Rabu, 01 Juli 2015
Tunas Berii: Resensi BukuOleh : Beri...
Tunas Berii: Resensi BukuOleh : Beri...: Resensi Buku Oleh : Beriyanti Oktavia Damanik Judul Buku : Makna Wibawa Jabatan Dalam Gerej...
Resensi Buku
Oleh : Beriyanti Oktavia
Damanik
Judul
Buku : Makna Wibawa
Jabatan Dalam Gereja Batak
Penulis : Andar M. Lumbantobing
Penerbit : BPK-GM
Jumlah
Halaman : 338 halaman
Tahun
Terbit : 1996
I.
PENDAHULUAN
Buku
ini sebenarnya berjudul “Das Amt In Der Batak-Kirche” yang diterjemahkan dengan
judul “Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak”. Buku ini berbicara tentang
jabatan dalam gereja Batak Khususnya HKBP, buku ini menceritakan perkembangan
tentang masalah jabatan dalam masyarakat Batak hingga munculnya dan
berkembangnya keKristenan dalam suku Batak. Banyak perubahan yang terjadi dalam
suku Batak setelah kehadiran injil akan tetapi berbicara mengenai jabatan dalam
gereja Batak, kebudayaan suku Batak juga turut mempengaruhi jabatan dalam
gereja Batak. Buku ini bagus untuk dibaca, akan tetapi buku ini kurang cocok
untuk kalangan umum. Namun buku ini akan sangat bermanfaat untuk mahasiswa
teologia khususnya orang yang sudah mengenal gereja Batak. Melalui buku ini
kita dapat mengetahui bagaimana sebenarnya jabatan dalam gereja Batak dan
melalui buku ini juga kita bisa mengetahui dan mengoreksi jabatan dalam gereja
kita sendiri, apakah jabatan tersebut sudah sesuai dengan terang Alkitab. Akhir
kata, marilah kita sadari bahwa dalam setiap jabatan Tuhan menyatakan
kehadiranNya oleh karena itu jabatan tidak tergantung pada kualitas
manusiawinya, melainkan semata-mata pada Tuhan yang telah mendirikankannya
berdasarkan firman-Nya.
II.
ISI
Suku Batak di Zaman
Keberhalaan
Suku
Batak yang bermukim di bagian utara dan barat laut Pulau Sumatera terdiri dari
enam suku atau cabang, yaitu suku Karo, Pakpak atau Dairi, Simalungun, Toba,
Angkola, dan suku Mandailing. Suku Batak dimasukkan dalam rumpun Melayu, yang
sebagian besar sekarang menyebut dirinya bangsa Indonesia. Menurut J. Warneck
Batak berarti “penunggang kuda yang lincah” tetapi menurut H.N. vander Tuuk
Batak berarti “kafir”, yang lain juga mengartikan Batak adalah “budak-budak
yang bercap atau ditandai”. Masyarakat suku Batak juga sukar menerima
pengaruh-pengaruh dari luar. Sifat tertutup orang Batak mulai terbuka setelah
terjadi penyerbuan dan pendudukan Islam di bagian Selatan daerah Batak pada
tahun 1830-an, yang kemudian disusul dengan masuknya RMG pada tahun 1861,
hampir bersamaan dengan permulaan masa pendudukan Belanda secara bertahap atas
daerah Batak. Gunung Pusuk Buhit yang
terletak di sebelah barat laut Danau Toba menurut mitologi Batak adalah tempat
asal-usul Batak. Dalam mitologi ini juga dikenal Mulajadi Na Bolon, Sang Awal
Yang Maha Besar yang berkuasa atas segala yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa
suku Batak di jaman keberhalaan sudah percaya pada Allah Yang Esa, yang disebut
Mulajadi Na Bolon. Mulajadi Na Bolon inilah yang dipercayai suku Batak sebagai
pencipta manusia pertama. Dalam suku Batak ini juga dikenal dengan istilah sahala yang artinya kewibawaan,
kemewahan, kemuliaan dan kekuasaan. Sahala ini memiliki pengaruh yang sangat
besar dalam segala gerak hidup suku Batak. Oleh karena itu dengan berbagai cara
setiap orang berusaha mendapatkan sahala. Menurut kepercayaan suku Batak sahala
dapat diperoleh dari keluarga lelaki isterinya yang disebut dengan istilah hula-hula. Oleh karena itu suami wajib
bersikap lebih hormat terhadap keluarga laki-laki isterinya. Selain itu
pemujaan terhadap arwah juga dianggap sebagai salah satu cara untuk memperoleh
sahala. Barang-barang milik orangtua juga dianggap dapat memberi sahala. Sahala
juga dipercayai dapat diperoleh dari tamu yang datang, oleh karena itu suku
Batak senang menerima tamu dan mereka sangat bertanggung jawab atas keselamatan
tamu tersebut hal ini dikenal dengan istilah paramak so balunon. Suku Batak juga menganut sistem patriakhal
dimana hanya anak laki-laki yang diakui sebagai anggota keluarga penuh dan
sebagai ahli waris.
Suku
Simalungun juga sudah mengenal Jabatan yang disebut dengan tohonan pada zaman keberhalaan. Dalam masyarakat ada beberapa
jabatan yang sering dikenal yaitu pertama, jabatan kepala suku sekaligus
menjadi panglima, imam, dan raja. Kehendak kepala suku haruslah dituruti oleh
rakyatnya dan dialah yang berhak memutuskan segala perkara yang terjadi di
daerahnya. Kedua, datu imam yaitu orang yang paling menonjol dalam hal
penyembahan kepada berhala-berhala. Ketiga, sibaso hasandaran (Medium;
perantara) yaitu pengantara antara orang yang hidup dan mati dan umumnya
terdiri dari kaum wanita. Keempat, ulubalang (Panglima pasukan) adalah seorang
panglima pasukan yang diangkat dari salah seorang rakyat. Kelima, pangintuai
(tua-tua kampung) yaitu tempat perundingan masyarakat untuk mengambil keputusan
dan tempat pengaduan masyarakat. Suku batak percaya bahwa semenjak dalam
kandungan seorang manusia sudah memiliki ancaman dari roh-roh jahat. Oleh
karena itu untuk melindunginya maka sang ibu harus melakukan berbagai ragam
pantangan. Pada saat melahirkan, sang ibu akan dibantu oleh sibaso (dukun
beranak). Kemudian setelah anak lahir maka diminta bantuan datu untuk
meramalkan jalan hidup anak tersebut. Pemberian nama dalam suku Batak juga
sangat penting oleh karena itu dalam pemberina nama juga harus memilih hari
yang baik. Saat usia seorang anak sudah mencapai umur 15-16 tahun maka akan
diadakan upacara untuk memberi penekanan dalam proses peralihan dari anak-anak
kepada masa dewasa. Setelah dewasa biasanya seorang pemuda juga akan menunjukkan
kemahirannya dalam hal berpantun. Kemahiran ini akan dipertunjukkan pada
kesempatan martandang (pergi mencari
jodoh). Selain itu kesibukan lain muda-mudi adalah berteka-teki. Dalam hal
perjodohan dan pernikahan biasanya pilihan pertama bagi orangtua si anak adalah
pariban (Cross-cousin). Dan biasanya
dalam hal ini juga dikenal dengan istilah membeli istri (Tuhor) artinya harga.
