalam gereja Batak supaya dengan demikian orang Kristen dapat dibiasakan dengan cara-cara kebiasaan hidup Krsitiani yang baik, tertib dan berbudi. Kehadiran gereja rakyat secara teologis tidak dapat dibenarkan karena akan memberikan peluang untuk menjadikan ikatan-ikatan lama, dalam hal ini ciri kesukuan atau faktor-faktor etnis, menjadi pokok pertimbangan yang penting dalam usaha pembangunan jemaat. Oleh karena itu batas antara gereja dan dunia, dalam hal ini suku sebagai norma sosiologis, tidak terlihat lagi. Dalam keadaan ini iman Kristen bercampur aduk dengan agama suku. Dalam hal pelayan gereja Batak memakai kata Diakonia, hal ini menunjukkan bahwa seorang pekerja Kristus wajib melaksanakan tugas pelayanan dengan sabar dan rendah hati. Dalam gereja Batak ini juga dikenal dengan istilah Munus Triplex Kristus, hal ini sangat berarti karena pengaruh pietisme yaitu Keteladanan Yesus Kristus, karya Kristus sebagai imam, nabi dan raja tidak ditampilkan dengan tepat. Seharusnya diatas segalanya harus ditekankan bahwa Yesus bukan hanya Raja dalam Gereja-Nya melainkan juga untuk seluruh dunia. Harus disadari juga bahwa setiap jabatan adalah anggota biasa dalam jemaat, sama seperti orang-orang percaya lainnya dan dia tidak memperoleh khrisma khusus yang menjadikan dia berbeda dari anggota-anggota lainnya. Namun demikian jelas pula bahwa jabatan itu mempunyai kuasa tertentu, suatu kuasa yang bersifat relatif (Berdasarkan hubugan dengan si pemberi kuasa) dan tentu merupakan sesuatu yang didasarkan pada Firman Allah. Dalam hal ini, maka setiap jabatan dapat diakui sebagai kharisma yaitu: Rasul (apostel), Presbyter (Penatua; Sintua), Diaken (syamas), Nabi, Natondi-tondion (yang dipenuhi roh), Guru Jemaat (Pengantar Jemaat), Penginjil (Evangelis), Gembala, Penilik (Episkopoi, Bishop, Uskup), Raja-raja (Kepala marga).              
                            







Minggu, 31 Mei 2015

#NulisRandom2015
Tulisan pertama, 1 Juni 2015
Aku tidak tahu ini tempat apa dan sangat tidak mengerti bahwa gedung ini dihadiri oleh teman-temanku dari berbagai generasi hidupku, ada teman kecilku dulu ketika aku masih duduk di bangku SD dan SMP, lebih tepatnya teman satu kampungku. Namun bukan hanya itu aku juga banyak melihat teman kuliahku, ketika aku kuliah di salah satu sekolah tinggi di kota provinsi Sumatera Utara itu. Mereka beramai-ramai di tempat itu. Aku merasa kehidupan masa sekolah dasar ketika di kampung bersatu dengan kehidupan masa kuliahku yang hidup kost di perkotaan. Aku juga kurang mengerti apa yang kulakukan pada saat itu di gedung itu, aku bingung. Yang pasti aku melihat banyak teman-temanku disana. Aku dengan beberapa teman-teman kuliahku pergi ke gedung PGI (Persatuan Gereja Indonesia) untuk sebuah tugas kuliah, kami pergi dengan mengenderai sepeda motor.
Sepulangnya dari tempat tersebut, ayah saya berkata, “ngapain kamu naik motor ke BCA?” maksudnya Bank BCA. “Aku kesana untuk tugas pak, dan kami juga naik motor dengan tertib. Kami tidak ugal-ugalan” jawabku dengan keras. “iya, tapi kami orangtuamu malu, ketika orang bertanya kamu kerja dimana, kami menjawab di BCA, kami malu, padahal kau seorang calon pendeta ”. Wah, sepertinya ini semakin tidak nyambung. Aku hanya terdiam mendengar perkataan ayahku, tak kubantah sedikitpun, hatiku hanya sedikit teriris, namun harus berusaha kupahami maksud-maksudnya itu. Satu persatu teman-teman kuliahku lewat dari hadapanku, hanya ada satu orang yang menyapaku diantara mereka semua, bahkan orang yang sangat kurindukan selama ini, hanya melihatku dengan pandangan mata yang tidak bersahabat, tak ada goresan senyum hangat menyikut dipipinya. Hanya diam, ya hanya itu yang bisa kulakukan sembari memperhatikan mereka berlalu begitu saja dari pandanganku.   
“tring… tring….” Hpku bergetar. Ini sungguh mengganggu. Aku terbangun dari tidurku. Pukul 04.00 Wib, ini bukan hanya mengganggu tidurku, tapi menganggu hatiku, sungguh mimpi itu mengganggu hatiku dan pikiranku. Apa yang akan terjadi pikirku? Gelisah kini melandaku, gelisah yang kutuangkan dalam tantangan #NulisRandom2015 @nulisbuku yang memang dimulai hari ini, senin 1 Juni 2015.  Yuk, tuangkan segala perasaan yang kamu rasakan hari ini dalam tantangan #NulisRandom2015 @nulisbuku