Berbicara mengenai kematian dalam suku Batak setiap kematian menuntut diadakan
upacara yang satu sama lain berbeda sesuai dengan perbedaan yang terdapat pada
usia, kekayaan dan tingkat sosial orang yang meninggal itu. Menurut adat
semakin tinggi usia dan semakin banyak kekayaan yang berhasil dirumpuk oleh
orang yang meninggal dalam hidupnya maka akan semakin besar upacara penguburannya
dan semakin lama juga jenazahnya diatahan diatas tanah. Kematian orang yang
bertuah dan kaya ini juga akan diupacarai dengan membunyikan gondang (musik sakral yang terdiri dari
gung besar dan kecil, serunai dan seruling) diiringi juga dengan tor-tor (tari) dan andung (ratapan
tangis).
Pembangunan Jemaat dan
Perkembangan Gereja Batak
Pada
masa pemerintahan Inggris, tahun 1820, Gereja Baptis Inggris mengirim tiga
penginjil yaitu Burton, Ward dan Evans, mereka bertiga telah berhasil mencapai
negeri Batak yang paling sentral yaitu Silindung. Disana mereka bertemu dengan
seorang raja yang sudah lanjut usia dan mereka disambut dengan baik. Pada tahun
1834, dua orang misionaris Amerika yaitu Muson dan Lyman yang diutus oleh
zending Boston juga tiba di Sibolga. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju
Silindung, akan tetapi dalam perjalan ketika mereka berhenti di Lobupininng,
mereka ditangkap raja Panggalamei beserta rakyatnya akhirnya mereka disembelih
dan dimakan (28 Juni 1834). Pada tahun 1856, Van Asselt diba di Sipirok
(Angkola) dan bermaksud untuk melanjutkan perjalanannya ke daerah pedalaman.
Namun pemerintah melarangnya masuk akibat kematian Muson dan Lyman. Dalam
masyarakat suku Batak juga sangat dikenal perbudakan, dalam hal ini pemerintah
belanda melakukan penghapusan perbudakan pada tahun 1876. Hal ini pun sangat
membantu perkembangan injil. Pada saat itu juga Asselt juga berhasil membantu
masyarakat mengatasi penyakit cacar yang pada saat itu berkembang di daerah
Angkola. Tahun 1859, atas permintaan Asselt dan Emerlo maka dikirimlah dua
orang misionaris yaitu Dammeboer dan Betz
untuk membantu penginjilan di Sipirok. Maka pada tanggal 7 Oktober 1861
didirikanlah Batakmision dan pada saat itu juga Asselt berhasil membaptis dua
orang Batak yaitu Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar. Tahun 1862 I.L. Nommensen pun tiba di Barus.
Untuk sementara dia tinggal disana untuk belajar bahasa dan adat Batak. Waktu
itu bagian selatan tanah Batak sudah tersebar agama Islam. Oleh karena itu pada
tahun 1864 dia melanjutkan perjalanannya ke daerah tengah tanah Batak yaitu
Lembah Silindung. Pada awalnya di Silindung Nommensen ditolak dan berusaha
untuk dibunuh akan tetapi hal itu selalu gagal. Akhirnya ada orang-orang yang
merasa takluk dan hormat padanya. Tetapi orang-orang tersebut dihina dan diusir
dari kampung sehingga mereka lari dan tinggal bersama Nommensen yang membentuk
suatu kampung yang disebut dengan nama kampung damai atau Huta Dame. Tahun 1873 Nommensen membuka pelajaran katekisasi yang
pertama. Tahun ini juga Nommensen pindah ke Pearaja, sebuah tempat di lereng
sebuah bukit. Tempat itu diberikan oleh raja Pontas yang menganggap sudah tiba
waktunya untuk terbuka. Raja Pontas dibaptis dengan nama Obaja. Pemberitaan
injil di daerah Batak pun sangat maju. Akan tetapi pada tahun 1887, seorang
yang bernama Sarbut, membakar gereja, sekolah dan rumah pendeta, akhirnya dia
ditangkap oleh pemerintah. Si Singamangaraja juga sangat marah melihat begitu
banyak orang Batak yang meninggalkan agama nenek moyang dan kepatuhan pada
adat-istiadat. Sikap permusuhan si Singamangaraja terhadap gereja tidak pernah
memudar sampai akhir hayatnya. Tepat pada tanggal 17 Juni 1907, dia bersama dua
orang anaknya ditangkap kompeni dan ditembak mati atas tuduhan pembunuhan dan
pembakaran. Pertambahan orang Kristen pun semakin pesat dalam waktu yang
singkat. Dalam sepuluh tahun pertama, setelah zending bekerja di daerah Batak,
kira-kira 1200 orang Batak menjadi orang Kristen. Keberhasilan zending juga
banyak disebabkan karena cara pendekatan mereka yang sesuai dengan norma yang
berlaku. Tahun 1930, gereja Batak dinyatakan sebagai sebuah badan hukum. Pada
tahun yang sama Warneck manyusun tata
gereja baru. Namun pecahnya Perang Dunia menjadi salah satu tantangan yang
cukup besar terhadap HKBP, masa-masa sulit pun terus berlangsung hingga
penjajahan Jepang dan sampai revolusi kemerdekaan Indonesia (1950). Tahun 1952,
permohonan HKBP untuk diterima menjadi anggota badan Gereja-gereja Luther
sedunia (Lutheran World Federation; LWF) diterima. Salah satu persyaratan LWF
untuk menjadi calon anggota adalah menyerahkan konfensi atau pengakuan
gerejawi. Oleh karena itu dengan segera disusunlah pengakuan iman dan disahkan
pada sinode 1951. Itulah yang disebut Pengakuan
Percaya (Konfessi) Huria Kristen Batak Protestan. Pengakuan itu adalah
produk teologis pertama pendeta-pendeta gereja Batak yang bumiputra. Dalam
perkembangannya gereja ini juga jemaat-jemaat bertumbuh menjadi gereja yaitu
jemaat cabang yang diasuh oleh sintua (penatua) atau porhanger (pemimpin
jemaat), jemaat induk (Ressort), Wilayah Gereja (Distrik), Gereja keseluruhan
(Huria Kristen Batak Protestan; HKBP). HKBP dipimpin Sinode Agung yang
berlangsung sekali setahun. Pada dasawarsa 1920-1950 ternyata gereja ini
semakin banyak berinteraksi dengan orang-orang Kristen bukan Batak, sehingga
gerakan oikumene pada kurun waktu terakhir ini memainkan peranan yang cukup
besar. Dalam tata gereja Sinode dibangun diatas dasar Presbyterial. Tetapi
peraturan mengenai jabatan gereja di dalam pasal V, tampak jelas didasarkan
pada watak episkopal.