Rabu, 20 Mei 2015

Sebuah Puisi untuk rasa malas yang sering mengunjungiku

Aku malas
Aku malas
Malas berbuat apa saja
Malas melakukan apa saja
Aku malas
Karenanya aku memilih kasur sebagai sandaran
Untuk menata berbagai impian di khayalan
Karenanya aku tak memperoleh apa-apa
Tak pernah menjadi apa-apa
Aku malas
Mengantuk adalah aktivitas andalanku
Melakukan yang tak berguna adalah sasaranku
Aku malas
“Ini yang terakhir ” selalu jadi komitmenku
“Mulai besok akan begini” selalu jadi harapanku
Aku malas
Komitmen tinggal kenangan
Perubahan tinggal khayalan
Aku malas
Aku marah karena malas
Aku gila karena malas
Aku malas
Lagi aku malas
Aku malas
Kini aku terbiasa malas
Kini ini kebiasaan baru
Aku malas ini sudah kebiasaan
Aku sudah candu malas
Aku malas
Meninggalkan kebiasaan ini
Sebab aku diatur kebiasaan
Aku malas
Aku benci pada diriku
Aku maki diriku sendiri
Aku malas
Sedang apa aku ini?
Sedang malaskah aku ini?
Aku malas
Sayang sekali aku waras
Sayang sekali aku bernafas


Senin, 11 Mei 2015

05 November 2012

05 November 2012
Hari ini hari senin, semalam hari minggu, saya pergi ke GKPI Pamen. Saya sendirian, mengantuk di angkot sendiri. Ada yang tertawa melihat rasa ngantuk saya. Malu tapi juga tidak bisa menahan ngantuk. Rasa ngantuk itu ternyata jauh lebih hebat untuk mengalahkan rasa malu. Hari ini mulai kuliah lagi setelah 2 hari tidak mengkuti pelajaran dan tidak belajar. Rasanya tetap malas, tidak ada perubahan. Kuliah, kemudian pulang kuliah sermon. Malam ini hujan deras. Turut mewarnai kesepian di malam ini. Hampir setiap hari hujan. Mungkin memang keadaan memang sedang musim hujan. Saya tidak tahu betul.
Saya tidak tahu mau menulis apa, kenapa saya membuka laptop ini. kemudian mulai bercerita, seakan-akan saya akan mengarang cerita tentang diri saya. Selalu hanya bisa bertanya “sampai kapan aku begini?, kapan akan berubah? Kapan akan rajin belajar? Kapan akan menjadi ramah? Kapan akan menjadi seseorang yang dapat diandalkan? Kapan? Kapan? Dan kapan?” tidak ada jawaban yang pasti. Selalu mengatakan besok, mengatakan belum terlambat, masih ada waktu, hari-hari masih panjang. Tapi saya tidak tahu dimana hari yang panjang itu.
Hujannya semakin deras. Suara air hujan yang jatuh pada seng-seng itu begitu kuat. sangat kuat. Sehingga tak ada suara apa pun yang terdengar di telinga saya, selain suara air hujan yang jatuh pada seng itu. Baru saja aku mengingatnya, aku punya tugas yang belum kulaksanakan, padahal pekerjaan itu harus segera dilakukan. Bagaimana ini, jika besok mereka bertanya lagi? Apa lagi alasanku? Tidak terpercaya.
Aku seorang yang munafik, aku berdoa, aku memanggil nama Tuhan, aku berseru, aku menyesal mengaku dosa, aku minta ampun, aku memuji Tuhan, aku mengagumi Tuhan, aku memanggil nama-Nya, aku bilang aku mencintai-Nya, tapi aku tidak melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Aku malas belajar, aku tidak tahu diri, orangtuaku cape mencari uang tapi aku menghambur-hamburkannya begitu saja. Aku tidak berpikir, aku malas, aku tidur, mengantuk di kelas, bersenang-senang, berkhayal, curhat, menulis angan-angan yang besar dan omong kosong, banyak bicara sedikit bekerja. Tidak tahu diri. Tidak sadar diri.
Orang Budha, yang tidak mengenalMu itu, ternyata jauh lebih baik dari pada aku, dia jauh lebih mencarimu dan berusaha mengenalmu, padahal dia sebenar-Nya tidak mengenalMu dan tidak mencari-Mu. Ada yang mengenal-Mu, tapi tidak betul-betul mengenal-Mu, hanya omong kosong, kenyataannya tidak melakukan kehendak-Mu.
Aku tidak ingin minta ampun, karena aku takut akan terus minta ampun, minta ampun karena tidak melakukan yang Engkau mau, tapi aku tetap melakukan yang tidak Engkau mau itu. Aku takut, minta ampun kepadaMu, Tuhan yang tidak betul-betul kukenal, aku takut minta ampun padaMu Tuhan yang tidak kutahu. Apakah yang harus kulakukan? Aku takut berdoa, tapi tidak kulakukan apa yang telah kudoakan kepadaMu. Aku takut, takut,
Mataku mulai ngantuk, haruskah aku berdoa? Aku bingung, apa lah kubuat nama data ini. haruskah ini disimpan? Biar dibaca orang. Begitukah???? Sudah jam 23.01. lok tidak tidur besok akan ngantuk. Dah lewat lagi 1 menit. Tidur, bangun lalu begitu saja. Aku pun mulai takut memanggil nama-Mu. Kau ampunikah aku???????

Gambar meja ini pun, sepertinya semakin seram, padahal hanya gambar boneka barbie. Layakkah aku memanggil-Mu kembali TUHANKU??? Tidak segampang yang dipikirkan dan yang dibayangkan. Manusia bodoh. Aku tidur. Aku menyimpan data. Dengan nama yang tidak dikenal. Save. 