Jabatan dan Tugas
Pejabat di Dalam Gereja Batak
Ada
pun jabatan-jabatan yang dikenal dalam gereja Batak yaitu:
Penatua (sintua)
yaitu orang yang bertugas untuk mengawasi supaya kebaktian-kebaktian rumah
tangga yang telah ditetapkan berlangsung dengan baik, mengusahakan supaya orang
yang menderita sakit tidak mencari pertolongan pada datu, mengamati supaya para
wanita tidak bekerja ke sawah/ladang pada hari minggu, memberi pertolongan dan
penghiburan pada orang yang merasa dirinya gagal menjadi Kristen.
Penginjil (Evangelis)
yaitu orang-orang yang diangkat dari kalangan penatua. Hal ini dikenal dengan
nama Voorganger (Pengantar Jemaat). Untuk itu diadakanlah kursus calon-calon
pengantar jemaat yang disebut sekolah penginjil (Evangelis).
Kateket dan Guru
yaitu yaitu orang-orang yang dipersiapkan untuk menjadi pembantu bagi
misionaris dalam pekerjaan di jemaat. Kebanyakan jemaat diurus dan dirawat oleh
guru jemaat. Jabatan guru huria pada awal kegiatan sending merupakan jabatan
yang sangat digemari dan sangat diinginkan, namun lambat laun telah kehilangan
daya tariknya.
Guru penolong (Guru
bantu) yaitu jabatan guru penolong ini
merupakan jabatan yang khas untuk Sumatera. Mereka terdiri dari anak-anak muda
yang telah menamatkan sekolah desa, tetapi sama sekali tidak pernah mengikuti
pendidikan guru. Umumnya mereka ditempatkan di sekolah sekolah desa dibawah
pengawasan ketat oleh seorang guru.
Pandita (Pendeta)
yaitu orang-orang yang dicari sebagai pengkhotbah dari kalangan guru-guru yang
terbaik, yang sudah cukup lama bekerja dan memilki reputasi yang baik di dalam
jemaat. Umumnya para calon pendeta itu sudah bekerja sebagai guru selama 6-12
tahun dan sudah menikah. Mereka diwajibkan untuk membawa keluarganya ke
seminari. Isteri mereka sebagai pendamping mereka dalam pelayanan, juga turut
mendapat bimbingan dalam pengetahuan Alkitab di samping hal-hal yang menyangkut
urusan rumahtangga. Setelah mengakhiri kursus, para calon pendeta ini pun
melakukan percobaan selama setengah tahun di jemaat, sebelum mereka ditahbiskan
sebagai pendeta pembantu. Namun ketentuan ini akhirnya di hapuskan. Dalam
perkembangannya munculnya HIS (Holland Inlandse Scholl) yang didirikan pada
tahun 1909, segera disusul dengan sekolah-sekolah serupa. Pada tahun 1924
disepakatilah untuk menerima pemuda-pemuda tamatan HIS yng suda berumur 17-18
tahun untuk dipersiapkan mengikuti sekolah pendeta di Sipoholon. Tahun 1934
didirikanlah Sekolah Teologia Tinggi (Hoogere Theologische School; HTS) di Bogor
dan kemudian dipindahkan ke Jakarta. Pendidikan Sekolah Theologia Tinggi ini
berlangsung selama 6 tahun. Tamatan Sekolah Theologia Tinggi itulah yang harus
menggantikan kedudukan para ahli theologia bangsa asing dan yang harus memikul
tanggung jawab untuk menemukan suatu bentuk theologianya sendiri. Tahun 1954
Sekolah Theologia Tinggi berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Theologia.
Pembantu Jemaat dan
Porhanger (Voorganger) yaitu orang yang hanya
mengerjakan pekerjaan jemaat. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
jemaat-jemaat kecil yang sangat membutuhkan tenaga pembantu yang mempunyai
pengetahuan dan pendidikan yang lebih baik dari penatua.
Bendaharawan yaitu
orang yang dipilih dari kalangan penatua yang ditugaskan untuk mengumpulkan
sumbangan untuk gereja dan untuk pengawasan serta harta jemaat dengan kata lain
mengurus segala harta dan milik gereja.
Diaken (Syamas)
dan pekerjaan diakonia yaitu orang bekerja sebagai penghibur dan perawat orang
sakit akan tetapi hal ini tidak berjalan dengan baik. Namun lama-kelamaan
gereja semakin sadar bahwa diakonia tidak dapat diabaikan begitu saja. Dalam
sinode HKBP 1951 dibentuklah seksi sosial yang kemudia disebut seksi diakonia.
Bijbelvrouw (Penginjil
Wanita) yaitu orang yang mengunjungi setiap
jemaat dalam satu wilayah untuk mengajar dan mengadakan kebaktian khusus
bersama kaum ibu dan gadis-gadis. Disamping itu turut menyebarkan firman.
Raja (Kepala Kampung
atau Kepala Puak) yaitu orang yang mempunyai tugas
yaitu sebagai kepala keluarga yang bertanggungjawab atas ketertiban hidup
jemaat. Namun kemudian hari hal ditiadakan di samping itu, setelah Indonesia
merdeka kekuasaan raja secara praktis tiada lagi.
Imamat Am Orang-Orang
Percaya yaitu anggota jemaat yang diikutsertakan
dalam pelayan. Dimana setiap hari minggu, setelah kebaktian dipilih 3 atau 4
orang diantara anggota yang dianggap paling mampu untuk bersama-sama pergi
mengunjungi penduduk desa yang berdekatan guna memberitakan Firman yang mereka
dengar.