Palipi di hari itu

Di Minggu pagi yang cukup cerah itu kami tiba di pulau Samosir, tepatnya di Palipi. Sesuai dengan schedule time yang sudah disiapkan oleh sie.acara, setibanya di tempat tujuan tercinta ini kami akan Ibadah Minggu (Opening Ceremoni), demikian kata-kata yang tertulis dalam schedule time. Maka segala persiapan pribadi dilakukan dengan begitu buru-buru. Segera setelah meletakkan barang dan persiapan pribadi dalam waktu yang begitu singkat itu, semua peserta menuju aula. Aula? Sepertinya tidak sih, kayak kantin-kantin gitu ah. Tapi ya sudah lah. Para peserta duduk di tikar. Terlihat song leader sudah berdiri dengan begitu rapi di bagian depan, pakaiannya begitu resmi, jas untuk pria tambah blejer untuk kaum wanitanya. Rapi sekali, namun disayangkan pusat perhatian orang begitu hebat jadinya kepada mereka, bukannya kepada liturgisnya, pakaian liturgisnya hanya kemeja biasa tak pakai embel-embel.
“Jemaat kami undang untuk bangkit berdiri” terdengar suara liturgis memberi ajakan.
Sedikit membuat saya terkejut, sebab perhatian saya memang kian kesana-kemari mengamati segala situasi.
“Hahahaha” tawaku geli dalam hati.
Nampaknya semua peserta stres, semua wajah terlihat murung dan mutung. Sebenarnya sih saya tidak tahu betul alasan yang membuat mereka murung, kemungkinan ada beberapa hal, pertama, hmmm, tempatnya tidak seperti yang dibayangkan atau tidak sesuai harapan. Kedua, mungkin juga karena begitu cape setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sekitar 8 jam gitu lah jadi ga semangat. Dan yang ketiga, gabungan dari keduanya, klop deh stresnya.
“Nats renungan untuk pagi yang indah ini, di tepi pantai yang manis ini terambil dari Matius 21: 14-22” terdengar kembali suara dari depan, kali ini dari pengkhotbah.
Ops, saking sibuknya saya memperhatikan semua peserta, saya malah sudah tidak tahu perjalanan acara, ternyata sudah khotbah.
“Ah, roa pe” terdengar celoteh salah seorang peserta dari belakang, persisnya suara seorang pria.
“Hahahaha” tawa geliku kembali hadir mendengar celoteh kejujuran itu. Bagiku dia jujur, sebab pantainya bagiku juga tidak manis.    
“Buka facebook akh” pikirku sambil membuka kotak pensil.
Saya memang sudah terbiasa dengan kotak pensil, walaupun sudah mahasiswa. Isinya sudah pasti seperangkat alat tulis-menulis namun tidak pernah ketinggalan seperangkat alat komunikasi juga yaitu handphone. Kali ini saya melanggar rambu-rambu peserta yang tertera pada halaman 5, tepatnya no. 5 juga, dengan bunyi demikian “Setiap peserta retreat diharuskan menjaga ketertiban setiap kegiatan dengan tidak mengobrol, tidur, Fb-an, merokok, keluar masuk ruangan, dan telfonan”.
“Wow, sudah kuduga” gumamku dalam hati.
Banyak peserta yang sudah ON dalam dunia maya, dan semua peserta mengomel dalam dunia maya lewat status fbnya. Segera kututup fbku mengingat biaya yang mahal untuk itu. Terkadang memang tak bisa menuntut begitu saja, ribut sesuka hati mengeluarkan uneg-uneg, semua harus sesuai dengan situasi dan kondisi, semua ada masanya, pas evaluasi kan bisa keluarin uneg-uneg. Tapi kadang-kadang gada keberanian juga, akhirnya hanya tersalur pada dunia maya. Inilah sepenggal cerita pagi di 22 Mei 2011. Palipi di hari itu.


     