Adapun
bidang-bidang pelayanan lain dalam gereja batak yaitu tampak dalam berbagai
nama-nama seksi seperti Dewan Pengajaran dan Pendidikan, Seksi Pangubation
(Kesehatan), Zending Batak, Seksi Diakonia, Seksi Wanita, Seksi Lektur, Seksi
Naposobulung (Pemuda-Pemudi) dan Patnership in Obidience.
Masalah-Masalah Khusus
dalam Sistem Jabatan HKBP
Jabatan dalam HKBP memilki hubungan
yang cukup erat dengan struktur masyarakat Batak, hal ini terlihat dari
unsur-unsur gereja rakyat dimana gereja Batak adalah gereja rakyat yang
dicita-citakan oleh Nommensen. Wawasan gereja rakyat ini masih dekat dengan
pikiran orang Batak, bahwa melalui organisme ikatan kekeluargaan yang lebih
kecil pada akhirnya pasti dapat diciptakan suatu struktur masyarakat yang
kolektivistik. Cara berpikir itu jelas tidak tanpa bahaya, karena orang-orang
akan merasa lebih tertarik untuk memandang persekutuan gerejawi sebagai produk
sosial atau sekurang-kurangnya sebagai produk perkembangan kehidupan
masyarakat. Selain itu kelompokisme dan nepotisme juga berdampak dalam
jabatan-jabatan gerejawi dan telah membuat setiap marga merasa wajib
mencalonkan seorang dari kelompoknya sendiri untuk suatu jabatan; jadi bukan
lagi soal watak atau kharisma seorang calon yang menjadi persyaratan utama.
Nepotisme itu tidak terbatas pada tingkat marga terdekat saja, tetapi meluas
sampai juga ke kelompok marga keluarga yang lebih jauh, yang masih terhitung
semoyang atau saompu. Berbicara mengenai Hierarki (jenjang jabatan dalam
gereja), menurut pemahaman agama suku hidup rohani dan hidup jasmani berada
dalam dunia yang sama. Karena itu, dianggap wajar kalau raja membantu pekerja
gereja mengurus soal-soal spiritual. Penghormatan terhadap para pekerja jemaat
itu masih akan tambah tinggi, kalau terbukti mereka mampu menyelesaikan suatu
pertikaian atau perkara yang terjadi di jemaat dengan baik. Mengenai jabatan
bendahara, menurut Warneck jabatan itu diciptakan hanya ingin mempertahankan
sifat patriakhal yang menjadi dasar masyarakat Batak dalam kepengurusan gereja.
Hal itu sesuai dengan pemikiran tata gereja rakyat. Jabatan di HKBP juga
memilki hubungan dengan pemerintah kolonial, hal ini terlihat dari pengaruh
pemerintahan kolonial terhadap wibawa pejabat gereja dimana pemerintah kolonial
saat itu sangat dihormati ketika mereka mau memilki hubungan yang akrab, hal
ini pun membuat jabatan sintua (penatua) menjadi sangat menarik. Hierarki
kolonial juga sangat berpengaruh terhadap sistem jabatan gereja hal ini
terlihat dari ketergantungan hubungan antara gereja dan zending, sehingga
menimbulkan ketergantungan yang memaksa gereja untuk menyesuaikan sistem
hierarkinya dengan sistem yang terdapat pada hierarki pemerintah kolonial.
Kedudukan khusus para pejabat gereja juga secara nyata dapat dilihat dalam
ketentuan yang menetapkan bahwa semua pemangku jabatan gereja bebas kerja wajib
(rodi). Hal ini menunjukkan bahwa peghapusan kewajiban rodi itu bagi para
pemangku jabatan gereja dapat dianggap sebuah privilege (hak istimewa). Namun
setelah pemerintah kolonial membuka berbagai kesempatan yang lebih baik untuk
mendapatkan gaji dan pangkat yang lebih tinggi, jabatan gereja berangsur
kehilangan daya tariknya. Hal lain yang turut menyebabkan merosotnya
penghargaan umum terhadap jabatan gereja ialah, sudah semakin banyak anak Batak
yang pergi bersekolah ke Pulau Jawa. Dan yang menjadi titik terendah
kemerosotan tersebuat adalah ketika didirikannya pemerintah distrik dan
menetapkan kepala distrik sebagai penguasa satu-satunya di distrik itu. Pengaruh
teologi pietisme juga turut mewarnai jabatan gereja dimana pada saat itu
zending yang datang ke daerah Batak adalah berasal dari lingkungan pietisme.
Pengaruh ini juga tidak terlepas dari pemikiran Nommensen. Namun untuk
selanjutnya, pengaruh ini mulai bergeser denga hadirnya pendeta-pendeta baru
dari Sekolah Theologia Tinggi Jakarta, yang berdasar pada pemikiran Barth.
Perlu diketahui juga bahwa ternyata pengaruh magis dan sakramentalisme tidak
pernah menghilang dari suku Batak. Tidak diragukan lagi bahwa berbagai unsur
dari pemikiran dari zaman kekafiran itu turut terbawa kedalam hidup kekristenan
mereka. Di dalam gereja Batak juga, sudah menjadi suatu ketentuan yang tidak
tertulis bahwa toga atau talar hanya boleh dipakai oleh seorang yang
ditahbiskan sebagai pendeta. Hierarki zending juga turut berpengaruh terhadap
jabatan di gereja Batak. Hal ini terlihat dari kebijaksanaan gerejawi besar
artinya kalau kekuasaan berada di tangan pimpinan gereja Batak untuk
menempatkan dan memindahkan para pekerja gereja. Betapa kuatnya pengaruh sistem
hierarki yang diwariskan zending itu tampak pada kenyataan, bahwa sampai
sekarang sistem itu masih tetap berlaku, walaupun banyak masalah terjadi di
sekitar penempatan pekerja itu.
Jabatan (Pelayanan)
HKBP dilihat dalam Terang Alkitab
Untuk mendapatkan suatu
titik tolak yang positif serta gambaran yang lebih jelas tentang arti struktur
jabatan dalam HKBP secara Alkitabiah, lebih dulu harus diperhatikan
pengertian-pengertian apa yang tersimpul dalam pasal-pasal pengakuan iman
(konfessi) HKBP yang disahkan pada tahun 1952. Dalam gereja HKBP jelaslah dinyatakan
hanya Allah Tritunggal lah pelaku yang bebas dan dengan demikian jemaat secara
bulat berasal dari anugerah-Nya yang bebas berdasarkan pilihan dan kehendak-Nya
sendiri. Jadi tidak ada kemungkinan untuk membentuk jemaat atau gereja menurut
garis atau lingkungan manusiawi yang horizontal dan imanen. Gereja adalah Communio Sanctorum (Persekutuan orang
kudus) yaitu kesatuan yang tak terpecahkan dan Yesus Kristus sebagai Kepala
Gereja. Persekutuan orang Kristen dengan Yesus didasarkan pada sakramen dan firman.
Gereja Kristus tetap sama, terutama dalam empat dimensi berikut: gereja selalu
sama disegala tempat (oikumenis), di segala zaman, di dalam semua persekutuan,
dan di dalam hubungan dengan masing-masing anggotanya. Kesatuan gereja tidak
hanya mencakup gereja pada masa kita saja, melainkan mencakup juga gereja masa
silam yang akan ada. Dengan demikian gereja mencakup anggotanya yang hidup dan
yang mati. Hukum siasat gereja berada di bawah pemberitaan injil dan pelayanan
sakramen. Hukum siasat gereja menjungjung kekudusan dan kemuliaan Allah di
dalam jemaat dan memenuhi pelayanan kasih di Bidang penggembalaan demi
perbaikan dan pemurnian hidup. Hukum siasat gereja diperkenalkan dalam gereja
Batak supaya dengan demikian orang Kristen dapat dibiasakan dengan cara-cara
kebiasaan hidup Krsitiani yang baik, tertib dan berbudi. Kehadiran gereja
rakyat secara teologis tidak dapat dibenarkan karena akan memberikan peluang
untuk menjadikan ikatan-ikatan lama, dalam hal ini ciri kesukuan atau
faktor-faktor etnis, menjadi pokok pertimbangan yang penting dalam usaha
pembangunan jemaat. Oleh karena itu batas antara gereja dan dunia, dalam hal
ini suku sebagai norma sosiologis, tidak terlihat lagi. Dalam keadaan ini iman
Kristen bercampur aduk dengan agama suku. Dalam hal pelayan gereja Batak
memakai kata Diakonia, hal ini menunjukkan bahwa seorang pekerja Kristus wajib
melaksanakan tugas pelayanan dengan sabar dan rendah hati. Dalam gereja Batak
ini juga dikenal dengan istilah Munus
Triplex Kristus, hal ini sangat berarti karena pengaruh pietisme yaitu
Keteladanan Yesus Kristus, karya Kristus sebagai imam, nabi dan raja tidak
ditampilkan dengan tepat. Seharusnya diatas segalanya harus ditekankan bahwa
Yesus bukan hanya Raja dalam Gereja-Nya melainkan juga untuk seluruh dunia.
Harus disadari juga bahwa setiap jabatan adalah anggota biasa dalam jemaat,
sama seperti orang-orang percaya lainnya dan dia tidak memperoleh khrisma
khusus yang menjadikan dia berbeda dari anggota-anggota lainnya. Namun demikian
jelas pula bahwa jabatan itu mempunyai kuasa tertentu, suatu kuasa yang
bersifat relatif (Berdasarkan hubugan dengan si pemberi kuasa) dan tentu
merupakan sesuatu yang didasarkan pada Firman Allah. Dalam hal ini, maka setiap
jabatan dapat diakui sebagai kharisma yaitu: Rasul (apostel), Presbyter
(Penatua; Sintua), Diaken (syamas), Nabi, Natondi-tondion (yang dipenuhi roh),
Guru Jemaat (Pengantar Jemaat), Penginjil (Evangelis), Gembala, Penilik
(Episkopoi, Bishop, Uskup), Raja-raja (Kepala marga).
Minggu, 31 Mei 2015
#NulisRandom2015
Tulisan pertama, 1 Juni 2015
Aku tidak tahu ini
tempat apa dan sangat tidak mengerti bahwa gedung ini dihadiri oleh
teman-temanku dari berbagai generasi hidupku, ada teman kecilku dulu ketika aku
masih duduk di bangku SD dan SMP, lebih tepatnya teman satu kampungku. Namun bukan
hanya itu aku juga banyak melihat teman kuliahku, ketika aku kuliah di salah
satu sekolah tinggi di kota provinsi Sumatera Utara itu. Mereka beramai-ramai
di tempat itu. Aku merasa kehidupan masa sekolah dasar ketika di kampung bersatu
dengan kehidupan masa kuliahku yang hidup kost di perkotaan. Aku juga kurang
mengerti apa yang kulakukan pada saat itu di gedung itu, aku bingung. Yang pasti
aku melihat banyak teman-temanku disana. Aku dengan beberapa teman-teman
kuliahku pergi ke gedung PGI (Persatuan Gereja Indonesia) untuk sebuah tugas
kuliah, kami pergi dengan mengenderai sepeda motor.
Sepulangnya dari
tempat tersebut, ayah saya berkata, “ngapain kamu naik motor ke BCA?” maksudnya
Bank BCA. “Aku kesana untuk tugas pak, dan kami juga naik motor dengan tertib. Kami
tidak ugal-ugalan” jawabku dengan keras. “iya, tapi kami orangtuamu malu,
ketika orang bertanya kamu kerja dimana, kami menjawab di BCA, kami malu,
padahal kau seorang calon pendeta ”. Wah, sepertinya ini semakin tidak
nyambung. Aku hanya terdiam mendengar perkataan ayahku, tak kubantah
sedikitpun, hatiku hanya sedikit teriris, namun harus berusaha kupahami
maksud-maksudnya itu. Satu persatu teman-teman kuliahku lewat dari hadapanku,
hanya ada satu orang yang menyapaku diantara mereka semua, bahkan orang yang
sangat kurindukan selama ini, hanya melihatku dengan pandangan mata yang tidak
bersahabat, tak ada goresan senyum hangat menyikut dipipinya. Hanya diam, ya
hanya itu yang bisa kulakukan sembari memperhatikan mereka berlalu begitu saja
dari pandanganku.