Minggu, 10 Mei 2015

Percaya Diri

Sore itu, kita duduk manis di teras rumah sambil nikmatin semangkok mie ayam. Habis itu kita cerita-cerita, kita tu rame, cowok-cewek pada ngumpul di rumah itu. Perlahan-lahan masing-masing cowok ngobrol ma satu cewek, jadi ngobrolnya pasang-pasangan gitu, kecuali gue ni. Kasihan. Eh, tiba-tiba ada seorang cowok yang nyamperin gue. Senang deh, kaga jadi jaga nyamuk. Cerita demi cerita, tu cowok liatin tangan gue melulu, posisi tangan gue ni pas banget di pangkuan gue. Habis itu gue makin ga pede gitu deh, udah dari tadi juga gue sebenarnya kaga pede, apalagi diliatin begitu.
“dek…” si abang ngomong ni
“iya bang” gue ngejawab
“pasti kau ga pede kan?”
“hi… J” senyum sial ni. Shit, gue ketahuan, pikir gue kesal.
“soalnya dari tadi abang liat tangan kamu ga bisa diam, gerak-gerak terus” si abang lagi ni.
“hi…. :) ” Kali kedua gue senyum sial ni dibuat si abang.
Betul sekali, tangan gue sedari tadi kaga bisa diam sih, rusak suasana aja. Dan betul dua kali, tadi kan sekali, gue emang ga pede. Ni kejadian waktu gue masih muda dulu, waktu SMA, dan kejadian ini cukup melekat di hati dan pikiran gue sampai saat ini.
Jujur dan terus terang, gue memang bukan orang yang pede. Apalagi pede banget, pede abis, pede gila, dan pede-pede lainnya, ga banget deh. Gue itu orangnya kuper (Kurang percaya diri, kurang pergaulan dikit-dikit), gue mah gitu orangnya. Pada akhirnya gue sering bergumul ni soal kurangnya ke-pede-an gue ini. Gue selalu mikir gimana ya, biar bisa pede kayak orang-orang??? Sedang mikir ni…
Pede ni bahasa gaulnya percaya diri, confidence . Secara etimologi kata percaya diri dapat diartikan demikian, “percaya” berarti yakin, believe, trust, meyakini, mengakui bahwa sesuatu benar adanya. Sementara “diri” berarti orang seorang (terpisah dari lain); badan, kelas kata ini adalah kata benda yang menyatakan diri sendiri, , self, my self. Sehingga dapat disimpulkan bahwa percaya diri itu adalah meyakini atau yakin pada diri sendiri, mengakui bahwa dirinya sendiri itu benar adanya atau punya eksistensi. Begitu kira-kira ya sederhananya ya. Nah, berarti gue jarang ni meyakini keberadaan gue sendiri, buset dah. Menurut para ahli ni, Lauster misalnya mengatakan bahwa kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau keyakinan atas kemampuan diri sendiri, sehingga dalam tindakan-tindakannya tidak terlalu cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan tanggung jawab atas perbuatannya, sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki dorongan prestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Thantaway dalam Kamus istilah Bimbingan dan Konseling mengatakan, percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan. Orang yang tidak percaya diri memiliki konsep diri negatif, kurang percaya pada kemampuannya, karena itu sering menutup diri. Lanjut tentang gue…
Gue emang dah selalu berusaha tuk bisa pede gitu, tapi ada aja yang gagal. Seringan gagal sih. Gue jadi penakut, kurang pede emang sangat menurunkan keberanian, untung ga nurunin berat badan, bisa kurus kering gue. Apalagi kalau nyanyi ni, astaga, gue ga pede, kecuali rame-rame, gue kuat-kuatin aja suara gue.  Gue sampe coba-coba nyanyi-nyanyi sendiri di kamar mandi, di kamar, biar orang ga denger suara gue yang cempreng ni. Trus gue coba buat video nyanyi berdua ma Demi Lovato lagunya “let it go” sambil bikin-bikin ekspresi gitu. Dalam hati gue, masukin youtube ni, biar terkenal. Eh, salah, maksud gue, gue tu uji keberanian dan kepedean. Habis rekaman, gue tonton tu video, alamak, minta ampun dah, ga pede banget masukinnya. Gue emang ga bisa nyanyi dan jarang nyanyi. Apalagi tampil di depan banyak orang, tiba-tiba suara gue ga bisa keluar saking ga pedenya. Jadi lipsing deh, itu pun tak pede. Itu kalau nyanyi. Beda kalau nari, makin gue ga pede, soalnya badan gue kayak kayu-kayu. Kaku bingit. Lu, liat gue nari : “mendingan liat topeng monyet dah” ni yang