“tring… tring….” Hpku
bergetar. Ini sungguh mengganggu. Aku terbangun dari tidurku. Pukul 04.00 Wib,
ini bukan hanya mengganggu tidurku, tapi menganggu hatiku, sungguh mimpi itu mengganggu
hatiku dan pikiranku. Apa yang akan terjadi pikirku? Gelisah kini melandaku,
gelisah yang kutuangkan dalam tantangan #NulisRandom2015 @nulisbuku yang
memang dimulai hari ini, senin 1 Juni 2015. Yuk, tuangkan segala perasaan yang kamu
rasakan hari ini dalam tantangan #NulisRandom2015 @nulisbuku
Rabu, 20 Mei 2015
Sebuah Puisi untuk rasa malas yang sering mengunjungiku
Aku malas
Aku malas
Malas berbuat apa saja
Malas melakukan apa saja
Aku malas
Karenanya aku memilih kasur sebagai sandaran
Untuk menata berbagai impian di khayalan
Karenanya aku tak memperoleh apa-apa
Tak pernah menjadi apa-apa
Aku malas
Mengantuk adalah aktivitas andalanku
Melakukan yang tak berguna adalah sasaranku
Aku malas
“Ini yang terakhir ” selalu jadi komitmenku
“Mulai besok akan begini” selalu jadi harapanku
Aku malas
Komitmen tinggal kenangan
Perubahan tinggal khayalan
Aku malas
Aku marah karena malas
Aku gila karena malas
Aku malas
Lagi aku malas
Aku malas
Kini aku terbiasa malas
Kini ini kebiasaan baru
Aku malas ini sudah kebiasaan
Aku sudah candu malas
Aku malas
Meninggalkan kebiasaan ini
Sebab aku diatur kebiasaan
Aku malas
Aku benci pada diriku
Aku maki diriku sendiri
Aku malas
Sedang apa aku ini?
Sedang malaskah aku ini?
Aku malas
Sayang sekali aku waras
Sayang sekali aku bernafas
Senin, 11 Mei 2015
05 November 2012
05 November 2012
Hari ini hari
senin, semalam hari minggu, saya pergi ke GKPI Pamen. Saya sendirian, mengantuk
di angkot sendiri. Ada yang tertawa melihat rasa ngantuk saya. Malu tapi juga
tidak bisa menahan ngantuk. Rasa ngantuk itu ternyata jauh lebih hebat untuk
mengalahkan rasa malu. Hari ini mulai kuliah lagi setelah 2 hari tidak mengkuti
pelajaran dan tidak belajar. Rasanya tetap malas, tidak ada perubahan. Kuliah,
kemudian pulang kuliah sermon. Malam ini hujan deras. Turut mewarnai kesepian
di malam ini. Hampir setiap hari hujan. Mungkin memang keadaan memang sedang
musim hujan. Saya tidak tahu betul.
Saya tidak tahu mau
menulis apa, kenapa saya membuka laptop ini. kemudian mulai bercerita,
seakan-akan saya akan mengarang cerita tentang diri saya. Selalu hanya bisa
bertanya “sampai kapan aku begini?, kapan akan berubah? Kapan akan rajin
belajar? Kapan akan menjadi ramah? Kapan akan menjadi seseorang yang dapat
diandalkan? Kapan? Kapan? Dan kapan?” tidak ada jawaban yang pasti. Selalu
mengatakan besok, mengatakan belum terlambat, masih ada waktu, hari-hari masih
panjang. Tapi saya tidak tahu dimana hari yang panjang itu.
Hujannya semakin
deras. Suara air hujan yang jatuh pada seng-seng itu begitu kuat. sangat kuat. Sehingga
tak ada suara apa pun yang terdengar di telinga saya, selain suara air hujan
yang jatuh pada seng itu. Baru saja aku mengingatnya, aku punya tugas yang
belum kulaksanakan, padahal pekerjaan itu harus segera dilakukan. Bagaimana
ini, jika besok mereka bertanya lagi? Apa lagi alasanku? Tidak terpercaya.
Aku seorang yang
munafik, aku berdoa, aku memanggil nama Tuhan, aku berseru, aku menyesal
mengaku dosa, aku minta ampun, aku memuji Tuhan, aku mengagumi Tuhan, aku
memanggil nama-Nya, aku bilang aku mencintai-Nya, tapi aku tidak melakukan apa
yang menjadi kehendak-Nya. Aku malas belajar, aku tidak tahu diri, orangtuaku
cape mencari uang tapi aku menghambur-hamburkannya begitu saja. Aku tidak
berpikir, aku malas, aku tidur, mengantuk di kelas, bersenang-senang,
berkhayal, curhat, menulis angan-angan yang besar dan omong kosong, banyak
bicara sedikit bekerja. Tidak tahu diri. Tidak sadar diri.
Orang Budha, yang
tidak mengenalMu itu, ternyata jauh lebih baik dari pada aku, dia jauh lebih
mencarimu dan berusaha mengenalmu, padahal dia sebenar-Nya tidak mengenalMu dan
tidak mencari-Mu. Ada yang mengenal-Mu, tapi tidak betul-betul mengenal-Mu,
hanya omong kosong, kenyataannya tidak melakukan kehendak-Mu.
Aku tidak ingin
minta ampun, karena aku takut akan terus minta ampun, minta ampun karena tidak
melakukan yang Engkau mau, tapi aku tetap melakukan yang tidak Engkau mau itu.
Aku takut, minta ampun kepadaMu, Tuhan yang tidak betul-betul kukenal, aku
takut minta ampun padaMu Tuhan yang tidak kutahu. Apakah yang harus kulakukan?
Aku takut berdoa, tapi tidak kulakukan apa yang telah kudoakan kepadaMu. Aku
takut, takut,
Mataku mulai
ngantuk, haruskah aku berdoa? Aku bingung, apa lah kubuat nama data ini.
haruskah ini disimpan? Biar dibaca orang. Begitukah???? Sudah jam 23.01. lok
tidak tidur besok akan ngantuk. Dah lewat lagi 1 menit. Tidur, bangun lalu
begitu saja. Aku pun mulai takut memanggil nama-Mu. Kau ampunikah aku???????
Gambar meja ini
pun, sepertinya semakin seram, padahal hanya gambar boneka barbie. Layakkah aku
memanggil-Mu kembali TUHANKU??? Tidak segampang yang dipikirkan dan yang
dibayangkan. Manusia bodoh. Aku tidur. Aku menyimpan data. Dengan nama yang
tidak dikenal. Save.