keluar dari mulut lu ntar. Kalau lu liat profil gue ni, lu bakal tau, gue jurusan teologia, paling ga, gue itu public speaking ya, seseorang yang bisa, bahkan udah terbiasa berbicara di hadapan orang banyak, di mimbar lagi. Ya, setelah dipikir-pikir kalau gue khotbah di gereja atau dimana pun itu, perasaan gue baik-baik aja, gue ngerasa gue ga kaku, dan gue juga ga terlalu serius, gue tu enjoy, dan mengalir begitu saja. Kekuatan Roh kali ya. I don’t Know. Lu bisa tanya ma teman gue yang pernah satu tempat praktek ma gue waktu kuliah dulu, bahkan gue bisa dibilang ga kalah lah ma yang lain-lain yang sudah terbiasa, hasil praktek gue selalu A. Ni dah kepedean ya?? Ga, ni serius, ya gue selalu dapat nilai bagus waktu praktek. Jemaat juga selalu kasi pujian ma Tuhan, kadang-kadang ma gue. Selain pede tampil di hadapan para jemaat, gue juga pede main drama, baik itu drama romance, cie.., horror, komedi, dll. Gue ga kalah deh ma artis-artis. Yang ini makin gatau kekuatan roh mana yang datang.  Jadi begini, Faktor yang mempengaruhi rasa percaya diri pada seseorang menurut Thursan Hakim sebagai berikut: Lingkungan keluarga, Keadaan lingkungan sangat mempengaruhi pembentukan awal rasa percaya diri pada seseorang. Rasa percaya diri merupakan suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang ada pada dirinya dan diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari. Pendidikan Formal, Sekolah bisa dikatakan sebagai lingkungan kedua bagi anak, dimana sekolah merupakan lingkungan yang paling berperan bagi anak setelah lingkungan keluarga dirumah. Sekolah memberikan ruang pada anak untuk mengekspresikan rasa percaya dirinya terhadap teman-teman sebayanya. Dan Pendidikan non formal, Salah satu modal utama untuk bisa menjadi seseorang dengan kepribadian yang penuh rasa percaya diri adalah memiliki kelebihan tertentu yang berarti bagi diri sendiri dan orang lain. Rasa percaya diri akan menjadi lebih mantap jika seseorang memiliki suatu kelebihan yang membuat orang lain merasa kagum. Kemampuan atau keterampilan dalam bidang tertentu bisa didapatkan melalui pendidikan non formal.  Secara formal dapat digambarkan bahwa rasa percaya diri merupakan gabungan dari pandangan positif diri sendiri dan rasa aman. Selain itu, menurut Loekmono rasa percaya diri tidak terbentuk dengan sendirinya melainkan berkaitan dengan seluruh kepribadian seseorang secara keseluruhan. Kepercayaan diri juga membutuhkan hubungan dengan orang lain di sekitar lingkunganya dan semuanya itu mempengaruhi pertumbuhan rasa percaya diri. Dalam hal ini dapat dikatakan kepercayaan diri muncul dari individu sendiri karena adanya rasa aman, penerimaan akan keadaan diri dan adanya hubungan dengan orang lain serta lingkungan yang mampu memberikan penilaian dan dukungan, sehingga mempengaruhi pertumbuhan rasa percaya diri. Dukungan yang ada serta penerimaan dari keluarga dapat pula mempengaruhi rasa percaya diri dalam hal ini adalah remaja sebagai anggota keluarga. Orangtua mampu memberikan nasehat, pengarahan, informasi kepada remaja dalam kaitannya dengan rasa percaya diri.
Sejauh ini, dengan memperhatikan sejarah perjalanan hidup gue selama 23 tahun di dunia, setelah gue telusuri satu per satu, tiap babak hidup gue, gue singgahin, gue lihat bahwa faktor terbesar yang mempengaruhi kekurangan pede gue ini ada pada faktor pertumbuhan gue dalam keluarga. Yah, ceritanya begitu panjang. Gue lebih lama sih tinggal ma ortu daripada tinggal sendiri. Hehe. Tapi itu bukanlah hal yang patut untuk disalahkan, atau diapa-apain, gue hanya perlu mendaur ulang diri sendiri. Percaya diri adalah bagian yang sangat positif dan patut untuk dibangun dalam diri setiap orang.
Cukup sekian, gue ngantuk sangat sudah, marpala-pala bikin ni postingan, postingan ini bagian usaha untuk membangun rasa percaya diri, Selamat membangun rasa percaya diri, tapi ini bukan bagian dari 33 seri selamat karya Amang Andar Ismail,

Selamat malam,..