Palipi di hari itu
Di
Minggu pagi yang cukup cerah itu kami tiba di pulau Samosir, tepatnya di
Palipi. Sesuai dengan schedule time yang sudah disiapkan oleh sie.acara,
setibanya di tempat tujuan tercinta ini kami akan Ibadah Minggu (Opening
Ceremoni), demikian kata-kata yang tertulis dalam schedule time. Maka segala
persiapan pribadi dilakukan dengan begitu buru-buru. Segera setelah meletakkan
barang dan persiapan pribadi dalam waktu yang begitu singkat itu, semua peserta
menuju aula. Aula? Sepertinya tidak sih, kayak kantin-kantin gitu ah. Tapi ya
sudah lah. Para peserta duduk di tikar. Terlihat song leader sudah berdiri
dengan begitu rapi di bagian depan, pakaiannya begitu resmi, jas untuk pria
tambah blejer untuk kaum wanitanya. Rapi sekali, namun disayangkan pusat perhatian
orang begitu hebat jadinya kepada mereka, bukannya kepada liturgisnya, pakaian
liturgisnya hanya kemeja biasa tak pakai embel-embel.
“Jemaat
kami undang untuk bangkit berdiri” terdengar suara liturgis memberi ajakan.
Sedikit
membuat saya terkejut, sebab perhatian saya memang kian kesana-kemari mengamati
segala situasi.
“Hahahaha”
tawaku geli dalam hati.
Nampaknya
semua peserta stres, semua wajah terlihat murung dan mutung. Sebenarnya sih
saya tidak tahu betul alasan yang membuat mereka murung, kemungkinan ada
beberapa hal, pertama, hmmm, tempatnya tidak seperti yang dibayangkan atau
tidak sesuai harapan. Kedua, mungkin juga karena begitu cape setelah menempuh
perjalanan yang cukup panjang, sekitar 8 jam gitu lah jadi ga semangat. Dan
yang ketiga, gabungan dari keduanya, klop deh stresnya.
“Nats
renungan untuk pagi yang indah ini, di tepi pantai yang manis ini terambil dari
Matius 21: 14-22” terdengar kembali suara dari depan, kali ini dari
pengkhotbah.
Ops,
saking sibuknya saya memperhatikan semua peserta, saya malah sudah tidak tahu
perjalanan acara, ternyata sudah khotbah.
“Ah,
roa pe” terdengar celoteh salah seorang peserta dari belakang, persisnya suara
seorang pria.
“Hahahaha”
tawa geliku kembali hadir mendengar celoteh kejujuran itu. Bagiku dia jujur,
sebab pantainya bagiku juga tidak manis.
“Buka
facebook akh” pikirku sambil membuka kotak pensil.
Saya
memang sudah terbiasa dengan kotak pensil, walaupun sudah mahasiswa. Isinya
sudah pasti seperangkat alat tulis-menulis namun tidak pernah ketinggalan
seperangkat alat komunikasi juga yaitu handphone. Kali ini saya melanggar
rambu-rambu peserta yang tertera pada halaman 5, tepatnya no. 5 juga, dengan
bunyi demikian “Setiap peserta retreat diharuskan menjaga ketertiban setiap
kegiatan dengan tidak mengobrol, tidur, Fb-an, merokok, keluar masuk ruangan,
dan telfonan”.
“Wow,
sudah kuduga” gumamku dalam hati.
Banyak
peserta yang sudah ON dalam dunia maya, dan semua peserta mengomel dalam dunia
maya lewat status fbnya. Segera kututup fbku mengingat biaya yang mahal untuk
itu. Terkadang memang tak bisa menuntut begitu saja, ribut sesuka hati
mengeluarkan uneg-uneg, semua harus sesuai dengan situasi dan kondisi, semua
ada masanya, pas evaluasi kan bisa keluarin uneg-uneg. Tapi kadang-kadang gada
keberanian juga, akhirnya hanya tersalur pada dunia maya. Inilah sepenggal
cerita pagi di 22 Mei 2011. Palipi di hari itu.
Minggu, 10 Mei 2015
Percaya Diri
Sore
itu, kita duduk manis di teras rumah sambil nikmatin semangkok mie ayam. Habis
itu kita cerita-cerita, kita tu rame, cowok-cewek pada ngumpul di rumah itu.
Perlahan-lahan masing-masing cowok ngobrol ma satu cewek, jadi ngobrolnya
pasang-pasangan gitu, kecuali gue ni. Kasihan. Eh, tiba-tiba ada seorang cowok
yang nyamperin gue. Senang deh, kaga jadi jaga nyamuk. Cerita demi cerita, tu
cowok liatin tangan gue melulu, posisi tangan gue ni pas banget di pangkuan
gue. Habis itu gue makin ga pede gitu deh, udah dari tadi juga gue sebenarnya
kaga pede, apalagi diliatin begitu.
“dek…”
si abang ngomong ni
“iya
bang” gue ngejawab
“pasti
kau ga pede kan?”
“hi…
J”
senyum sial ni. Shit, gue ketahuan, pikir gue kesal.
“soalnya
dari tadi abang liat tangan kamu ga bisa diam, gerak-gerak terus” si abang lagi
ni.
“hi….
:) ” Kali kedua gue senyum sial ni dibuat si abang.
Betul
sekali, tangan gue sedari tadi kaga bisa diam sih, rusak suasana aja. Dan betul
dua kali, tadi kan sekali, gue emang ga pede. Ni kejadian waktu gue masih muda
dulu, waktu SMA, dan kejadian ini cukup melekat di hati dan pikiran gue sampai
saat ini.
Jujur
dan terus terang, gue memang bukan orang yang pede. Apalagi pede banget, pede
abis, pede gila, dan pede-pede lainnya, ga banget deh. Gue itu orangnya kuper
(Kurang percaya diri, kurang pergaulan dikit-dikit), gue mah gitu orangnya.
Pada akhirnya gue sering bergumul ni soal kurangnya ke-pede-an gue ini. Gue
selalu mikir gimana ya, biar bisa pede kayak orang-orang??? Sedang mikir ni…
Pede
ni bahasa gaulnya percaya diri, confidence
. Secara etimologi kata percaya diri dapat diartikan demikian, “percaya”
berarti yakin, believe, trust, meyakini, mengakui bahwa sesuatu
benar adanya. Sementara “diri” berarti orang seorang (terpisah dari lain);
badan, kelas kata ini adalah kata benda yang menyatakan diri sendiri, , self, my self. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa percaya diri itu adalah meyakini atau yakin pada diri
sendiri, mengakui bahwa dirinya sendiri itu benar adanya atau punya eksistensi.
Begitu kira-kira ya sederhananya ya. Nah, berarti gue jarang ni meyakini
keberadaan gue sendiri, buset dah. Menurut para ahli ni, Lauster misalnya
mengatakan bahwa kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau keyakinan atas
kemampuan diri sendiri, sehingga dalam tindakan-tindakannya tidak terlalu
cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan tanggung
jawab atas perbuatannya, sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki
dorongan prestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri.
Thantaway dalam Kamus istilah Bimbingan dan Konseling mengatakan, percaya diri
adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan
kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan. Orang yang
tidak percaya diri memiliki konsep diri negatif, kurang percaya pada
kemampuannya, karena itu sering menutup diri. Lanjut tentang gue…
Gue
emang dah selalu berusaha tuk bisa pede gitu, tapi ada aja yang gagal. Seringan
gagal sih. Gue jadi penakut, kurang pede emang sangat menurunkan keberanian,
untung ga nurunin berat badan, bisa kurus kering gue. Apalagi kalau nyanyi ni,
astaga, gue ga pede, kecuali rame-rame, gue kuat-kuatin aja suara gue. Gue sampe coba-coba nyanyi-nyanyi sendiri di
kamar mandi, di kamar, biar orang ga denger suara gue yang cempreng ni. Trus
gue coba buat video nyanyi berdua ma Demi Lovato lagunya “let it go” sambil
bikin-bikin ekspresi gitu. Dalam hati gue, masukin youtube ni, biar terkenal.
Eh, salah, maksud gue, gue tu uji keberanian dan kepedean. Habis rekaman, gue
tonton tu video, alamak, minta ampun dah, ga pede banget masukinnya. Gue emang
ga bisa nyanyi dan jarang nyanyi. Apalagi tampil di depan banyak orang,
tiba-tiba suara gue ga bisa keluar saking ga pedenya. Jadi lipsing deh, itu pun
tak pede. Itu kalau nyanyi. Beda kalau nari, makin gue ga pede, soalnya badan
gue kayak kayu-kayu. Kaku bingit. Lu, liat gue nari : “mendingan liat topeng
monyet dah” ni yang keluar dari mulut lu ntar. Kalau lu liat profil gue ni, lu
bakal tau, gue jurusan teologia, paling ga, gue itu public speaking ya, seseorang yang bisa, bahkan udah terbiasa
berbicara di hadapan orang banyak, di mimbar lagi. Ya, setelah dipikir-pikir
kalau gue khotbah di gereja atau dimana pun itu, perasaan gue baik-baik aja,
gue ngerasa gue ga kaku, dan gue juga ga terlalu serius, gue tu enjoy, dan
mengalir begitu saja. Kekuatan Roh kali ya. I
don’t Know. Lu bisa tanya ma teman gue yang pernah satu tempat praktek ma
gue waktu kuliah dulu, bahkan gue bisa dibilang ga kalah lah ma yang lain-lain
yang sudah terbiasa, hasil praktek gue selalu A. Ni dah kepedean ya?? Ga, ni
serius, ya gue selalu dapat nilai bagus waktu praktek. Jemaat juga selalu kasi
pujian ma Tuhan, kadang-kadang ma gue. Selain pede tampil di hadapan para
jemaat, gue juga pede main drama, baik itu drama romance, cie.., horror,
komedi, dll. Gue ga kalah deh ma artis-artis. Yang ini makin gatau kekuatan roh
mana yang datang. Jadi begini, Faktor
yang mempengaruhi rasa percaya diri pada seseorang menurut Thursan Hakim
sebagai berikut: Lingkungan keluarga, Keadaan lingkungan sangat mempengaruhi
pembentukan awal rasa percaya diri pada seseorang. Rasa percaya diri merupakan
suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang ada pada dirinya
dan diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari. Pendidikan Formal, Sekolah bisa
dikatakan sebagai lingkungan kedua bagi anak, dimana sekolah merupakan
lingkungan yang paling berperan bagi anak setelah lingkungan keluarga dirumah.
Sekolah memberikan ruang pada anak untuk mengekspresikan rasa percaya dirinya
terhadap teman-teman sebayanya. Dan Pendidikan non formal, Salah satu modal
utama untuk bisa menjadi seseorang dengan kepribadian yang penuh rasa percaya
diri adalah memiliki kelebihan tertentu yang berarti bagi diri sendiri dan
orang lain. Rasa percaya diri akan menjadi lebih mantap jika seseorang memiliki
suatu kelebihan yang membuat orang lain merasa kagum. Kemampuan atau
keterampilan dalam bidang tertentu bisa didapatkan melalui pendidikan non
formal. Secara formal dapat digambarkan bahwa rasa percaya diri merupakan
gabungan dari pandangan positif diri sendiri dan rasa aman. Selain itu, menurut
Loekmono rasa percaya diri tidak terbentuk dengan sendirinya melainkan
berkaitan dengan seluruh kepribadian seseorang secara keseluruhan. Kepercayaan
diri juga membutuhkan hubungan dengan orang lain di sekitar lingkunganya dan
semuanya itu mempengaruhi pertumbuhan rasa percaya diri. Dalam hal ini dapat
dikatakan kepercayaan diri muncul dari individu sendiri karena adanya rasa
aman, penerimaan akan keadaan diri dan adanya hubungan dengan orang lain serta
lingkungan yang mampu memberikan penilaian dan dukungan, sehingga mempengaruhi
pertumbuhan rasa percaya diri. Dukungan yang ada serta penerimaan dari keluarga
dapat pula mempengaruhi rasa percaya diri dalam hal ini adalah remaja sebagai anggota
keluarga. Orangtua mampu memberikan nasehat, pengarahan, informasi kepada
remaja dalam kaitannya dengan rasa percaya diri.
Sejauh
ini, dengan memperhatikan sejarah perjalanan hidup gue selama 23 tahun di
dunia, setelah gue telusuri satu per satu, tiap babak hidup gue, gue singgahin,
gue lihat bahwa faktor terbesar yang mempengaruhi kekurangan pede gue ini ada
pada faktor pertumbuhan gue dalam keluarga. Yah, ceritanya begitu panjang. Gue
lebih lama sih tinggal ma ortu daripada tinggal sendiri. Hehe. Tapi itu
bukanlah hal yang patut untuk disalahkan, atau diapa-apain, gue hanya perlu
mendaur ulang diri sendiri. Percaya diri adalah bagian yang sangat positif dan
patut untuk dibangun dalam diri setiap orang.
Cukup
sekian, gue ngantuk sangat sudah, marpala-pala
bikin ni postingan, postingan ini bagian usaha untuk membangun rasa percaya
diri, Selamat membangun rasa percaya diri, tapi ini bukan bagian dari 33 seri
selamat karya Amang Andar Ismail,
Selamat
malam,..
Langganan:
Komentar (Atom)